Oleh: Siti Maisaroh, S. Pd. (Aktivis Muslimah)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) tengah menjajaki rencana pembukaan penerbangan internasional dari Guangzhou, Cina menuju Kota Kendari.
Wakil Gubernur Sultra, Hugua, mengatakan, upaya tersebut telah diawali dengan proses negosiasi dan penandatanganan kerja sama antara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sultra bersama Cocos Tour Indonesia untuk mencarter penerbangan China Southern Airlines rute Guangzhou–Kendari.
Menurutnya, kesiapan teknis untuk penerbangan internasional di Bandara Haluoleo telah dikonfirmasi oleh sejumlah instansi terkait. Pemprov Sultra telah berkoordinasi dengan pihak bandara, Bea Cukai, dan Pertamina untuk memastikan standar pelayanan penerbangan internasional terpenuhi.
Hugua menilai, pembukaan penerbangan langsung tersebut berpotensi meningkatkan arus wisatawan mancanegara ke Sultra, khususnya dari Tiongkok. Ia menyebut sekitar 56 ribu pekerja dan wisatawan asal Cina yang selama ini masuk melalui Bandara Hasanuddin (Makassar) dan Bandara Sam Ratulangi (Manado) dapat langsung masuk lewat Bandara Haluoleo jika rute baru ini terwujud.
“Kalau ini terbuka, maka wisatawan dari Tiongkok akan membanjiri Sulawesi Tenggara. Kita punya potensi besar seperti Wakatobi, Keraton Buton, Liang Kabori di Muna, Rawa Aopa, Pulau Padamarang, Air Panas Wawolesea, Teluk Kendari, hingga mangrove terbesar di Buton Utara,” jelasnya (kendariinfo.com, Rabu, 5 November 2025).
Jika dicerna sekilas, perencanaan tersebut memang baik dan tidak ada salahnya. Tetapi, ada baiknya jika kita mengkajinya lebih dalam. Bahwa perencanaan tersebut harus memperhatikan banyak hal, diantaranya:
1. Tenaga Kerja Lokal Tersaingi
Ketika pemerintah membuka akses bagi masuknya tenaga kerja dari Cina, terutama melalui proyek investasi besar (misalnya tambang, smelter, atau pembangunan infrastruktur), biasanya perusahaan Cina membawa tenaga kerja mereka sendiri, baik yang ahli maupun pekerja kasar. Dampak utamanya, pertama_ lapangan kerja untuk warga lokal (putra-putri daerah) akan berkurang. Alih-alih menyerap tenaga kerja lokal, perusahaan asing sering lebih memilih membawa tenaga kerja dari negaranya sendiri dengan alasan efisiensi, bahasa, dan keterampilan. Akibatnya, tingkat pengangguran di daerah bisa tetap tinggi meskipun banyak proyek berjalan. Kedua_ kurangnya transfer keahlian (skill transfer).
Idealnya, tenaga ahli dari Cina harus melatih pekerja lokal agar bisa mandiri. Namun dalam praktiknya, banyak proyek berhenti begitu saja setelah selesai, tanpa peningkatan kemampuan SDM lokal.
2. Eksploitasi Sumber Daya Alam
Kendari dan wilayah sekitarnya, seperti Konawe dan Morosi, terkenal dengan kekayaan nikel, batu bara, dan hasil laut. Jika akses masuk untuk investor Cina dibuka tanpa pengawasan ketat, bisa terjadi eksploitasi besar-besaran. Dampak utamanya, pertama_kerusakan lingkungan akibat adanya aktivitas tambang nikel dan industri berat dapat menyebabkan hutan gundul, pencemaran sungai dan laut oleh limbah tambang, tanah longsor atau sedimentasi di pesisir. Kedua, ketimpangan ekonomi_ dimana keuntungan besar biasanya dinikmati oleh perusahaan asing dan segelintir elit lokal, sedangkan masyarakat disekitar tambang hanya mendapat dampak negatif seperti polusi dan infrastruktur yang rusak. Bahkan ketiga, dapat menyebabkan hilangnya kedaulatan ekonomi daerah jika perizinan diberikan secara longgar, pemerintah daerah bisa kehilangan kendali atas sumber daya alamnya. Hal ini disebut sebagai “neo-kolonialisme ekonomi”, di mana daerah kaya sumber daya justru tergantung pada negara asing. Dampak jangka panjang setelah sumber daya habis, perusahaan asing biasanya pergi, meninggalkan lahan rusak dan masalah sosial-ekonomi bagi masyarakat lokal.
3. Masuknya Budaya dan Pemikiran Asing
Tak dipungkiri, negara kita yang bersistem kapitalisme ini tentu para penguasanya selalu menakar segala kebijakannya dengan nilai materi. Keberhasilannya hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dihasilkan. Pun kegagalannya hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dikeluarkan. Tanpa melihat nilai-nilai lain yang bahkan lebih penting yakni keimanan dan ketakwaan. Kendari memiliki ikon yang khas yakni kota bertakwa sebagai slogan resmi pemerintah kota Kendari yang terpampang dibeberapa lokasi strategis seperti kantor walikota kendari, gerbang perbatasan kota, tugu religi Trikora, bahkan instansi pemerintah dan sekolah-sekolah. Tentu hal itu menjadi salah satu pertimbangan saat pemerintahan mau membuka akses besar-besaran masuknya orang asing yang tentu juga membawa budaya dan pemikiran asing yang bertentangan dengan kebiasaan masyarakat bertakwa yang ada di kota Kendari. Bukan berarti kita anti terhadap masuknya orang asing, tetapi harus bisa dipastikan bahwa halnya tidak membawa pengaruh negatif pada budaya mayoritas masyarakat kita yakni Islam.
Sejatinya, slogan "Kendari Kota Bertakwa" hanya menjadi harapan ketika kita tidak menerapkan aturan Islam dalam kehidupan.
Karena belum dikatakan bertakwa jika aturan agama hanya dipakai saat sholat dan ibadah madho lainnya tapi dalam aturan politik, sosial, ekonomi, pendidikan dan lainnya masih memakai aturan buatan manusia. Waallahu a'lam bishowab.

No comments:
Post a Comment