Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Realita Gaza dan Perlunya Kepemimpinan Islam

Thursday, November 27, 2025 | Thursday, November 27, 2025 WIB

 




Yanti Novianti

(Pegiat Dakwah)



Sejak Jumat pagi, wilayah Gaza dilanda tekanan udara rendah yang membawa angin dingin dan hujan deras. Cuaca buruk ini semakin memperberat kondisi 1,5 juta warga sipil yang terpaksa mengungsi, menambah beban hidup mereka di tengah situasi konflik yang belum berakhir.(www.antaranews.com 15/11/2025)

Keesokan harinya yaitu pada hari Sabtu, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyerukan kepada Israel agar membuka akses bagi masuknya perlengkapan hunian darurat ke Jalur Gaza. Permintaan ini muncul karena hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut telah merendam banyak tenda tempat warga sipil berlindung. Kondisi ini membuat ribuan keluarga yang sudah kehilangan rumah kini menghadapi situasi yang jauh lebih sulit, basah, kedinginan, dan tanpa perlindungan yang layak.




Sementara itu, warga Gaza yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian kembali dipaksa menghadapi ujian beratnya musim dingin. Curah hujan yang tinggi memicu banjir yang menerjang lokasi-lokasi tempat mereka berlindung. Banyak tenda tak mampu menahan serbuan air dan angin, hingga robek dan runtuh. Situasi ini membuat derita para pengungsi kian mendalam, seolah hidup mereka terus diselimuti ketidakpastian dan keteguhan yang diuji tanpa henti.



Meski telah ada kesepakatan gencatan senjata, akses terhadap kebutuhan perlindungan di Gaza tetap terhambat. Otoritas Zionis masih membatasi masuknya berbagai perlengkapan vital seperti tenda, bahan bangunan ringan, dan unit hunian portabel yang sangat dibutuhkan warga pengungsi. Akibatnya, ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa bertahan di lokasi-lokasi penampungan yang minim fasilitas, sementara kondisi cuaca yang tidak menentu semakin memperparah situasi.



Gencatan Senjata Tak Menjamin Keselamatan


Sejak awal masa gencatan senjata pada 10 Oktober, situasi di Gaza tetap jauh dari aman. Berdasarkan  laporan dari pihak kesehatan di Gaza, sejak dimulainya gencatan senjata jumlah korban tetap meningkat. Sekitar 260 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 630 orang terluka akibat rangkaian insiden yang masih berlangsung di berbagai wilayah. (www.antaranews.com 15/11/2025).



Di saat warga berharap bisa merasa lebih aman, banyak keluarga justru mengatakan bahwa suara tembakan dan ledakan masih sering terdengar secara tiba-tiba. Kejadian yang muncul tanpa diduga ini membuat masyarakat tetap hidup dalam bahaya dan ketakutan, meskipun secara resmi dikatakan bahwa pertempuran sudah mereda.




Situasi di Gaza menegaskan bahwa penghentian tembak saja tidak cukup untuk mengakhiri penderitaan warga. Selama sumber persoalan, yaitu pendudukan yang berlangsung puluhan tahun, tidak dihapus, ketegangan dan kekerasan akan terus berulang. Gencatan senjata hanya memberikan jeda sementara, sementara realitas ketidakadilan yang menjadi inti konflik tetap tidak tersentuh.



Di sisi lain,  dunia kerap melihat kondisi Gaza  berada dalam keadaan stabil dan aman, padahal kenyataannya situasi di wilayah itu terus memburuk dari hari ke hari. Persepsi keliru ini tak lepas dari pengaruh kuat AS yang mengendalikan narasi global dan menutupi kenyataan pahit yang dialami warga Palestina.


Hening yang Menipu


Berbagai pendekatan yang ditawarkan negara-negara Barat terbukti tidak mampu menyelesaikan persoalan di Palestina. Bahkan, banyak kebijakan mereka justru membuat keadaan tetap seperti sekarang dan mempertahankan bentuk penjajahan yang berlangsung di wilayah itu.



Alih-alih membawa perubahan positif, langkah yang mereka dorong sering kali hanya menjaga kepentingan mereka sendiri, sehingga rakyat Palestina tetap hidup dalam ketidakadilan dan konflik yang tidak kunjung selesai.



Dalam situasi yang saat ini terjadi, para pemimpin di negara-negara Muslim semestinya menjadikan prinsip dan ajaran Islam sebagai landasan dalam mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang mereka hadapi. Nilai-nilai Islam menawarkan arah yang jelas dan menyeluruh, sehingga dapat menjadi pedoman kuat dalam mengambil keputusan yang adil dan berpihak pada umat.



Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya orang yang menolong suatu kaum dalam kezaliman, maka ia akan datang pada hari kiamat bersama mereka.”

(HR. Abu Dawud)



Solusi Hakiki atas Penjajahan di Gaza


Gaza membutuhkan upaya pembebasan yang sungguh-sungguh, yang berlandaskan kekuatan dan ketegasan syariat. Dalam pandangan Islam, jihad yang terarah dan dipimpin oleh otoritas yang sah merupakan jalan untuk menghentikan penindasan dan mengembalikan hak-hak kaum tertindas. Di sinilah peran Khilafah menjadi sangat penting.



Kepemimpinan berdasarkan syariat Islam dipahami sebagai junnah, yakni perisai pelindung bagi umat. Ia berfungsi menjaga kehormatan, keamanan, dan kedaulatan kaum Muslim dari segala bentuk agresi dan penjajahan. Dengan kepemimpinan tunggal yang berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah, kepala negara memiliki kewenangan politik, militer, dan diplomatik yang terpusat  sehingga mampu memberi respon cepat dan tegas terhadap ancaman yang menimpa umat di berbagai penjuru dunia.


Dalam sistem ini, pembelaan terhadap wilayah yang terjajah bukan sekadar seruan moral, tetapi kewajiban negara yang dilaksanakan secara nyata. Pemimpin syariat islam menghimpun kekuatan umat, menggerakkan potensi militernya, dan menolak segala bentuk dominasi asing yang merampas hak-hak warganya. Ia hadir untuk memastikan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat memperpanjang penjajahan, menumpahkan darah yang tidak berdosa, atau menginjak kehormatan kaum Muslim tanpa konsekuensi.



Dengan demikian, apa yang dibutuhkan Gaza bukan sekadar simpati internasional atau diplomasi yang bertele-tele, tetapi sebuah kepemimpinan yang mampu bertindak sebagai perisai sejati membebaskan, melindungi, dan menegakkan keadilan secara menyeluruh. Sistem dengan kepemimpinan syariat islam  inilah yang diyakini mampu mengakhiri siklus penindasan dan menghadirkan kemuliaan bagi penduduk Gaza dan seluruh umat Muslim.


Solusi yang sebenarnya hanya bisa terwujud jika dakwah Islam ideologis dijalankan secara konsisten dan intensif.


Wallahualam bishawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update