Oleh Umi Lia
Member Akademi Menulis Kreatif
Saat Bulan Rajab, masjid-masjid dipenuhi kaum muslimin memperingati peristiwa Isra Mi'raj. Pada umumnya mereka mengundang penceramah untuk membahas hikmah di balik kejadian tersebut, yaitu turunnya syariat shalat. Setiap tahun peringatan seperti ini menjadi ajang yang sangat penting untuk memperkuat keimanan dan memperdalam ilmu agama. Harapannya adalah dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk menjalani kehidupan lebih bermakna sesuai dengan tuntunan Islam. (Liputan6, 10/1/2026)
Peristiwa Isra Mi'raj terjadi pada tahun kesepuluh atau kesebelas setelah kenabian, yaitu pada tanggal 27 Rajab. Setelah itu, pada musim haji tahun keduabelasnya terjadi Bai'at Aqabah Pertama. Setahun kemudian ada Bai'at Aqabah kedua, yang merupakan bai'at pengangkatan Rasul saw. sebagai pemimpin kaum muslim. Selanjutnya Beliau hijrah dan sejak itu umat Islam mempunyai negara yang dipimpin Nabi saw. dengan menerapkan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika Rasul saw. wafat, kepemimpinan ini dilanjutkan oleh para sahabat dan para khalifah yang banyak. Hingga akhirnya runtuh tanggal 28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M. Sejak saat itu tidak ada lagi yang menerapkan syariah secara menyeluruh di muka bumi ini.
Mayoritas muslim memahami Isra Mi'raj hanya sebagai peristiwa turunnya perintah shalat. Padahal itu bukan satu-satunya pesan inti peristiwa agung ini. Ada dimensi politik yang harus diperhatikan, ketika Rasul memimpin shalat para nabi dan rasul di Masjid Aqsha. Terbukti tidak lama setelah itu ada kejadian yang merubah arah dakwah, yaitu terjadi Bai'at Aqabah kedua. Sejak saat itu, Nabi saw. bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, Beliau juga sebagai pemimpin negara yang menerapkan hukum Allah. Dengan demikian spiritualitas dan perubahan politis ideologis tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang yang melekat saling melengkapi.
Lebih dari itu shalat merupakan bahasa kiasan yang ada dalam hadis yang isinya melarang memerangi pemimpin yang masih menegakkan shalat. Maksudnya bukan yang melakukan shalat dari takbiratul ihram sampai salam, tapi menegakkan hukum Allah. Sementara faktanya sekarang penguasa-penguasa muslim tidak ada satu pun yang menerapkan syariah Islam. Hanya saja umat belum menyadari, bahwa penerapan sistem sekuler demokrasi saat ini, menyalahi apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mengaku beriman. Ketika mengikrarkan bahwa tiada tuhan selain Allah, semestinya meyakini juga bahwa sistem aturan yang terbaik adalah hukum buatanNya. Kemudian dengan sepenuh hati menjalankan apa yang diyakini tersebut dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat dan bernegara.
Saat ini syariah Islam diabaikan kecuali hanya sebagian kecil yang diamalkan menyangkut ibadah ritual per individu. Sementara yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara sebagian besarnya tidak dilaksanakan. Seakan-akan umat alergi terhadap hukum Allah. Sehingga apa yang terjadi? Bencana demi bencana terus datang silih berganti. Banjir, longsor, kebakaran hutan, keracunan masal, kemiskinan ekstrem, tawuran, geng motor dan lain-lain. Semua itu terjadi sebagai konsekuensi dari kehidupan yang diatur menurut kepentingan segelintir orang. Sebagai makhluk, manusia itu lemah tidak bisa membuat aturan yang menyeluruh dan selaras dalam segala bidang. Jika dia memutuskan sesuatu, maka tidak bisa menuntaskan semua masalah. Ekonomi bisa diselamatkan tapi lingkungan hancur, gizi anak-anak sekolah terpenuhi tapi upah guru terabaikan. Begitu seterusnya, beres satu persoalan muncul problem-problem baru. Tidakkah umat menyadarinya?
Sejak khilafah terakhir di Turki runtuh, umat Islam kehilangan sosok yang menyatukannya dan lenyaplah institusi yang menerapkan hukum Allah. Dunia secara umum terpuruk di bawah hegemoni kepemimpinan kapitalisme global. Bukan hanya kaum muslim, non muslim pun menderita di bawah sistem yang menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan hidupnya, kecuali segelintir orang saja yang merasa beruntung. Selain itu penjajahan terjadi di mana-mana baik secara fisik maupun non fisik. Yang kuat mengeksploitasi yang lemah, seperti hukum rimba siapa kuat dia berkuasa.
Karena itu umat harus menyadari apa masalah yang terjadi dan apa solusi yang mampu mengatasinya. Di bulan Rajab dan di momen memperingati Isra mi'raj ini, seharusnya ada pelajaran yang bisa diambil untuk dijadikan pendorong terjadinya perubahan yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara saat ini. Lebih dari itu orang yang beriman mempunyai kewajiban untuk mewujudkan peradaban Islam sebagaimana Rasul dan para sahabat dulu melakukannya.
Banyak pelajaran penting dari peristiwa Isra Mi'raj. Di antaranya yang paling relevan untuk saat ini adalah, pertama, aspek ketaatan. Hal ini terkandung dalam perintah shalat lima waktu. Ia merupakan tiang agama, pembeda antara orang beriman dengan orang kafir dan menjadi sarana yang bisa mencegah seseorang dari berbuat maksiat. Kedua, aspek politik. Pada saat Rasul menjadi imam para nabi dan rasul, tersirat bahwa ada peralihan kepemimpinan dari Bani Israil kepada Rasul saw. dan umat Beliau. Sementara risalah yang dibawanya harus menjadi aturan yang diterapkan sebagai jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Karena itu pada momen peringatan Isra Mi'raj ini, orang yang beriman kembali diingatkan bahwa membumikan hukum Allah itu wajib. Caranya dengan meninggalkan sistem sekuler kapitalisme dan menegakkan khilafah yang akan menerapkan syariah Islam.
Khilafah akan menjadi solusi bagi setiap masalah saat ini. Penjajahan Zionis terhadap Palestina yang menjadi tempat perjalanan Isra Mi'raj Rasul dulu akan bisa diakhiri. Karena institusi inilah yang bisa menggerakkan umat untuk berjihad mengusir penjajah tersebut. Selain itu kezaliman penguasa kafir terhadap penduduk muslim yang minoritas di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina Selatan akan bisa dihentikan. Kemudian wilayah yang dulu bersatu dan dipecah belah setelah perang dunia kesatu akan disatukan kembali menjadi Negara Islam yang besar dan kuat. Untuk itu tentara muslim harus menyambut seruan penegakkan khilafah demi bisa menolong saudaranya yang terjajah dan terzalimi.
Umat Islam adalah umat terbaik. DNA pejuang mengalir dalam darahnya. Mereka adalah anak keturunan al-Mu'tasim, cucu Sholahudin al-Ayubi, cicit Muhammad al-Fatih. Begitu banyak tokoh yang bisa dijadikan inspirasi. Kaum muslim pasti bisa mengangkat derajat agama dan umat ini dari keterpurukannya. Kemenangan ini memang sudah dikabarkan oleh Rasul saw. dan dijanjikan Allah swt.
"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan mejadikan mereka berkuasa di muka bumi. Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS an-Nur ayat 55)
Perjuangan menegakkan khilafah ini harus ada yang memimpin dan caranya mengikuti apa yang dilakukan Rasul dulu, ketika berdakwah di Mekah sebelum hijrah ke Madinah. Sejak tahun 1953 M sudah berdiri partai Islam ideologis yang berjuang siang dan malam. Mereka lah yang memimpin dan membimbing orang-orang yang tergabung di dalamnya untuk terus menerus tanpa putus asa menyeru umat agar mau melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakkan institusi penerap syariah. Karena hanya negara yang mempunyai kekuatan yang akan mampu membebaskan saudara-saudara muslim dari penjajahan. Oleh karena itu, orang yang beriman dan bertakwa semestinya menyambut seruan perjuangan ini.
Wallahu a'lam bish shawab.
No comments:
Post a Comment