Penulis Nurul Khotimah
Pegiat Dakwah
Penderitaan warga Gaza bertambah ketika tiba musim dingin yang disertai hujan deras melanda disana.
Dilansir dari Ramallah(antaranews. com), Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) mengatakan hujan yang mengguyur Jalur Gaza memperburuk situasi di wilayah tersebut, dan membuat para keluarga pengungsi mencari tempat berteduh yang aman. Namun tidak ditemukan karena semua bangunan hancur akibat serangan zionis.
Akhirnya para pengungsi terpaksa berlindung di tenda-tenda darurat.(15 November 2025)
Hujan deras yang terus mengguyur Gaza, mengakibatkan badai banjir di musim dingin dan menyebabkan tenda sobek dan roboh. Alas tidur, pakaian dan perbekalan lainnya tak luput dari genangan air hujan. Terlihat para pengungsi menumpuk batu dan pasir untuk mengangkat alas tidur dan pakaian agar tidak basah . Sebagian lainnya mencari tempat di sudut-sudut yang aman menunggu hujan reda.
Sangat miris sekali kondisi di kamp pengungsian.
Setelah genosida, kelaparan, kini bertambah lagi penderitaan mereka dengan tidak adanya tempat berteduh karena tenda darurat pun hancur(antaranews.com) 15 November 2025
Kesepakatan yang Menipu
Pada tanggal 10 Oktober 2025 terjadi kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata.
Meski gencatan senjata telah disepakati Zionis terus memblokir masuknya material perlindungan seperti tenda dan rumah mobil. Padahal semua itu sangat dibutuhkan warga menjadi tempat berlindung menghadapi musim dingin dan curah hujan tinggi.
Setidaknya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya luka - luka sejak gencatan senjata dimulai.
Gencatan senjata yang disepakati nyatanya hanya tipuan untuk jeda mempersiapkan strategi Militer oleh zionis.
Terbukti selama gencatan senjata, Israel tetap melakukan serangan di berbagai wilayah di Gaza. Tembakan dan ledakan terus terjadi dan membahayakan warga sipil, yang seharusnya bisa kembali ke rumahnya masing-masing selama gencatan senjata, meski hanya melihat puing-puingnya saja.
Di pengungsian warga tinggal di tenda-tenda lusuh dan robek dengan kondisi kelaparan, kebanjiran, dan kedinginan.Semua krisis yang terjadi di Gaza ini menunjukkan bahwa gencatan senjata bukan solusi, karena akar masalahnya adalah penjajahan.
Dukungan Barat
Israel yang di dukung negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa akan terus menjadikan negeri Palestina dibawah penjajahan mereka.
Amerika Serikat adalah sponsor utama Israel baik militer maupun politik. Setiap ada resolusi PBB yang mengkritik Israel, Amerika hampir pasti memveto, untuk melindungi Israel.
Dukungan Barat lainnya berupa pengiriman persenjataan selama peperangan berlangsung. Semua itu yang menjadikan Israel sombong, merasa kuat, seolah tak terkalahkan.
Berbagai solusi untuk menyelesaikan konflik pun disodorkan Barat, khususnya Amerika. Usulan Presiden Amerika Donald Trump melakukan gencatan senjata di Gaza adalah upaya menciptakan kedamaian palsu di Palestina dan melegalkan penjajahan Israel dibawah kendali Amerika.
Di sisi lain, respon para penguasa Muslim yang begitu saja menyetujui rencana Barat, menandakan bahwa mereka mengkhianati amanah umat dan menjadi pelayan kepentingan Barat dan Zionis.
Parahnya lagi, adanya anggapan bahwa dengan usainya baku tembak di Gaza, masyarakat dunia menilai kondisinya menjadi aman dan damai . Padahal Israel tetap saja menyerang warga Palestina, terbukti dari terdengarnya suara tembakan setiap hari.
Kenyataannya usulan gencatan senjata hanyalah untuk menunda pembantaian, menjadikan krisis kemanusiaan semakin parah di Gaza, Palestina .
Solusi Barat terbukti tidak akan pernah menyelesaikan masalah Palestina, justru mereka ingin melanggengkan penjajahan di sana.
Kepemimpinan Ideologis
Penjajahan harus dihilangkan dari muka Bumi, termasuk Palestina. Apalagi Palestina adalah tanah milik kaum Muslimin yang sebelumnya menjadi bagian dari Kekhilafahan Utsmaniyah. Jadi masalah utama Palestina adalah penjajahan atau perampasan tanah oleh Zionis Yahudi. Maka solusi yang tepat untuk Palestina dalam Islam, yaitu dengan pengiriman tentara untuk berjihad membebaskan tanah umat Islam dari penjajahan. Jihad adalah metode syar'i yang seharusnya menjadi pegangan para pemimpin negeri - negeri Muslim.
Namun jihad tidak akan terealisasi tanpa adanya kepemimpinan ideologis yang menyatukan umat dan menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh, yaitu Khilafah.
Khilafah adalah junnah (perisai) yang akan menghapus segala bentuk penjajahan atas warganya.
Sedangkan pemimpin negara dalam Khilafah dinamakan Khalifah, pemimpin yang akan menggerakkan tentaranya untuk mengusir penjajah.
Sebagaimana sabda Nabi Saw :
Sungguh Imam (Khalifah) adalah perisai. Orang - orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya. (HR Muslim)
Jadi seruan jihad dan menerapkan hukum Allah Swt di seluruh sisi kehidupan harus terus di suarakan dengan lantang melalui dakwah Islam ideologis ke tengah-tengah umat. Terutama menyadarkan umat tentang pentingnya perjuangan bagi tegaknya kepemimpinan Islam yang akan menyatukan kekuatan Islam, untuk mengusir penjajah di Palestina dan negeri Islam lainnya.
Wallahualam bishshawab
No comments:
Post a Comment