Oleh : Puji
Banjir dengan ketinggian mencapai lebih dari dua meter merendam 31 desa di Karawang Jawa Barat. Dalam kurun waktu dua pekan sudah tiga kali banjir merendam kawasan ini. Imbas dari tingginya banjir yang merendam membuat ribuan warga harus mengungsi (https://www.kompas.tv/1/2/2026).
Kalau kita melihat bahwa saat musim hujan tiba selalu ada bencana banjir yang melanda negeri ini. Bahkan wilayah jakarta, karawang Jawa Barat maupun aceh dan Sumatera Utara juga mengalami bencana ini. Bahkan bencana banjir ini bisa menelan korban jiwa dan ekonomi masyarakat juga mengalami penurunan yang signifikan karena kesulitan akses transportasi maupun distribusi barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Selain itu, ribuan warga terpaksa harus mengungsi karena rumah maupun jalan terendam banjir hampir dua meter . Pemerintah mengklaim bahwa bencana banjir yang melanda kawasan jakarta maupun kota besar lainnya di negeri ini terjadi akibat adanya curah hujan yang tinggi sehingga mengupayakan modifikasi cuaca dan normalisasi tiga sungai untuk mengurangi resiko banjir.
Banjir kawasan Jakarta maupun Karawang Jawa Barat dan wilayah perkotaan merupakan problem klasik yang terus berulang setiap tahunnya. Penyebab utama bukan karena tingginya curah hujan melainkan kekeliruan tata ruang dimana lahan sudah tidak mampu untuk menyerap air saat hujan deras terjadi. Selain itu, dalam pelaksanaan tata ruang kurang memperhatikan adanya analisa dampak lingkungan yang tepat serta dalam pembangunan kurang perhatian terhadap resapan air dan saluran drainase yang tepat. Oleh karena itu, warga masyarakat setiap tahun dihadapkan pada bencana banjir yang terus berulang saat curah hujan tinggi di wilayah tersebut. Terlebih lagi setiap tahunnya warga masyarakat yang terdampak banjir lebih dari dua meter harus mengungsi dan bisa berdampak pada kondisi kesehatan, pendidikan maupun perekonomian. Hal ini terjadi karena adanya kapitalis sekuler yang digunakan sebagai pedoman dalam tata ruang yang ada di negeri ini.
Kita bisa melihat bahwa kapitalis sekuler itu kurang memperhatikan adanya dampak ekosistem alam maupun analisa dampak lingkungan dalam tata ruang. Selain itu, dalam kapitalis adanya kebebasan dalam bisnis dan kepemilikan yang berorientasi pada pencapaian keuntungan yang tinggi tanpa mempedulikan analisa dampak lingkungan. Oleh karena itu, kita akan kesulitan menjumpai adanya resapan air saat hujan tiba sehingga ini bisa menjadi salah satu faktor banjir yang mencapai dua meter lebih dan menjadikan warga masyarakat mengungsi. Solusi yang diberikan negara masih belum bisa optimal untuk menyelesaikan problem bencana banjir yang terus berulang saat curah hujan tinggi di beberapa kota besar negeri ini.
Kita bisa merujuk pada Islam terkait tata ruang agar tidak terjadi bencana banjir saat curah hujan tinggi. Islam sangat memperhatikan analisa dampak lingkungan secara teliti dalam tata ruang serta adanya kesiapsiagaan penanganan mitigasi bencana saat adanya banjir. Pembangunan dalam Islam tidak berlandaskan pada kemanfaatan aspek kapitalistik namun mempertimbangkan kemanfaatan umat jangka panjang dan analisa dampak lingkungan secara cermat. Pembangunan yang dilakukan berdasarkan Islam akan berorientasi pada menciptakan rahmat bagi seluruh alam bukan musibah atau bencana.

No comments:
Post a Comment