.Oleh Ummi Nissa
Pegiat Literasi
Idul Fitri kerap dimaknai sebagai momentum kemenangan setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan. Kemenangan ini sering dipahami secara personal, berhasil menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu. Namun sejatinya, Ramadan tidak hanya menjadi bulan latihan spiritual individual, melainkan juga bulan perjuangan bagi umat Islam secara kolektif.
Sejarah mencatat bahwa Ramadan adalah bulan yang sarat dengan spirit perjuangan. Ia bukan sekadar ruang kontemplasi, tetapi juga momentum kebangkitan. Oleh karena itu, kemenangan yang dirayakan pada Idul Fitri semestinya tidak berhenti pada dimensi ritual, melainkan berlanjut pada kesadaran akan tugas besar umat dalam mewujudkan kehidupan Islam secara menyeluruh.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa perjuangan umat Islam untuk mengembalikan kehidupan Islam belum mencapai titik kemenangan hakiki. Terbukti, umat masih menghadapi berbagai tantangan besar, baik dari dalam maupun luar Islam. Fragmentasi politik menjadi salah satu persoalan utama. Umat Islam terpecah dalam banyak negara, dengan kepentingan nasional masing-masing yang sering kali tidak sejalan dengan kepentingan umat secara keseluruhan. Bahkan, dalam beberapa kasus, terdapat negara-negara yang menjalin aliansi strategis dengan kekuatan global yang tidak selalu berpihak pada kepentingan umat Islam.
Fenomena geopolitik mutakhir memperlihatkan, bagaimana dinamika tersebut terus berlangsung. Kondisi ini pula, mencerminkan posisi umat yang belum solid secara politik. Hal ini menegaskan bahwa perjuangan umat masih panjang dan membutuhkan upaya yang lebih besar untuk mencapai kemenangan yang hakiki.
Dari sisi kesadaran, Ramadan belum sepenuhnya dimaknai sebagai bulan perjuangan ideologis. Sebagian besar umat masih memahami perjuangan dalam kerangka praktis-pragmatis, seperti peningkatan amal ibadah individu atau kegiatan sosial semata. Sementara itu, kesadaran ideologis yang memandang Islam sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh, belum menjadi arus utama.
Padahal, Allah SWT telah memberikan predikat kepada umat Islam sebagai khoiru ummah (umat terbaik). Namun dalam realitas politik global, posisi umat Islam justru cenderung lemah. Ketimpangan ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam bagaimana umat memaknai dan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di sisi lain, potensi umat Islam sesungguhnya sangat besar. Dari segi sumber daya manusia, jumlah umat Islam mencapai miliaran. Dari sisi sumber daya alam, banyak wilayah mayoritas Muslim memiliki kekayaan yang melimpah. Secara geopolitik dan geostrategis, posisi dunia Islam sangat penting dalam percaturan global. Belum lagi Islam sebagai ideologi yang memiliki seperangkat aturan komprehensif untuk mengatur kehidupan.
Potensi besar ini, jika tidak dikelola dengan kesadaran ideologis, akan tetap menjadi potensi yang terfragmentasi. Oleh karena itu, upaya mengembalikan kehidupan Islam membutuhkan kerja terorganisir yang serius, termasuk melalui peran partai politik Islam yang berlandaskan ideologi secara sahih, bukan sekadar pragmatisme kekuasaan.
Dalam konteks ini, dakwah memiliki peran strategis. Prioritas dakwah tidak hanya pada aspek moral dan spiritual, tetapi juga harus mengarah pada pembangunan kesadaran politik ideologis umat. Islam perlu dipahami dan diperjuangkan sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh (kafah), bukan parsial.
Lebih jauh, kesadaran akan pentingnya persatuan umat harus terus dibangun. Persatuan yang dimaksud bukan sekadar simbolik, tetapi persatuan hakiki yang memiliki visi, arah, dan kepemimpinan yang jelas. Gagasan tentang pentingnya institusi yang mempersatukan umat secara global menjadi diskursus yang terus mengemuka dan dianggap sebagai bagian dari solusi atas fragmentasi yang ada.
Namun demikian, perjuangan menuju ke sana menuntut keseriusan, keikhlasan, dan kejelasan arah. Umat perlu membedakan antara gerakan yang benar-benar berjuang untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, dengan gerakan yang justru menjauhkan umat dari tujuan kebangkitan yang hakiki.
Akhirnya, Ramadan dan Idul Fitri semestinya menjadi titik awal (starting point) untuk konsolidasi kekuatan umat. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ukhuwah, menyatukan visi, serta memobilisasi potensi yang dimiliki umat Islam.
Kemenangan sejati bukan hanya tentang kembali pada fitrah secara individu, tetapi juga tentang bangkitnya umat dalam satu kesatuan yang kuat, mandiri, dan berdaulat. Dari sinilah Idul Fitri menemukan makna yang lebih dalam bukan sekadar perayaan, tetapi komitmen untuk melanjutkan perjuangan menuju kemenangan hakiki umat Islam.
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment