Oleh. Suci Nurani
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah kepada para santri, santriwati, kiai, nyai, hingga keluarga besar pondok pesantren di seluruh tanah air. Dalam ucapannya, Kepala Negara menekankan bahwa Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang jasa para ulama dan santri yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.
“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, menyampaikan Selamat Hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah. Di Hari Santri ini, kita mengenang semangat juang para santri yang dengan ilmu, iman, taqwa, dan cinta tanah air, turut merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujar Presiden Prabowo dalam video yang ditayangkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, pada Jumat (24/10/2025).
Pujian soal peran santri dalam jihad melawan penjajah di masa lalu tidak sejalan dengan berbagai kebijakan dan program menyangkut santri dan pesantren di masa kini. Santri yang seharusnya menuntut ilmu untuk melahirkan para ulama yang tafaquh piddin sekarang pesantren justru dimanfaatkan untuk menjadi agen moderasi beragama dan agen pemberdayaan ekonomi bahkan di gadang - gadang bisa berkontribusi dalam pengetasan kemiskinan masyarakat. Padahal semua itu menjadi tugas negara. Negaralah yang seharusnya meriayah umat. Negara dengan sengaja melepas tanggung jawab.
Tugas pesantren hanyalah mencetak santri-santri yang unggul yang akan menjadi garda terdepan untuk kemajuan umat dan bangsa. Tapi sayang santri kini tidak diarahkan memiliki visi dan misi jihad melawan penjajahan gaya baru dengan menjaga umat dan syariat. Kini peran strategis santri dan pesantren justru dibajak untuk kepentingan mengokohkan sistem sekuler kapitalisme.
Sistem sekuler kapitalis yang rusak dan merusak tatanan negara mengakibatkan banyaknya kerusakan baik itu perilaku santri bahkan ustadznya pun tak luput dari perbuatan yang menyimpang yang jauh dari norma-norma agama. Pesantren tidak menjamin keadaannya aman, misalnya terjadi pembulian, pelecehan, bahkan pembunuhan. Saat ini banyak kita lihat di pesantren-pesantren yang sejatinya pesantren itu menjadi tempat yang paling aman malah menjadi tempat yang belum tentu aman sehingga kita miris melihat fakta yang ada.
Ulama dan pemangku pesantren tidak lagi berani beramar makruf nahyi munkar. Tidak mau lagi mengatakan bahwa yg halal itu halal dan yang haram itu haram, semua menjadi abu-abu dan membingungkan umat. Tidak mau lagi berdakwah dengan cara yang tegas dan keras terhadap kemunafikan. Aturannya serba pilih-pilih mencari aman bahkan Ulama menjadi pendukung rezim kapitalis yang dzolim.
Pesantren seharusnya meluruskan kembali arah perjuangannya untuk menegakkan kembali sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Pesantren harus mampu meluruskan perjuangan ideologinya untuk menentang segala bentuk hegemoni penjajah barat atas seluruh wilayah umat Islam. Menghapus seluruh sumber pemikiran kapitalis sekuler yang terus mereka sebarkan kedalam tubuh umat Islam.
Setiap proyek yg menekan umat ini sejatinya bertujuan untuk memadamkan cahaya IsIam, sebagai mana firman allah yang artinya "mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka tetapi Allah menolak menyempurnakan cahaya nya walaupun orang-orang kafir membenci nya" (TQS.at-taubah:32)
Maka dari itu , sudah saatnya umat Islam kembali menghidupkan "spirit resolusi jihad" yaitu semangat melawan penjajahan dimasa lalu, menjadi semangat untuk melawan arus opini sekularisme yg senantiasa berupaya menghalangi lahirnya kembali peradaban IsIam yg gemilang dalam bingkai negara ideologis khilafah Islamiah karena sesungguhnya umat Islam adalah umat terbaik yang akan menjadi pemimpin peradaban dunia. Kabar ini telah Allah sampaikan melalui firmannya didalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 110 yang artinya "kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan berimanlah kepada Allah" (TQS, Ali Imran : 110)
Spirit revolusi jihad harus dimaknai sebagai panggilan menentang penjajah ideologi barat dan menegakkan sistem Islam dibawah naungan Khilafah Islamiyah
Waallahu a'lam bishawab
No comments:
Post a Comment