Oleh: Rumaisha
Pejuang Literasi
Tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, belum juga menemukan titik akhir. Perempuan dan anak-anak kembali menjadi korban paling rentan dalam agresi yang terus berlangsung.
Laporan investigasi Al Jazeera dalam program The Rest of the Story mengungkap setidaknya 2.842 warga Palestina dinyatakan hilang sejak Oktober 2023. Dugaan penggunaan senjata termal dan termobarik oleh Israel semakin memperparah situasi. Senjata jenis ini dikenal memiliki daya hancur luar biasa dan berpotensi menyebabkan tubuh korban hancur tanpa jejak yang jelas.
Di tengah kabar gencatan senjata, serangan tetap berlangsung. Korban terus berjatuhan. Anak-anak kehilangan orang tua. Para ibu kehilangan buah hati. Rumah sakit lumpuh. Infrastruktur hancur. Dunia menyaksikan ada pelanggaran HAM di sana, namun belum mampu menghentikan penderitaan tersebut.
Luka Kemanusiaan yang Terbuka
Jika benar penggunaan senjata dengan daya rusak masif itu terjadi, maka ini bukan sekadar konflik bersenjata biasa. Ini adalah persoalan kemanusiaan yang sangat serius. Serangan terhadap warga sipil, terlebih perempuan dan anak-anak, jelas bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional.
Ironisnya, meski pelanggaran tampak nyata di hadapan mata dunia, respons global masih terasa lemah dan terpecah. Resolusi demi resolusi seolah tak cukup kuat menghentikan agresi. Sementara itu, darah terus mengalir.
Pertanyaannya: sampai kapan dunia membiarkan ini terjadi?
Umat Butuh Kepemimpinan Sejati yang Melindungi
Kaum muslimin di berbagai negeri merasakan luka yang sama. Palestina bukan sekadar isu geopolitik, tetapi juga persoalan ukhuwah dan kemanusiaan sekaligus bukti kekuatan akidah. Ketika satu bagian tubuh terluka, bagian lain turut merasakan sakitnya.
Namun, respons yang dibutuhkan bukan sekadar emosi atau kemarahan sesaat. Umat membutuhkan kepemimpinan global yang kuat, adil, sejati dan memiliki keberanian politik untuk menghentikan kezaliman. Kepemimpinan yang tidak tunduk pada kepentingan kekuatan besar di bawah komando AS, tetapi berpihak pada nilai keadilan dan perlindungan jiwa manusia. Kepemimpinan tersebut adalah khilafah Islamiyah.
Negara khilafah harus kuat, mandiri dan tidak bergantung pada negara-negara kafir penjajah. Seorang khalifah akan mengerahkan pasukannya untuk melakukan jihad, menolong saudara-saudaranya yang ada di Gaza, Palestina.
Solidaritas dunia Islam juga perlu dibangun secara nyata melalui tekanan diplomatik, kekuatan ekonomi, bantuan kemanusiaan, serta konsolidasi politik yang serius. Tanpa persatuan dan arah yang jelas, suara umat hanya akan menjadi gema yang mudah diabaikan.
Khilafah, Kepemimpinan yang Mendunia
Perjuangan membela Palestina harus ditempatkan dalam kerangka yang bermartabat dan terukur. Umat perlu memahami ajaran Islam tentang pembelaan terhadap yang tertindas, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moral.
Oleh karena itu, kesatuan visi dan kepemimpinan yang kuat di dunia Islam (khilafah) menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa itu, tragedi seperti di Gaza akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda. Kenapa harus khilafah? Karena khilafah adalah satu-satunya sistem yang difardukan oleh Allah Swt. dan diterapkan oleh Rasul-Nya serta Khulafaur Rasyidin, sebuah pemerintahan yang berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan secara bersih dan murni.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment