Oleh Isma Humaira
Kasus perundungan di Indonesia terus meningkat. Sepanjang 2024 terdapat 2.057 laporan pelanggaran hak anak, dan pada 2025 ditemukan 25 kasus bunuh diri anak yang terkait bullying. Di sekolah, bullying banyak terjadi di jenjang SMP, dan 24,4% siswa berpotensi mengalaminya. Berbagai kasus viral menunjukkan bahwa bullying menyebabkan luka fisik, gangguan mental, depresi, hingga kematian, sehingga membutuhkan perhatian serius semua pihak.
Bullying tumbuh karena lingkungan sosial yang buruk: keluarga tidak harmonis, kurang komunikasi, serta media sosial yang dipenuhi budaya mengejek. Film, serial, dan gim yang menormalisasi kekerasan juga menumpulkan empati anak.
Islam menegaskan bahwa mengejek orang lain adalah dosa, Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11.
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain. Boleh jadi yang diejek itu lebih baik dari pada yang mengejek."
Karena itu Islam menyediakan sistem sosial yang melindungi anak melalui tiga pilar: Pertama, keluarga sebagai pendidik pertama yang membentuk akhlak. Orang tua bukan hanya pemberi nafkah. Mereka sejatinya juga adalah pendidik, pengarah dan pelindung anak-anaknya. Kedua, sekolah sebagai pembentuk kepribadian Islam yang taat dan berakhlak mulia. Ketiga, negara yang melindungi anak dengan hukum syariah, memberi sanksi tegas pada pelaku, dan memastikan lingkungan pendidikan yang aman.
Maraknya bullying juga mencerminkan kerusakan sistem Kapitalisme-sekularisme yang mengagungkan kebebasan, popularitas, dan kekuatan, sehingga yang kuat menindas yang lemah. Individu, keluarga, dan sekolah tidak dapat menyelesaikan masalah ini sendirian. Islam menawarkan solusi menyeluruh melalui penerapan syariah secara kaffah. Dalam sistem Islam, pendidikan, pergaulan, media, dan masyarakat dibangun atas dasar takwa, saling menjaga, dan melindungi kehormatan manusia. Dengan itu, anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih, dan terbebas dari kekerasan.
Syariah Islam adalah jalan terbaik untuk menciptakan generasi yang kuat dan berakhlak mulia. Ini bukan isapan jempol, karena sudah terbukti ketika Islam diterapkan mampu mencapai kejayaan hingga 13 abad.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
No comments:
Post a Comment