Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Remaja Korban Bullying Kian Membahayakan: Saatnya Kembali pada Pendidikan Islam sebagai Solusi Sistemik

Sunday, November 16, 2025 | Sunday, November 16, 2025 WIB Last Updated 2025-11-16T12:20:28Z



Penulis : Neni Maryani

Pendidik

Fenomena bullying di kalangan remaja Indonesia kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Perundungan tidak lagi berhenti pada ejekan atau kekerasan fisik ringan, tetapi sudah berkembang menjadi aksi-aksi ekstrem yang mengancam keselamatan banyak orang. Para korban bullying yang selama ini hanya diam dan memendam luka, mulai menunjukkan reaksi berbahaya sebagai bentuk pelampiasan dari tekanan psikologis yang tidak tertangani.


Fakta-fakta yang muncul dalam beberapa bulan terakhir memperkuat kekhawatiran ini. Pertama, publik sempat digemparkan oleh kasus seorang santri yang membakar asrama karena sakit hati setelah berulang kali menjadi korban bullying dari teman-temannya. Tindakan fatal ini menimbulkan kerugian besar dan hampir merenggut nyawa rekan-rekannya sendiri. Kedua, seorang siswa di salah satu SMA Negeri di Indonesia melakukan aksi ledakan di lingkungan sekolah, dan penyelidikan awal menunjukkan bahwa ia diduga kuat telah lama menjadi korban perundungan. Ketiga, berbagai laporan mengungkap bahwa pelaku-pelaku tindakan ekstrem tersebut mengalami tekanan sosial berat berupa ejekan, pelecehan, perundungan verbal, dan pengucilan. Ini menunjukkan bahwa bullying tidak hanya melukai, tetapi bisa “mematikan” karakter dan mendorong korban pada kondisi psikologis yang sangat gelap.


Fenomena yang tersebar di berbagai daerah ini menunjukkan bahwa bullying bukan lagi perilaku menyimpang yang insidental. Ia telah menjadi masalah sistemik dalam dunia pendidikan kita. Jika di berbagai tempat muncul pola perundungan yang sama, ditambah munculnya respons ekstrem dari korban, maka jelas bahwa kita tengah menghadapi kegagalan struktural dalam pembinaan karakter bangsa.


Salah satu faktor yang memperparah situasi adalah media sosial. Remaja kini sangat mudah mengakses konten perundungan, bahkan banyak menjadikan bullying sebagai bahan bercanda atau konten viral. Banyak rekaman kejadian bullying disebarkan untuk hiburan, bukan untuk dikritisi. Ini adalah tanda bahwa kita sedang berada dalam krisis adab yang serius. Nilai-nilai moral, empati, dan rasa kemanusiaan menghilang ketika remaja lebih mengutamakan likes, komentar, dan eksistensi digital.


Yang lebih mengkhawatirkan lagi, media sosial juga menjadi tempat bagi korban bullying untuk melihat dan meniru tindakan ekstrem sebagai bentuk pelarian. Dari video pembalasan dendam, konten kekerasan, hingga cerita-cerita balas sakit hati, semuanya dapat dengan mudah mereka akses. Akibatnya, ruang digital yang seharusnya memberikan edukasi justru mempercepat proses radikalisasi emosi pada remaja yang tengah terluka.


Melihat lebih dalam, masalah bullying terus berulang karena ada kesalahan besar dalam sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang diterapkan saat ini. Sistem ini mengarahkan pendidikan hanya pada aspek kognitif dan pencapaian akademik. Siswa dijejali target angka, kompetisi, dan standar materi, namun adab, akhlak, empati, dan nilai ruhiyah tidak menjadi prioritas. Pendidikan kehilangan jati dirinya sebagai proses pembentukan manusia yang berkarakter.


Padahal, generasi yang beradab tidak bisa dibentuk hanya dengan ilmu materi. Mereka membutuhkan pondasi akidah yang kuat, pembinaan karakter yang intensif, dan lingkungan yang menanamkan nilai ketakwaan sejak dini. Tanpa itu semua, ruang pendidikan hanya akan menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral dan emosional.


Di sinilah Islam menghadirkan solusi sistemik, bukan parsial.

Solusi Islam Kaffah untuk Menghentikan Akar Bullying

1. Tujuan Pendidikan Islam: Membentuk Kepribadian Islam

Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam), yang tercermin dalam pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) berdasarkan akidah. Allah berfirman:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini menegaskan bahwa orientasi hidup, termasuk pendidikan, harus bermuara pada pembentukan hamba yang taat dan beradab.

2. Pendidikan Harus Mengutamakan Adab dan Akhlak

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad)


Dalam sistem Islam, adab bukan pelengkap, tetapi fondasi utama. Anak tidak hanya dilarang melakukan bullying, tetapi dibina agar memiliki kesadaran bahwa menyakiti orang lain adalah dosa dan merusak kehormatan diri.

3. Kurikulum Berbasis Aqidah Islam

Kurikulum Islam tidak memisahkan ilmu dari nilai ruhiyah. Setiap pelajaran diarahkan untuk memperkuat ketakwaan, akhlak, dan kesadaran sosial. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menjadi dasar bahwa pendidikan harus menjadi penjaga moral generasi.

4. Negara Wajib Menjamin Lingkungan Pendidikan yang Beradab

Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam pembinaan moral masyarakat. Rasulullah SAW bersabda:

“Imam (pemimpin) adalah pengurus, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Negara tidak boleh menyerahkan pendidikan kepada pasar, apalagi kepentingan kapital. Negara wajib:

menyediakan pendidikan berkualitas dan gratis,

membangun kurikulum adab,

menciptakan lingkungan sekolah yang aman,

dan mencegah segala bentuk kezaliman sosial termasuk bullying.

Inilah fungsi khilafah sebagai institusi penjaga umat dan pelindung generasi.


Meningkatnya tindakan ekstrem dari korban bullying adalah alarm keras bagi bangsa ini. Kita tidak bisa lagi hanya menyalahkan anak, guru, atau sekolah. Yang harus diperbaiki adalah sistem pendidikannya. Selama pendidikan berjalan dalam paradigma sekularisme dan kapitalisme, selama akidah tidak menjadi fondasi, selama adab tidak diutamakan, maka kasus bullying dan balas dendam ekstrem akan terus berulang.


Islam menawarkan solusi komprehensif yang menyentuh akar masalah: pembentukan kepribadian, pembinaan adab, kurikulum berbasis akidah, dan dukungan penuh negara. Saatnya bangsa ini kembali kepada sistem pendidikan Islam kaffah, karena hanya Islam yang mampu menyelamatkan generasi dari kehancuran moral dan kekerasan sosial.


Wallahu’alam Bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update