Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Malapetaka Tanpa Sistem Islam

Wednesday, February 25, 2026 | Wednesday, February 25, 2026 WIB
Oleh; Sarinah.


Saat ini Islam hanya dianggap sebagai agama ritual belaka. Padahal nyatanya, Islam adalah sebuah sistem hidup yang menjadikan manusia bermartabat mulia. Jika Islam dijauhkan dari individu masyarakat maupun negara, maka tentu saja ini menjadi sebuah petak.

Baru-baru ini, publik digemparkan dengan fakta yang miris. Seorang siswa berinisial AT (14 tahun) tewas lantaran dianiaya oknum Brimob Polda Maluku, Bripda MS saat bertugas di Kota Tual. Media digegerkan dengan meninggalnya AT yang dianiaya mengunakan helm hingga tewas. Peristiwa itu terjadi di sekitar kampus Uningrat, kelurahan Ketsolbak, kota Tual pada kamis 19 februari 2026.

Sekenario berawal dari AK (15 tahun) kakak korban bersama korban AT 14 tahun mengendarai motor, membawa motor masing-masing menuju kawasan jalan RSUD Maren H. Noho Reunat dengan motor berbeda. Sementara itu, ada anggota Brimob yang sedang berpatroli mengejar anak-anak yang konvoi motor. AT dan NK tidak mengikuti konvoi tersebut. Keduanya jauh dari arak-arakan konvoi tersebut.

Bripda MS saat itu tengah standby di atas trotoar. Helm yang dikenakan di kepalanya dilepaskan, lalu memukul AT hingga jatuh dari motor dan mengakibatkan sikutnya patah. AT dievakuasi ke rumah sakit , sampai akhirnya dinyatakan meninggal. (detikSulsel, 22 februari 2026.)

Tragedi ini Sungguh memilukan. Lagi dan lagi berulang APK (Aparat Penegak Hukum) melakukan tindakan kekerasan hingga mengakibatkan nyawa terenggut. Seharusnya Aparat Penegak Hukum adalah lembaga yang menegakkan hukum demi melindungi kepentingan rakyat, bukan malah memberi contoh pelanggaran hukum.

Hal ini sangat disayangkan ketika onkum yang seharusnya memberikan contoh baik kepada rakyat, malah justru menjadi pelaku pelanggar hukum. Lantas siapa yang harusnya dicontoh ? Kepada siapa rakyat harus mengadu jika terjadi ketidak adilan atau bahkan penyimpangan hukum? Sungguh ini menjadi ironi yang terus mewarnai, menambah deretan kasus kriminal yang mengelilingi masyarakat.

Jika ditelusuri sungguh akan banyak dijumpai Kasus serupa, yakni Kekerasan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh oknum penegak hukum, dan sangat disayangkan jika itu tidak ditangani dengan serius. Faktanya kasus semacam ini terus berulang, seperti tidak ada efek jera bagi pelaku, sehingga menular menjangkiti para pelaku lain, sehingga kasus ini makin meluas.

Apakah benar penangan kasus semacam ini sudah efektif, menjerakan dan setidaknya apa benar sudah ditangani dengan serius? Itu tentu saja menjadi pertanyaan publik, yang harusnya benar-benar diperhatikan oleh pemerintah selaku lembaga penanggungjawab rakyat Indonesia.

Jika memang hukum itu ditegakkan dengan benar, memberikan efek jera pada pelaku tindak kriminal tentu saja kasus ini tidak akan meluas. Jika hukuman menjerakan diterapkan tentu saja pelaku lain tidak berani berbuat demikian. 

Beginilah hukum di negara ini, tumpul ke atas dan tajam kebawah. Ini sudah menjadi rahasia umum yang difahami umat. Selama hukum yang tegak adalah hukum yang bisa dinegosiasi maka para pemilik modal bisa terus melanggengkan kejahatannya. Inilah sistem saat ini, sistem yang tegak di atas negeri kita tercinta, yakni aturan hidup sekuler -kapitalisme.

Kapitalisme adalah pandangan hidup yang senantiasa berbuat berdasarkan materi (uang). Memisahkan agama dari kehidupan yang tolak ukur perbuatannya adalah atas dasar manfaat semata. Inilah yang akan terjadi jika manusia berbuat atas dasar hawa nafsu, kasus kriminal dan pelanggan norma hukum maupun norma agama jelas dipertaruhkan.

Selama sistem yang tegak adalah sekuler -kapitalisme, maka masyarakat tidak akan ada kemajuan. Malah justru akan makin merosot dan terbelakang. Menjadi budak hawa nafsu dan menuhankan uang. Inilah realitas yang akan terjadi. 

Maka sudah seharusnya umat bangkit menjadi pelopor yang mengubah segala arah pandangan hidup, menjadi pandangan hidup yang bermartabat nan mulia, yakni Islam sebagai sistem hidup yang mengatur kehidupan. 

 Hanya dengan idologi Islam masyarakat akan maju, dan lepas dari belenggu keterpurukan.Berbuat atas dasar meraih keridhaan Allah sang pencipta, bukan menjadi budak nafsu.

Hanya dengan Islam martabat manusia menjadi mulia, hal itu terbukti dari tegaknya Islam sebagai idologi bangsa Arab pada waktu itu, hingga meluas ke dua pertiga dunia, selama kurang lebih 14 abad. Jika kita melihat sejarah masa keemasan sistem Islam yang diterapkan, maka kita akan merasa bangga dan kagum, bahwasanya Islam pernah berjaya, Islam pernah menaklukkan dunia. Maka sudah seharusnya umat sadar dan ikut berjuang meraih kembali masa keemasan dimana Islam akan kembali menguasai dunia, dan mencampakkan hukum Sekuler -kapitalisme yang bhatil. Allahu a'lam bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update