Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Muda Takut Nikah, Luka Ekonomi Kapitalisme?

Thursday, January 08, 2026 | Thursday, January 08, 2026 WIB

 


Oleh. Siti Rahmah, S. Ak

(Pemerhati Kebijakan Publik) 


Pernikahan adalah ikatan suci antara dua insan (laki-laki dan perempuan) untuk hidup bersama sebagai suami-istri, membentuk keluarga dan saling tanggung jawab.

Namun fenomena yang kita temui saat ini, banyak anak muda menilai kestabilan ekonomi lebih penting daripada segera menikah.

Terjadinya lonjakan harga kebutuhan, biaya hunian, dan ketatnya persaingan kerja menjadi alasan utama. Ditambah dengan banyaknya narasi “marriage is scary” semakin memperkuat ketakutan akan pernikahan.

Dalam lima tahun terakhir BPS telah mencatat persentase pemuda yang belum kawin menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Yaitu antara tahun 2020 dan 2024,

persentasenya meningkat hampir mencapai 10 persen. Adapun hasil analisis dari Pew Research Center dengan judulnya yaitu "_Young Adults in the U. S. are Reaching Key Life Milestones Later Than in the Past_" menghasilkan analisis bahwasanya tekanan biaya hidup serta kepastian ekonomi memang menjadi faktor generasi muda di Amerika Serikat untuk menunda fase milestone atau menikah, memiliki rumah maupun untuk memiliki anak. (kompas, 27-11-2025).


Ketakutan hidup miskin di tengah kondisi yang karut marut, biaya hidup tinggi, sulit mendapatkan pekerjaan, dan upah rendah membuat para pemuda merasa bahwa menikah hanya akan menambah beban hidupnya. Untuk biaya hidup sendiri saja sulit apalagi harus membentuk dan menghidupi keluarga baru. Selain itu gaya hidup materialisme dan hedon yang tumbuh dari pendidikan sekuler, serta  media liberal membuat generasi muda terlena menikmati hidup bebas, termasuk hidup berpasangan tanpa ikatan sah. 


Dalam kondisi saat ini untuk mengadakan prosesi pernikahan serta walimah pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. maka secara tak sadar kaum muda menganggap pernikahan dipandang sebagai beban, bukan sebagai ladang kebaikan dan jalan melanjutkan keturunan. Menurut mereka jika tidak punya finansial yang cukup tidak bisa menikah. Padahal dalam sistem kapitalis saat ini yang benar-benar kuat  finansial hanya segelintir orang yang benar-benar memiliki banyak kekayaan (pemilik modal).


Selain itu negara sebagai regulator cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat sehingga beban hidup dipikul individu. Kaum muda sulit untuk mendapatkan pekerjaan, apalagi pekerjaan yang layak. Tidak tersedianya lapangan pekerjaan membuat pemuda yang notabene akan menjadi kepala keluarga tidak mampu memberikan nafkah yang sesuai kebutuhan. 

Itulah realita kehidupan yang terbelenggu dalam sistem kapitalis. Melahirkan banyak ketakutan di tengah masyarakat.


Berbeda halnya dengan sistem Islam. Dalam Islam, negara menjamin kebutuhan dasar rakyat dan membuka lapangan kerja yang luas melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Dengan pengelolaan milkiyyah ammah oleh negara, bukan swasta/asing, sehingga hasilnya kembali untuk kesejahteraan masyarakat dan mampu menekan biaya hidup. Dengan kas negara yang memadai negara juga dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan fasilitas umum dengan biaya yang murah bahkan bisa gratis. 


Dengan pendidikan berbasis akidah Islam akan membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme yang mengedepankan hawa nafsu. Mereka justru menjadi penyelamat umat. Islam akan memulai dari penguatan institusi keluarga, dengan mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjagaan keturunan. Negara juga akan mendorong pemuda untuk segera menikah jika sudah mampu  secara keseluruhan.


Sebagaimana  Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:


وَاَ نْكِحُوا الْاَ يَا مٰى مِنْكُمْ وَا لصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَا دِكُمْ وَاِ مَآئِكُمْ ۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (TQS. An-Nur 24: Ayat 32)


Maka, tidak akan ragu ataupun takut generasi muda untuk menikah dengan mekanisme aturan Islam ketika diterapkan.

Karena semua akan terjamin, baik tersedianya lapangan pekerjaan yang layak, maupun kesejahteraan yang bisa dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.


Dalam Islam negara akan melaksanakan perannya sebagai periayah masyarakat, sehingga tidak akan ditemukan adanya pemuda yang takut menikah karena menganggap pernikahan sebagai beban. 


Bukti kegemilangan peradaban di bawah naungan sistem Islam tercatat jelas dalam sejarah. Oleh karena itu kita harus berjuang sungguh-sungguh agar sistem Islam bisa diterapkan kembali, menggantikan sistem kapitalis-sekuler yang nyata tidak sesuai fitrah manusia. Sehingga semua lapisan masyarakat bisa hidup tentram tanpa dibayangi rasa takut akan kemiskinan.


Wallahu' a'lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update