Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak Gantung Diri, Bukti Pendidikan Rapuh

Tuesday, March 03, 2026 | Tuesday, March 03, 2026 WIB

 


Oleh: Inang  (Pegiat Literasi)

 

Dunia pendidikan makin rapuh senantiasa dikejutkan dengan kejadian tradis kematian seorang gadis kecil YBR yang berusia 10 tahun di nusa tenggara timur (NTT) pada 16 Februari 2026 silam, ini bukanlah sebuah kejadian atau kabar duka yang biasa, akan tetapi ini adalah gambaran potret gelapnya sistem pendidikan yang hari ini. Harusnya seorang anak yang sibuk belajar, bermain dan menata mimpinya, justru malah mengakhiri hidupnya karna orang tua yang tak mampu untuk membelikan alat-alat dalam pembejaran. Kompasiana 28/02/26 

 

Namun hal ini berhenti karna tekanan hidup yang penuh keterbatasan dan sama sekali tidak di sentuh oleh bantuan. Latar belakang kehidupan si anak dimana dia hidup bersama ibunya yang sekaligus sebagai ayah nya, ayahnya yang telah meninggal nya sejak dalam kandungan , ibu yang berkerja banting keras untuk menghidupkan 5 anak termaksud si korban YBR. Untuk membantu kondisi finansial keluarga, korban diminta tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun. Mereka bergantung pada hasil kebun untuk makan dengan menu yang paling sering adalah pisang dan ubi. Korban merupakan anak bungsu yang sehari-hari membantu neneknya berjualan sayur, ubi, dan kayu bakar. Gudang opini Ahad,01/03/26 

 

Sebelum terjadi tragedi itu YBR dan siswa lainnya di sebut berkali-kali belum membayar tagihan uang sekolah sebesar Rp. 1,2 juta per tahun. Mungkin angka yang disebutkan kecil bagi sebagian kalangan, tapi tidak dengan kalangan bawah, bagi mereka ini adalah beban yang banyak dirasakan oleh masyarakat di berbagai pelosok negeri.Tekanan Ekonomi yang menjerit, ditambah lagi tuntutan sekolah, Akibat dari dampak yang terjadi ini perlahan berubah menjadi tekanan psikologis yang tak bertanggung jawab untuk seorang anak yang ber usia 10 tahun. belum lagi faktor lingkungan yang sangat rusak. Akibat dari tak mampu menahan beban hidup anak mengakhiri hidupnya sendiri. 

 

Padahal, Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah barang-barang tambang terkenal dengan wilayah nya yang subur. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa di negara yang kaya justru rakyat nya hidup dalam kemiskinan? 

Akibat gambaran sistem saat ini lahirlah generasi yang pemikirannya pendek dan mudah rapuh, apalagi keimanan nya lemah. Padahal kita telah mengetahui bahwasanya mengakhiri hidup atau bunuh diri adalah suatu perbuatan yang Allah SWT sangat dibenci. Allah menjanjikan siksa neraka bagi mereka sebagai firman Allah SWT. 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Barang siapa berbuat demikian dengan melampaui batas dan berbuat zalim, kelak Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa 29–30).

 

Mengembalikan anak dalam pelukan Islam, Islam adalah agama yang paripurna dalam mengurus umatnya, termasuk dalam menuntaskan kemiskinan. Sebagaimana kisah seorang janda miskin yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya agar tertidur sambil menunggu makanan. Khalifah Umar bin Khattab yang sedang berpatroli mengetahui hal tersebut, lalu memikul sendiri sekarung gandum dari baitulmal untuk diberikan kepada janda tersebut. Inilah gambaran besarnya tanggung jawab seorang pemimpin yang takut dan taat kepada Allah Swt. 

 

Khalifah Umar menangis ketika diangkat menjadi pemimpin karena khawatir tidak mampu menjalankan amanah dengan baik. Bahkan diriwayatkan bahwa ia merasa bertanggung jawab atas seekor keledai yang terperosok ke dalam jurang. Lantas, bagaimana dengan pemimpin hari ini yang menyaksikan anak mengakhiri hidup akibat kelalaian negara? Peristiwa ini menjadi bukti gagalnya negara dalam menjalankan perannya sebagai pelayan rakyat.

Dalam Islam, sandang, pangan, dan papan merupakan tanggung jawab negara. Negara wajib mengurus umat yang tidak mampu dan memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Khalifah Umar Ra. Bahkan menolak bantuan pengawalnya, Aslam, untuk memikul gandum seraya berkata, “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?” 

 

Sungguh besar pengorbanan pemimpin dalam Islam yang mendedikasikan dirinya untuk kesejahteraan umat. Pemimpin yang menjadi teladan dan pelindung rakyatnya. Tidakkah kita merindukan pemimpin seperti itu, yakni seorang pemimpin yang mampu menjadi pengurus dan perisai bagi rakyatnya?. Negara yang memiliki visi dan misi menyejahterakan rakyat tidak akan terjadi kasus bunuh diri seperti yang dialami YBR. Keluarganya pun akan terjamin kebutuhannya karena dipenuhi oleh negara Khilafah. 


Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96: 

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan, maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” 

Semoga kita menjadi bagian dari orang yang memperjuangkan syariat dan Khilafah. Semoga Khilafah tegak kembali di muka bumi ini. Amiin ya Rabbal ‘  Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update