Oleh Rahmawati Ayu Kartini
Pemerhati Sosial
Setelah bergabung dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza, Indonesia bersama 7 negara muslim lainnya seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Qatar kini satu kelompok dengan Israel yang juga menjadi salah satu anggotanya.
Presiden AS Donald Trump memperkenalkan "Dewan Perdamaian" atau Board of Peace sebagai tandingan Dewan Keamanan PBB yang ia nilai gagal. Awalnya, dewan ini dibentuk untuk gencatan senjata Gaza. Tapi akhirnya berkembang untuk mengawal proses transisi, stabilisasi, dan rekonstruksi Gaza pasca-konflik.
Pro kontra pun meluas, karena Gaza sebagai tujuan sentralnya malah tidak menjadi anggota BoP. Bahkan dewan eksekutifnya tidak ada satupun warga Palestina. Banyak pihak berpendapat ini adalah pengkhianatan terhadap umat Islam di Palestina dan menyarankan untuk keluar dari BoP tersebut.
Apalagi dana yang dikeluarkan untuk menjadi anggota BoP adalah 17 Triliun yang menurut Dino Patti Djalal setara dengan pajak 2 juta rakyat Indonesia (tribunnews.com, 8/2/2026). Tentu ini sebuah pemborosan di tengah efisiensi anggaran dan kesulitan hidup rakyat.
Dewan Perdamaian atau Penjajahan?
Sudah jelas, dari berbagai video yang beredar di sosial media, rakyat Gaza sendiri secara mentah-mentah menolak BoP ini. BoP ini tanpa persetujuan warga Gaza, apa bukan karena mereka tidak bisa menundukkan Gaza secara militer, akhirnya mencari cara lain untuk bisa menguasai Gaza?
Sudah menjadi metode Amerika Serikat sebagai pendukung setia Israel dan gembong kapitalisme, bahwa penjajahan adalah metode mereka untuk meluaskan hegemoninya. Mereka tidak mungkin akan membangun kembali Gaza jika bukan demi kepentingannya sendiri. Karena rakyat Gaza sendiri menolak kehadiran mereka.
Keikutsertaan Indonesia dalam BoP justru membuat jelas, berada di pihak siapa. Karena rakyat Gaza sendiri menolak, kenapa Indonesia malah menjadi anggotanya?
Sejarah terus berulang. Tidak pernah Amerika dan Israel menepati janjinya jika tidak demi kepentingannya sendiri. Begitu juga dengan BoP, adalah rekayasa mereka yang kesekian kalinya agar bisa menundukkan Gaza. Kenapa Indonesia tidak mengambil pelajaran dari sejarah?
Hidup Bukan Sekadar Makan dan Nyaman
Mereka umat Islam di Gaza bisa saja memilih hidup aman dan nyaman seperti manusia modern saat ini, dengan pembangunan dan kemegahan yang ditawarkan BoP. Namun, akidah dan keadilan adalah jangkar hidup, yang membuat hidup mereka bernilai. Inilah pilihan hidupnya. Karena hidup bukan sekadar nyaman dan ada makanan, tapi ada akidah.
Mereka lebih rela dibombardir karena pertahankan Baitul Maqdis, daripada menikmati kemewahan dunia. Inilah mengapa mereka menjadi standar iman di akhir zaman. Tidak ada apa-apanya iman kita jika tidak merasakan ujian keimanan sebagaimana umat Islam di Gaza.
Keteguhan penduduk Gaza ini telah dikabarkan Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya:
“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan kebenaran (dalam hadits lain dengan kata mereka berperang di atas kebenaran), tidak merugikannya orang yang menghinanya sampai datang hari kiamat, dan mereka tetap dalam keadaan demikian hingga kiamat datang." Para sahabat bertanya, "Dimana mereka Ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Mereka di sekitar Baitul Maqdis." [HR Muslim]
Siapa lagi yang perjuangkan kebenaran di sekitar Baitul Maqdis jika bukan umat Islam di Palestina, lebih khusus lagi Gaza yang saat ini berani sendirian mengangkat senjata melawan kepungan musuh-musuh Islam?
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment