Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Game Online dalam Pusaran Kapitalisme Digital: Hiburan atau Alat Perusakan Generasi?

Monday, January 12, 2026 | Monday, January 12, 2026 WIB Last Updated 2026-01-12T08:36:41Z



Oleh. Rika Kamila, S. Ag.


Ada tiga alasan penggunaaan internet secara masif di era hari ini, yaitu memberikan kesenangan, tantangan, dan mengatasi stres. Bermain game online menjadi salah satu pilihan ketika bersantai atau mengisi waktu luang setelah melakukan aktivitas yang berat dan serius yang dirasakan dapat menyegarkan pikiran yang lelah, meningkatkan konsentrasi, dan mengasah kerjasama antara pemain satu dengan yang lain.


Kemajuan game online saat ini sangat pesat dengan inovasi teknologi, grafis lebih realistis, dan interaktivitas tinggi, mendorong pertumbuhan pemain di Indonesia, namun diiringi tren peningkatan kecanduan yang memerlukan kontrol, meski game online juga menawarkan dampak positif seperti peningkatan kemampuan kognitif, kerja sama tim, dan pemecahan masalah jika dimainkan dengan bijak, menjadi media hiburan sekaligus potensi pembelajaran alternatif. 


Eryzal (psikolog) menyatakan bahwa, “Kecanduan game online pada remaja akan berdampak pada beberapa aspek kehidupan seperti aspek kesehatan, aspek psikologis, aspek akademik, aspek social, dan aspek keuangan.


Dikutip dari CNN Indonesia, Psikolog Dr. Irna Minauli, M.Si mengungkap hasil pemeriksaan psikologis terhadap A, siswi kelas 6 sekolah dasar (SD) yang diduga membunuh ibu kandungnya di Medan. Hasil asesmen, A memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.


Irna menegaskan bahwa peristiwa tragis ini bukan dipicu oleh gangguan kesehatan mental. Faktor utama yang lebih berperan adalah paparan kekerasan yang dialami dan disaksikan anak, baik dari lingkungan keluarga maupun dari tontonan yang dikonsumsi sehari-hari. Game online yang kerap dimainkan A di ponselnya turut memengaruhi kondisi emosional anak. Selama ini, A diketahui memainkan game Mystery Murder serta membaca anime Detektif Conan.


Teknologi tidak pernah netral. Ia menjadi perpanjangan tangan dari hasrat dominasi. Mesin tidak punya niat, tapi manusia yang mengendalikannya punya suatu falsafah hidup yang menjadi landasan perbuatan. Pada game itu sendiri, sering kali menjadi cermin dari dinamika kekuasaan, kebijakan pemerintah, konflik global, dan isu sosial yang mampu memengaruhi persepsi pemain terhadap masalah politik dan sosial di dunia nyata. Game membawa beragam ideologi dan nilai seperti liberalisme, komunisme, individualisme, kolektivisme, keadilan sosial, kemanusiaan, toleransi, nasionalisme, dan feminisme, yang disajikan melalui narasi, pilihan pemain, mekanisme gameplay, dan representasi karakter, mencerminkan pandangan dunia pembuatnya sekaligus memengaruhi pemain.


Kita sering menyebut ini sebagai penyalahgunaan teknologi, seolah masalahnya hanya pada ketidakbijaksanaan gamer atau manusia dalam penggunannya. Padahal masalahnya struktural. Platform menyediakan fitur tanpa pengamanan yang memadai, lalu bersembunyi di balik jargon inovasi. Negara yang memiliki peranan dalam menghadirkan ruang aman di era digital hari ini, lagi-lagi tidak maksimal menjalankan peranannya, karena fokusnya tidak ditujukan seluruhnya ke sana, melainkan profit dan material semata. Dalam sistem Kapitalisme – Liberal hari ini, mendasarkan pandangan hidup berpusat pada perolehan keuntungan materi sebesar-besarnya dan tak mengindahkan nilai apapun yang tidak sejalan dengan pandangan hidupnya, dengan kata lain mendiskreditkan norma agama dan sosial yang dianggap penuh dengan pembatasan ruang gerak.


Dalam sudut pandang Islam, negara wajib untuk menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan karena generasi adalah penentu keberlangsungan peradaban dan kualitas umat di masa depan. Tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan hanya kepada individu atau keluarga, tetapi merupakan kewajiban struktural negara sebagai ra‘in (pengurus) yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Dalam realitas hari ini, salah satu sumber kerusakan terbesar datang dari hegemoni ruang digital yang dikuasai kapitalisme global, di mana platform, algoritma, dan arus informasi dikendalikan oleh kepentingan ekonomi yang menormalisasi pornografi, kekerasan, liberalisme moral, konsumerisme, serta pola hidup yang merusak fitrah manusia. 


Hegemoni ini menjadikan generasi bukan lagi subjek yang dibina, tetapi objek pasar yang dieksploitasi, sehingga negara wajib melawannya dengan membangun kedaulatan digital yang memastikan ruang digital tunduk pada nilai-nilai Islam, melindungi akidah, akhlak, dan pola pikir generasi. Pada saat yang sama, Islam menawarkan mekanisme perlindungan generasi yang komprehensif melalui tiga pilar utama: ketakwaan individu yang membentuk kontrol internal, kontrol masyarakat melalui budaya amar makruf nahi mungkar yang hidup, serta perlindungan negara melalui regulasi, kebijakan, dan sistem yang menjaga kemaslahatan. 


Ketiga pilar ini tidak akan berjalan optimal jika berdiri sendiri, tetapi harus ditopang oleh penerapan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya Islam secara menyeluruh, sehingga perlindungan generasi bukan sekadar slogan moral, melainkan menjadi sistem peradaban yang nyata dan memberikan kebaikan bagi seluruh alam.


Wallahua'lam bissawab. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update