Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pelajar Bunuh Diri, Cermin Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler.

Monday, November 10, 2025 | Monday, November 10, 2025 WIB Last Updated 2025-11-10T15:03:50Z




 Lisna Hayati

Ibu Rumah Tangga

Dalam sepekan terakhir, dunia pendidikan kembali dikagetkan dengan kasus siswa ditemukan meninggal diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Selain dari itu Dua siswa sekolah menengah pertama di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, ditemukan bunuh diri di sekolah selama Oktober 2025 ini. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara oleh kepolisian, tidak ada dugaan tindakan bullying dalam kedua kasus ini. Siswa korban Bagindo ditemukan tergantung di ruang kelas, Selasa (28/10/2025) siang, sedangkan Arif ditemukan tergantung di ruang OSIS, Senin (6/10/2025) malam.   Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini diperoleh dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa.

 Angka bunuh diri yang meningkat di kalangan pelajar perlu dicermati. Tidak semua bunuh diri disebabkan bullying. Kadang hal yang terlihat wajar seperti misalnya ketidakmampuan siswa dalam mengikuti pelajaran membuat putus asa, apalagi bagi pelajar yang terbiasa berprestasi sebelumnya, ketidakpuasan dalam pencapaian akhirnya membuat gelap mata dan memilih jalan pintas yakni bunuh diri. Fakta ini lebih menggambarkan bahwa kepribadian yang rapuh pada remaja merupakan faktor yang mendorong mereka melakukan bunuh diri. Kerapuhan kepribadian anak mencerminkan lemahnya dasar akidah. Hal ini adalah implikasi dari pendidikan sekuler yang hanya sekedar mengejar prestasi fisik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama hanya diajarkan secara teori tapi tidak meninggalkan pengaruh yang menjasad pada anak. Padahal akidah yang kuat merupakan modal bagi setiap manusia, tidak terkecuali pelajar, mereka akan bekerja keras dengan belajar sungguh-sungguh, karena itu area wajibnya manusia, melakukan ikhtiar yang terbaik yang mampu dilakukan, dari ikhtiar inilah pahala dan kebaikan dari Allah didapatkan, sedangkan apapun hasilnya adalah hak Allah, maka dengan kesadaran akidah yang benar, pelajar tidak akan mudah putus asa ketika harus mengalami kegagalan, tapi menerima sebagai Ketentuan dari Allah dan segera move on memperbaiki dan mengevaluasi kegagalan yang terjadi. 

 Paradigma batas usia anak juga berpengaruh. Pendidikan Barat menganggap anak baru dewasa ketika berusia 18 tahun. Sehingga sering kali anak sudah balig namun masih diperlakukan sebagai anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya. Padahal Islam menjadikan beban hukum syara kepada setiap manusia yang balig dan berakal, setelah balig maka tanggung jawab ada pada dirinya, ketika berbuat ketaatan maka baginya pahala, pun sebaliknya ketika melakukan maksiat dia berdosa, sudah pasti butuh menyiapkan diri sebelum baligh agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab pada diri dan Tuhannya, dan mampu mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya dengan tidak keluar akidah diyakininya. Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis yang mempengaruhi gangguan mental. Paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak2 makin rentan bunuh diri.

 Islam menjadikan dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan adalah akidah sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan. Tujuan sistem pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam. Dalam Islam ketika balig anak juga diarahkan untuk aqil sehingga Pendidikan anak sebelum balig Adalah Pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya.

 Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyolusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan. Kurikulum pendidikan Islam memadukan penguatan kepribadian Islami (karakter) dengan penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara syar’iy. Untuk mencapai hal ini perlu kerjasama antara pelajar, Keluarga, lingkungan, sekolah dan negara tentunya, sehingga tercipta kondisi yang sehat dan aman untuk  pelajar agar tumbuh dan berkembang, mengembangkan diri dan kemampuan nya sehingga bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Kuat dalam menghadapi setiap kesulitan dihadapannya dan bahkan kesulitan akan lebih mendewasakannya.


Wallahu A'lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update