Oleh : Ummu Fatih (Aktivis Muslimah)
Di tahun 2025 hingga awal 2026, dunia semakin tertekan oleh dampak dominasi Amerika Serikat (AS) dan ideologi kapitalismenya, yang tidak hanya menekan umat Islam tetapi juga menimbulkan kerusakan besar bagi lingkungan dan stabilitas global. Kondisi ini semakin menguatkan pandangan bahwa dunia membutuhkan model kepemimpinan global baru yang berbasis pada nilai-nilai keadilan dan rahmat, seperti yang diajarkan oleh Islam.
Dominasi AS dan Kapitalisme yang Menekan Umat Islam
Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia tetap menjadi sorotan karena penderitaan yang dialami akibat hegemoni AS dan kapitalisme. Konflik yang berlangsung di Palestina menjadi bukti nyata, di mana serangan brutal terhadap rakyat sipil terus terjadi tanpa henti. Laporan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa hingga akhir 2025, korban jiwa di Gaza telah melampaui angka yang mengkhawatirkan, sementara bantuan kemanusiaan sulit sampai ke lokasi akibat blokade yang diperkuat dengan dukungan AS. Selain itu, di beberapa negara Muslim, pengaruh budaya dan ekonomi kapitalis menyebabkan semakin banyak kalangan muda Islam mengalami kebingungan identitas, bahkan terjebak dalam nilai-nilai sekuler yang menyimpang dari ajaran agama. Sebuah studi yang diterbitkan oleh lembaga riset Islam internasional pada pertengahan 2025 mencatat bahwa tingkat sekularisasi di antara kaum muda Muslim di negara-negara dengan pengaruh ekonomi Barat signifikan meningkat sekitar 15% dalam lima tahun terakhir (data tidak dapat diungkapkan secara rinci karena sifatnya yang sensitif, namun analisis terkait dapat dilihat pada https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/120154).
Bencana Ekologis Akibat Keserakahan Kapitalisme Global
Keserakahan yang menjadi inti dari sistem kapitalis global telah menyebabkan bencana ekologis yang semakin parah pada tahun 2025-2026. Laporan dari Oxfam yang diterbitkan pada 29 Oktober 2025 dengan judul "Climate Plunder: How a powerful few are locking the world into disaster" menunjukkan bahwa 0,1% orang terkaya di dunia menghasilkan polusi karbon lebih banyak dalam sehari daripada 50% orang terkaya di dunia dalam setahun penuh. Jika pola emisi seperti ini terus berlanjut, anggaran karbon dunia yang diperlukan untuk menghindari bencana iklim akan habis dalam waktu kurang dari tiga minggu (sumber: https://policy-practice.oxfam.org/resources/climate-plunder-how-a-powerful-few-are-locking-the-world-into-disaster-621741/).
Selain itu, perubahan iklim telah menyebabkan kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi, seperti banjir besar di wilayah Asia Tenggara pada musim hujan 2025, kekeringan berkepanjangan di Afrika Selatan, dan kebakaran hutan skala besar di Amerika Latin. Semua ini terjadi karena perusahaan-perusahaan besar yang berbasis pada sistem kapitalis terus mengejar keuntungan tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi lingkungan hidup.
Arogansi AS dalam Politik Global, Termasuk terhadap Venezuela
Pada 3 Januari 2026, AS melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores serta membawa mereka ke New York. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Maduro akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme. Tindakan ini mendapatkan kecaman dari enam negara yaitu Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Uruguay, dan Spanyol, yang menyatakan bahwa upaya AS untuk mengambil alih sumber daya alam dan aset strategis Venezuela tidak sesuai dengan hukum internasional dan mengancam stabilitas kawasan (sumber: https://babel.antaranews.com/berita/537262/enam-negara-kecam-upaya-as-untuk-ambil-alih-sumber-daya-venezuela).
Selain Venezuela, AS juga melakukan ancaman dan intervensi terhadap negara-negara lain yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingannya, seperti di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Tindakan ini menunjukkan bahwa AS lebih memilih menggunakan kekuatan militer daripada cara damai untuk menyelesaikan masalah, yang jelas melanggar prinsip-prinsip hukum internasional.
Dampak Kapitalisme Sekuler terhadap Kehidupan Umat Islam
Ideologi kapitalisme sekuler yang diusung AS telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam dalam berbagai aspek:
- Akidah: Penyebaran budaya materialisme dan individualisme telah menggeser fokus umat Islam dari nilai-nilai spiritual menuju kepuasan duniawi. Banyak kaum muda Muslim mulai mengabaikan ajaran agama dan lebih terpengaruh oleh tren budaya Barat.
- Muamalah: Sistem ekonomi kapitalis yang berbasis pada bunga dan persaingan bebas tanpa batasan telah menyimpang dari prinsip ekonomi Islam yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan bersama. Hal ini menyebabkan kesenjangan antara kaya dan miskin yang semakin lebar di negara-negara Muslim.
- Akhlak: Budaya populer yang berasal dari negara-negara kapitalis telah membawa pengaruh negatif terhadap akhlak umat Islam, seperti penyebaran konten yang tidak senonoh, kekerasan, dan konsumerisme yang berlebihan.
- Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, dan Pendidikan: Dominasi ekonomi dan politik AS telah menyebabkan negara-negara Muslim sulit mengembangkan sistem yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sistem pendidikan yang dijiwai oleh sekularisme juga telah mengasingkan pembelajaran agama dari kurikulum utama di banyak negara Muslim (analisis terkait dapat dilihat pada https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/shautut-tarbiyah/article/view/117).
Menguasai Sumber Daya Alam Negara Lain
AS telah menggunakan berbagai cara untuk menguasai sumber daya alam negara lain, termasuk melalui perjanjian ekonomi yang tidak seimbang, intervensi politik, dan bahkan tindakan militer. Kasus Venezuela pada awal 2026 adalah contoh nyata, di mana AS mengklaim ingin menangani masalah narko-terorisme namun juga mengincar sumber daya alam yang melimpah di negara tersebut, seperti minyak bumi dan mineral strategis. Selain itu, pada tahun 2025, AS juga menandatangani serangkaian perjanjian dengan negara-negara di kawasan Teluk dan Afrika untuk mengakses mineral kritis seperti litium, tembaga, dan tanah jarang yang diperlukan untuk transisi energi global (sumber: https://gulfif.org/the-gulfs-mineral-gambit-shaping-the-global-race-for-critical-resources/). Tindakan ini dilakukan tanpa memperdulikan tatanan hukum internasional dan kecaman dari masyarakat dunia.
Mabda Islam sebagai Modal Kebangkitan
Menghadapi hegemoni AS dan kapitalisme, umat Islam perlu kembali pada mabda Islam sebagai dasar untuk kebangkitan. Mabda Islam yang meliputi iman, tauhid, dan penerapan syariat secara kaffah dapat menjadi pondasi untuk membangun identitas yang kuat dan melawan pengaruh negatif dari luar. Sebuah tulisan yang diterbitkan pada tahun 2025 di SUARAISLAM.ID menyatakan bahwa khilafah yang sejati lahir dari kesadaran umat akan pentingnya nilai-nilai Islam, bukan hanya sebagai lembaga politik semata (sumber: https://suaraislam.id/khilafah-lahir-dari-kesadaran-bukan-sekadar-lembaga/). Dengan menguatkan pemahaman tentang ajaran Islam, umat Islam dapat membangun kekuatan untuk melawan hegemoni dan menciptakan perubahan yang positif.
Kepemimpinan Islam sebagai Harapan Dunia
Kepemimpinan Islam yang berbasis pada nilai-nilai rahmat dan keadilan adalah satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang baik. Berbeda dengan sistem kapitalis yang mengutamakan keuntungan pribadi, kepemimpinan Islam mengedepankan kesejahteraan bersama (maslahah umum) dan perlindungan terhadap seluruh umat manusia. Sebuah artikel di Muslimah Times pada Juni 2025 menyatakan bahwa konflik yang berlangsung di Palestina menunjukkan kegagalan sistem internasional saat ini, dan hanya dengan adanya kepemimpinan Islam yang terpadu berupa khilafah dapat memberikan solusi yang hakiki (sumber: https://muslimahtimes.com/2025/06/13/krisis-palestina-dan-urgensi-sistem-islam-mengapa-dunia-butuh-khilafah/).
Khilafah Islam sebagai Pelindung Semua Manusia
Khilafah Islam tidak hanya bertugas melindungi umat Islam tetapi juga seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, dan bencana. Dalil Al-Qur'an menyatakan, "Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta" (QS. Al-Anbiya': 107). Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya" (HR. Muslim). Khilafah dalam konteks sejarah dan ajaran Islam bertugas untuk menjaga keadilan, melindungi hak-hak setiap individu, dan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan bersama. Di masa kini, konsep khilafah menjadi semakin relevan sebagai alternatif bagi sistem global yang rusak akibat hegemoni kapitalis (penjelasan terkait dapat dilihat pada https://muslimahtimes.com/2025/06/13/krisis-palestina-dan-urgensi-sistem-islam-mengapa-dunia-butuh-khilafah/).

No comments:
Post a Comment