Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Makanan Bergizi Gratis, Siapa yang Diuntungkan?

Saturday, February 28, 2026 | Saturday, February 28, 2026 WIB




Oleh Sujilah

Pegiat Literasi



Kepala Badan Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana memastikan telah menetapkan aturan khusus terkait Makan Bergizi Gratis, selama Ramadan dan libur nasional 2026 tetap berjalan. Dengan cara penyesuaian distribusi sesuai karakteristik penerima manfaat. Penyalurannya tetap berjalan dengan penyesuaian menu yang berupa paket kemasan sehat atau kering, dan penyediaan makanan untuk berbuka bagi siswa yang berpuasa dan layanan normal untuk mayoritas non-muslim. Tapi program ini banyak menerima kritikan, meskipun di sisi lain ada yang merasa terbantukan terutama di kalangan ibu hamil dan menyusui. 


Menurut pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (core) Eliza Mardian, menilai bahwa memberikan makanan kering di saat bulan puasa, menunjukkan program yang dipaksakan tetap berjalan, dan kurang memenuhi gizi secara optimal. Di samping itu dari ahli gizi, Tan Shot Yen juga mengusulkan bahwa skema pemberian MBG pada bulan Ramadan lebih baik diserahkan pada keluarga masing-masing. Tapi usulan itu tetap diabaikan, semuanya hanya untuk mengejar agar proyek SPPG tetap beroperasi.


Dalam paradigma kapitalis, kebijakan cenderung hanya   keuntungan pada para pemilik modal, bukan pada kemaslahatan rakyat, dan bahkan tidak berpijak pada syariat. Bahkan tidak mungkin program MBG ini akan banyak masalah dalam praktiknya, baik penyalahgunaan oleh oknum, bahkan bisa membuka celah  untuk korupsi. Meskipun anggaran yang dialokasikan untuk program MBG diambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).


Program yang awalnya untuk rakyat  melalui anak sekolah yang tujuannya untuk perbaikan gizi anak dan pembentukan generasi yang sehat serta menciptakan lapangan pekerjaan, tapi semua ini tetap saja yang mendapat keuntungan adalah perusahaan besar sebagai pemasok bahan baku. Upah pekerja SPPG pastinya mengikuti keumuman ketentuan upah dalam kapitalisme. Bahkan sekarang juga pedagang-pedagang kecil  sepi, tetap yang diuntungkan yang punya modal besar. Program-program yang dicanangkan oleh negara, hanya menjadi santapan bagi korporasi dan oligarki. 


Sampai saat ini negara belum fokus untuk menuntaskan penyediaan kebutuhan pangan secara menyeluruh dan prosedur yang teratur. MBG bukan solusi mendasar dalam menuntaskan masalah perbaikan gizi atau stunting. MBG hanyalah cara yang dibuat negara untuk menyukseskan proyek industrialisasi para korupsi.  Dalam sistem kapitalisme, Negara seringkali membuat kebijakan bukan untuk kesejahteraan masyarakat, namun untuk kesuksesan dan keuntungan para korporasi.


Semua sangat berbeda, jika kehidupan ini diatur dengan menggunakan sistem Islam. Bahwa Islam memiliki mekanisme serta strategi yang khas dalam menentukan solusi ketahanan pangan, yaitu dengan cara memilih kepemimpinan yang amanah dan bijaksana, serta menjaga rakyatnya.


Sistem Islamlah kehidupan bisa menjadi sejahtera, stabil dan dapat dikendalikan secara sistemik. Dalam Islam tidak ada program khusus seperti MBG, memang kewajiban negara harus menjamin kesejahteraan rakyat bukan hanya anak sekolah saja, tetapi semua rakyat.

Seperti hadits Rasulullah saw;

Imam/Khalifah itu tak lain laksa perisai, dimana orang akan bergabung di belakangnya, dan digunakan sebagai tameñg.” (HR. Bukhori dan Muslim)


Penerapan Sistem Ekonomi Islam juga akan menjamin kesejahteraan melalui tercapainya ketahanan pangan dan pelestarian pangan. Apalagi negara mempunyai pemasukan dari berbagai macam sumber pendapatan, sehingga negara bisa mampu menjamin kesejahteraan rakyat. 


Disamping itu, pemimpin yang amanah  sampai (pejabat dibawahnya), karena mempunyai keimanan yang kuat, maka tidak ada korupsi dan memperkaya pribadi. Islam juga  memelihara  dan memenuhi  keberlangsungan generasi yang kuat fisik dan kepribadiannya yang baik.


Islam menyejahterakan rakyat dengan konsep Baitul mal yang kuat dari pemasukan negara Islam. Dari konsep Baitul mal inilah negara akan membiayai kebutuhan dasar setiap individu rakyat, sehingga tidak ada yang kelaparan atau stunting.


Dengan menyediakan kebutuhan yang tepat sasaran, dan dibutuhkan rakyat, maka negara tidak perlu membuka program makanan bergizi gratis. Karena semua sudah disediakan sesuai jalurnya. Maka kita harus sadar, bahwa hanya dengan sistem semua akan mendapatkan kesejahteraan.


Wallahu a’lam bishsawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update