Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Pendidikan Tak Lagi Ramah

Friday, January 30, 2026 | Friday, January 30, 2026 WIB

 


Oleh Khoirun Nisa A.M., S.Pd. 

Praktisi Pendidikan


Pendidikan yang Terjebak Menyalahkan, Bukan Membenahi

Beberapa waktu terakhir, dunia pendidikan terasa tidak sedang baik-baik saja. Berita tentang kekerasan di sekolah—baik yang melibatkan guru maupun murid—muncul berulang dari berbagai daerah, dan setiap kali persoalan pendidikan mencuat ke ruang publik, pola responsnya hampir selalu sama. Perhatian tersedot pada siapa yang salah, siapa yang pantas dihukum, dan siapa yang harus dibela. Guru dan murid kerap diposisikan berhadap-hadapan, seolah salah satu pihak pasti bersih sementara yang lain sepenuhnya keliru.

Padahal, cara pandang semacam ini justru menutup ruang untuk memahami persoalan secara utuh. Pendidikan bukan relasi dua orang semata, melainkan proses panjang yang dibentuk oleh sistem, kebijakan, kurikulum, lingkungan sosial, serta nilai yang mendasarinya. Maka, ketika relasi guru dan murid kerap retak, itu tidak lahir dari ruang hampa.

Perlu disadari bahwa baik guru maupun murid hari ini sama-sama berada dalam tekanan. Guru dituntut untuk mengajar, mendidik karakter, memahami kondisi psikologis murid, sekaligus memenuhi beban administratif dan target kurikulum yang tidak sedikit. Di sisi lain, murid tumbuh dalam kondisi sosial yang kompleks—paparan media digital, krisis keteladanan, tekanan akademik, serta lingkungan keluarga yang tidak selalu kondusif.

Dalam kondisi seperti ini, jika sistem pendidikan tidak memberi ruang pembinaan akhlak yang kuat dan tidak menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, maka gesekan akan mudah terjadi. Teguran bisa berubah menjadi konflik, dan perbedaan pandangan bisa berujung pada sikap saling menyalahkan.

Fakta Kualitas Pendidikan yang Tidak Bisa Diabaikan

Selain persoalan relasi, kualitas pendidikan itu sendiri menunjukkan adanya masalah mendasar. Berbagai evaluasi pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih jauh dari harapan. Ini bukan persoalan satu sekolah atau satu daerah, melainkan gambaran umum yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Rendahnya kualitas ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan belum sepenuhnya berhasil menjalankan fungsi utamanya, yaitu mencerdaskan sekaligus membentuk karakter. Pendidikan masih sering dipahami sebatas pencapaian akademik, bukan sebagai proses pembinaan kepribadian dan akhlak.

Ketika ukuran keberhasilan dipersempit pada nilai, peringkat, dan kelulusan formal, maka aspek aqidah, adab, empati, dan tanggung jawab perlahan terpinggirkan. Akibatnya, pendidikan kehilangan ruhnya, dan sekolah tidak lagi menjadi ruang aman untuk bertumbuh secara utuh.

Masalah Ini Bersifat Sistemik, Bukan Insidental

Jika dicermati, persoalan pendidikan hari ini tidak muncul di satu waktu atau satu tempat saja. Ia hadir berulang, dengan bentuk yang mirip, di berbagai wilayah. Fakta ini cukup untuk menunjukkan bahwa masalah pendidikan bukan sekadar kesalahan personal, melainkan persoalan sistemik.

Sistem pendidikan yang berjalan hari ini lahir dari paradigma yang memisahkan nilai agama dari pengaturan kehidupan. Pendidikan diarahkan untuk mencetak individu yang kompetitif secara ekonomi, tapi miskin arah dalam hal tujuan hidup dan nilai moral. Akibatnya, pembentukan akhlak tidak menjadi prioritas utama, melainkan sekadar pelengkap.

Ketika sistem dibangun di atas paradigma sekuler, maka wajar jika pendidikan kehilangan pijakan nilai yang kokoh. Dalam kondisi seperti ini, guru dan murid hanya menjadi pelaksana dari sistem yang bermasalah, bukan sumber utama masalah itu sendiri. Mereka bergerak di dalam aturan yang telah ditentukan, mengikuti arah yang sejak awal tidak berpijak pada tujuan pembentukan manusia seutuhnya.

Paradigma sekuler memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dari proses pendidikan. Akibatnya, pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk kepribadian yang beriman dan berakhlak, melainkan sekadar mencetak individu yang mampu bertahan dalam persaingan dunia. Nilai benar dan salah menjadi relatif, adab menjadi urusan pribadi, sementara keberhasilan diukur dari capaian materi dan prestasi akademik semata.

Dalam sistem seperti ini, wajar jika terjadi kebingungan arah. Guru diharapkan mendidik akhlak, tetapi sistem tidak memberi landasan nilai yang jelas. Murid dituntut beradab, tetapi lingkungan pendidikan tidak secara konsisten menanamkan makna adab itu sendiri. Maka pendidikan berjalan tanpa kompas yang pasti, dan konflik pun mudah muncul dalam berbagai bentuk.

Perlu disadari bahwa persoalan ini tidak akan selesai dengan mengganti individu, memperketat aturan teknis, atau menambah sanksi semata. Selama paradigma dasarnya tidak berubah, selama pendidikan masih berdiri di atas asas yang memisahkan agama dari kehidupan, maka masalah yang sama akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.

Di sinilah pentingnya meninjau kembali arah pendidikan secara mendasar. Pendidikan tidak cukup dipahami sebagai proses transfer ilmu, tetapi harus dikembalikan pada fungsinya sebagai sarana pembentukan manusia yang memiliki tujuan hidup yang jelas, nilai yang kokoh, dan akhlak yang terjaga. Dan hal ini tidak mungkin terwujud tanpa sistem yang menjadikan wahyu sebagai landasan utama.

Dalam dunia Islam, pendidikan tidak pernah dilepaskan dari tujuan membentuk akhlak. Ilmu tidak diposisikan sebagai alat meraih kedudukan atau materi, tetapi sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kehidupan manusia. Karena itu, para ulama terdahulu sangat menaruh perhatian besar pada adab, bahkan sebelum ilmu itu sendiri.

Dikisahkan, Imam Malik رحمه الله pernah menasihati seorang penuntut ilmu agar mempelajari adab terlebih dahulu sebelum banyak mengambil ilmu. Baginya, ilmu yang tidak dibingkai dengan adab hanya akan melahirkan kesombongan dan kerusakan. Begitu pula Imam Syafi’i رحمه الله yang menekankan bahwa cahaya ilmu tidak akan diberikan kepada hati yang dipenuhi kemaksiatan dan kelalaian. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kualitas manusia jauh lebih penting daripada sekadar banyaknya pengetahuan.

Pendidikan Islam klasik tidak dibangun di atas hubungan formal yang kaku antara guru dan murid. Hubungan keduanya bersifat mendidik secara menyeluruh—akal, hati, dan perilaku. Guru menjadi teladan sebelum menjadi pengajar, sementara murid belajar menghormati bukan karena takut, tetapi karena kesadaran akan nilai adab. Sistem halaqah yang berkembang kala itu menumbuhkan kedekatan, keteladanan, dan pembinaan karakter yang kuat.

Hal ini sangat berbeda dengan sistem pendidikan hari ini yang cenderung memisahkan nilai dari proses belajar. Akhlak diajarkan, tetapi tidak dijadikan tujuan utama. Adab dibicarakan, tetapi tidak menjadi ukuran keberhasilan. Akibatnya, pendidikan kehilangan ruh, dan relasi guru–murid pun rentan mengalami gesekan.

Islam memandang bahwa pendidikan tidak bisa diserahkan pada individu semata. Ia adalah tanggung jawab bersama yang dijamin oleh sistem. Negara dalam Islam memiliki peran penting untuk memastikan bahwa pendidikan berjalan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, yakni sebagai hamba Allah dan pengelola kehidupan sesuai syariat-Nya. Pendidikan tidak diarahkan untuk memenuhi kepentingan pasar atau sekadar kebutuhan ekonomi, tetapi untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh.

Dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan, pendidikan akan memiliki arah yang jelas. Ilmu diajarkan sebagai amanah, adab ditanamkan sebagai keharusan, dan akhlak dijaga sebagai pilar utama. Guru dihormati bukan karena posisinya semata, tetapi karena perannya sebagai pembimbing. Murid pun diposisikan sebagai amanah yang harus dijaga kehormatan dan pertumbuhannya.

Inilah solusi yang ditawarkan Islam—bukan tambal sulam, bukan sekadar penambahan aturan teknis, tetapi perubahan paradigma secara menyeluruh. Perubahan dari sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, menuju sistem yang menjadikan wahyu sebagai sumber nilai dan arah.

Maka, selama pendidikan masih berdiri di atas asas yang keliru, selama nilai hanya menjadi pelengkap, persoalan akhlak dan konflik akan terus berulang. Namun, ketika pendidikan dikembalikan pada Islam secara kaffah, bukan mustahil ia kembali menjadi jalan lahirnya generasi yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update