Oleh: Yani Astuti
Ibu Rumah Tangga
Perdamaian Palestina merupakan suatu yang diharapkan bagi kaum Muslim. Pasalnya, pembantaian yang dirasakan sudah lebih dari sebuah kebiadaban kaum Zionis Israel. Namun, perdamaian yang mereka bicarakan bukanlah perdamaian yang sesungguhnya. Melainkan ada maksud dan tujuan mereka, yakni merampas tanah Palestina.
Telah resmi, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bergabung dan menandatangani Board of Peace Charter. Terbentuknya BoP ini, sejatinya berasal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam hal ini, presiden bermaksud mewujudkan perdamaian pada warga Gaza dan sikap antarkemanusiaan. Setelah menandatangani BoP, Presiden Prabowo menyampaikan optimisme kuat terhadap pencapaian perdamaian pada Palestina.
Bergabungnya Presiden Prabowo dalam Board of Peace (BoP), dianggap sebagai momentum bersejarah. Karena menjadi tujuan yang mengarah pada perdamaian rakyat Palestina. Selain itu, menjadi peluang bagi negara-negara lain untuk membantu rakyat Palestina dalam perdamaian dan kemanusiaan. Hal ini diungkapkan Presiden Prabowo di Davos, Swiss, pada Kamis (22-01-26), dikutip setkap.com.
Namun, setelah Indonesia resmi bergabung pada Board of Peace, ada harga yang harus dibayar. Untuk menjadi anggota tetap, Indonesia diharuskan membayar sebesar Rp1 miliar dolar. Jika dirupiahkan jumlahnya mencapai sekitar Rp17 triliun. Dalam hal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengatakan bahwa dirinya belum ada tembusan dari presiden terkait pembayaran iuran bergabungnya ke Board of Peace. Namun, besar kemungkinan dananya berasal dari APBN, katanya. (CNBCIndonesia.com, 29-01-2026)
Antara Pengkhianatan dengan Perdamaian
Sebagaimana diketahui bahwa kedatangan Presiden Prabowo ke Davos, Swiss, pada tanggal 22-01-2026, dalam rangka menandatangani Board of Peace. Badan tersebut dibentuk untuk mewujudkan perdamaian di Palestina. Namun, pembentukan badan itu hakikatnya bukan untuk kepentingan Palestina atau perdamaian yang dikatakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, pembentukan badan tersebut justru untuk kepentingan AS, seperti geopolitik dan ekonominya. Rencananya ialah untuk menghancurkan dan menguasai wilayah Palestina dan Gaza.
Pasalnya, jika ada perdamaian untuk Palestina, mengapa yang datang justru pemimpin-pemimpin negara lain untuk bergabung, termasuk Indonesia. Tapi, yang menjadi masalah mengapa tidak mengikutsertakan Palestina dalam program BoP tersebut.
Sungguh, di balik rencana Presiden Amerika Serikat mewujudkan perdamaian Palestina, jelas tidak menjamin bahwa warga Gaza akan terbebas dari pembantaian Israel. Namun, yang ada pada program BoP ini, justru warga Gaza akan terusir dengan mudah dari tanah yang mereka pertahankan sejak dulu. Karena tujuannya adalah bukan untuk Palestina, tetapi untuk merealisasikan 20 poin yang menjadi rencana Donald Trump, seperti mendirikan gedung-gedung baru, pelabuhan, bandara, dan masih banyak lagi.
Namun, dari banyaknya negara yang bergabung pada Board of Peace ini terdapat negara besar Eropa yang tidak ikut bergabung. Sebab, menganggap BoP bukanlah solusi kolektif karena tidak mengacu pada hukum internasional.
Keberpihakan negara Muslim pada Board of Peace, jelas merupakan penghianatan, termasuk Indonesia sendiri. Jumlah yang disalurkan pada program BoP bukanlah jumlah yang sedikit. Negara muslim seharusnya membantu muslim Palestina dengan menghentikan genosida di Palestina, membiarkan warga Palestina hidup aman dan nyaman. Namun, mereka justru membantu untuk menghancurkan warga Palestina dengan mengirim dana pada Zionis Israel.
Haram Mendukung Penjajah
Pembentukan yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, seolah memaksa dunia mengikuti kebijakannya. Demi kepentingannya, para anggota yang bergabung pada program Broard of Peace diharuskan membayar iuran setiap negara 17 triliun. Namun mirisnya, iuran dana perdamaian bukan untuk kepentingan Palestina, melainkan untuk menghancurkan Palestina.
Sungguh jelas, berdirinya penjajah Zionis Israel karena adanya dukungan kekuatan senjata yang berasal dari Amerika Serikat. Maka, telah tampak bahwa tidak ada perdamaian untuk Palestina. Terbukti telah banyak negara-negara yang berkonflik dengan AS yang mengakibatkan jutaan nyawa menghilang. Oleh karena itu, adanya BoP justru menciptakan kehancuran bagi negara-negara lemah. Bahkan, hancurnya Palestina oleh Zionis telah nyata didukung oleh AS.
Bergabungnya Indonesia pada Amerika Serikat dan Zionis, membuktikan bahwa Indonesia hanya bergantung pada AS. Begitu juga negara-negara muslim lainnya saat ini, kebijakan dan program yang dibuat hanya mengikuti sistem yang diadopsi oleh AS, bukan pada sistem Islam. Dengan demikian, Indonesia belum bisa menjadi negara yang mandiri.
Pada hakikatnya, kaum Muslim adalah saudara, bahkan pada warga Palestina pun kita bersaudara. Jika satu tubuh sakit, maka tubuh muslim yang lainnya pun ikut sakit. Allah Swt. berfirman, "Orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat:10)
Bukan hanya itu, siapa pun mereka selama masih memperjuangkan agama Allah dan melaksanakan perintah serta meninggalkan larangannya, maka Allah mengharamkan orang-orang kafir menghancurkan orang-orang Muslim. Allah Swt. berfirman, "Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (QS An-Nisa: 141)
Oleh sebab itu, umat Islam harus bersatu dan mewujudkan berdirinya kembali negara yang berasaskan Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Bersatu untuk melawan kafir penjajah. Karena Khilafah ialah negara yang akan melindungi rakyat dan menjaganya dari orang-orang yang akan merampas tanah seluruh kaum Muslim.
Waallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment