Zahrah (Aktivis Dkawah)
Indonesia resmi bergabung dengan Board Of Peace (BoP) atau Dewan Perdamian Gaza yang diinisiasi oleg Presiden Amerika Serikat, Donal Trump setelah melakukan penandatanganan pada Kamis, 22 Januari 2026 di Davos, Swiss lalu. Presiden Indonesia, Prabowo Subianto mengatakan bahwa bergabungnya pemerintah Indonesia dalam BoP merupakan momentum bersejarah sekaligus peluang nyata agar dapat mendorong upaya perdamaian bagi rakyat Plaestina. (Setkab RI, 22/02/2026)
Keputusan ini menuai banyak protes dari berbagai kalangan Masyarakat, mulai dari posisi Amerika Serikat yang sangat kuat dalam BoP, tidak adanya warga Palestina, keikutsertaan Israel, bergabung tony Blair si penjahat perang, serta iuran wajib anggota BoP sebesar 17 triliun.
Lantas tidak adanya warga Palestina dan tergabungnya Israel dalan Dewan Perdamaian tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Akankah Palestina Merdeka? Ataukan ini adalah bagian dari penjajahan gaya baru oleh Amerika Serikat dan Israel?
Menghancurkan Palestina
Tidak adanya warga Palestina, keikutsertaan Penjajah Israel dalam BoP menunjukkkan bahwa BoP dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina. Justru sebaliknya, BoP sejatinya adalah alat untuk mensukseskan kepentingan geopilitik dan ekonomi Amerika Serikat dan Israel. Hal ini dapat dibuktikan dari fakta bahwa Amerika Serikat yang mendanai Israel dalam setiap agresi mereka di Palestina. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, (22/01/2026), AS menyatakan ingin menguasai Gaza sepenuhnya dengan membangun Gaza Baru dan mengusir penduduknya. Disana akan dibangun gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara dan menara apartemen. AS juga menunjukkan rencana pengembangan Kawasan perumahan, industry, pertanian secara bertahap untuk populasi sekitar 2,1 juta orang. Akankah 2,1 juta orang itu akan diisi warga Palestina? Dan semua fasilitas itu akan dinikmati oleh warga Palestina?
Di sisi lain Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata. Selama gencatan berlangsung Israel telah menewaskan 242 warga Palestina dan 620 lainnya terluka. Bahkan tidak berselang lama setelah penandatanganan BoP Israel Kembali membombardir wilayah pengungsian warga Palestina. Karena pada hakikatnya Israel sudah berkomitmen untuk menguasai wilayah Palestina seluruhnya.
Bergabungnya penguasa negeri-negeri muslim di BoP, termasuk Indonesia telah menjadi pelengkap legitimasi panjajahan terhadap Palestina dengan gaya baru. Hal itu juga menjadi bentuk penghianatan penguasa negeri-negeri muslim terhadap perjuangan kaum muslim Palestina. Bersandingnya penguasa muslim dengan para penjajah AS dan Israel merupakan dosa besar yang tidak sesuai dengan hukum syariat. Haram hukumnya bagi umaty islam serta negeri-negeri muslim untuk mengikuti orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai teman dekat. AS adalah negara kahir Harbi Fi’lan yang wajib diperangi oleh kaum Muslimin sebab telah tampak kebencian mereka terhadap kaum Muslimin. AS dan Israel adalah penajajah yang telah membombardir dan merebut tanah Palestina dari kaum Muslimin selama bertahun-tahun. Realitas ini menjadikan penguasa muslim tidak boleh mendukung mereka terlepas apapun alasannya. Karena orang-orang kafir tidak akan pernah ridho terhadap kaum Muslimin.
Namun pada faktanya hari ini penguasa-penguasa muslim begitu bermanis muka, duduk bersebelahan dengan orang yang tangannya berlumuran darah kaum Muslimin. Sikap ini tidak lain karena negeri-negeri muslim ini adalah pembebek Amerika. Mereka tidak berdaya dihadapan sang negara adidaya.
Butuh Perjuangan Ideologis
Pembebasan Palestina membutuhkan perjuangan ideologis bukan pada meja perundingan dengan negara kafir penjajah. Perjuangan yang terlepas dari intervensi negara adidaya seperti AS. Perjuangan yang mampu menyatukan seluruh kaum muslimin dalam satu kepemimpinan, satu komando jihad dalam membebaskan Palestina. Perjuangan untuk menegakkan perisai kaum Muslimin yakni Khilafah. Dengan Khilafah gelar kaum Muslimin sebagi umat terbaik akan kembali didapatkan dan tanah Palestina akan kembali ke pangkuan kaum muslimin. Sebagaiman firman Allah SWT dalam QS Al-Imran: 110 yang artinya:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeruh pada yang makruf, dan mencegah pada yang mungkar dan beriman kepada Allah”.
Kaum Muslimin adalah umat terbaik sepanjang sejarah ketika mereka tetap berpegang teguh terhadap islam. Keteguhan itu menjadikan penguasa muslim sebagai negara adidaya selama kurang lebih 13 abad lamanya. Saat itu kaum Muslimin mampu membebaskan Palestina dengan jihad. Oleh karena itu, pembebasan Palestina membutuhkan perjuangan ideologis yang mampu menyatukan seluruh kaum muslimin untuk melawan kafir penjajah dalam komando Khalifah bukan komando AS atau Israel. Sebab penjajah seperti Zionis Israel hanya bisa mengerti bahasa perang bukan bahasa diplomasi. Dengan Jihad bukan dengan BoP. Wallahu a’lam Bishowwab.

No comments:
Post a Comment