Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengapa Umat Islam Terus Menderita?

Friday, February 06, 2026 | Friday, February 06, 2026 WIB



Oleh : Sri Nawangsih

Ibu Rumah Tangga


Penderitaan umat Islam yang terus berulang di berbagai penjuru dunia bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Gaza, Sudan, Xinjiang, India, Rohingya, dan banyak wilayah lain menjadi saksi bahwa umat ini hidup dalam kondisi terzalimi. Padahal jumlah kaum Muslim mencapai lebih dari dua miliar, memiliki kekayaan alam melimpah, posisi geografis strategis, serta kekuatan militer yang besar jika disatukan. Namun semua potensi itu tidak menjelma menjadi kekuatan nyata.


Kelemahan umat Islam hari ini bukan disebabkan kurangnya sumber daya, melainkan hilangnya kepemimpinan pemersatu. Sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah pada tahun 1924, umat kehilangan pelindung yang selama berabad-abad menjaga kehormatan dan keselamatan mereka. Setelah itu, dunia Islam terpecah menjadi puluhan negara-bangsa yang saling berjarak, bahkan saling bermusuhan.

Kondisi ini membuka jalan bagi negara-negara imperialis untuk menguasai dan menjarah negeri-negeri Muslim. Kekayaan alam dikuasai asing, sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Penolakan dan perlawanan umat dibalas dengan agresi militer, pembantaian massal, dan perang berkepanjangan yang dikemas dengan dalih demokrasi dan pemberantasan terorisme.


Di saat yang sama, umat juga dibebani oleh keberadaan para penguasa ruwaybidhah pemimpin yang tidak menjadikan Islam sebagai pedoman. Mereka justru bersekutu dengan penjajah, mengkhianati Palestina, membiarkan genosida, serta menutup mata atas penindasan terhadap kaum Muslim di berbagai wilayah. Amanah kepemimpinan diabaikan, sementara kepentingan musuh dijaga.


Dengan demikian, jelas bahwa penderitaan umat bukanlah tanpa sebab. Akar masalahnya adalah ketiadaan Khilafah sebagai perisai umat. Selama perisai itu tidak kembali, luka umat akan terus terbuka. Janji pertolongan Allah pasti datang bagi mereka yang menolong agama-Nya. Pertanyaannya kini bukan apakah kebangkitan itu mungkin, melainkan apakah umat telah siap menyongsongnya.


WalLâhu a’lam. []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update