Oleh: Aisyah Abdullah
Badai musim dingin pertama menandai babak baru penderitaan panjang bagi para pengungsi Gaza. Setelah sebelumnya berjuang menghadapi kelaparan dan genosida selama dua tahun dari penjajah zionis Israel. Sebuah perjuangan yang terus berlanjut dengan setiap tetes hujan, seolah mengingatkan mereka bahwa cobaan mereka masih jauh dari kata selesai.
Tenda-tenda yang menampung warga Gaza yang mengungsi tidak mampu menahan hujan di musim dingin. Sejumlah tenda sobek dan roboh, membuat keluarga-keluarga pengungsi tersisa tanpa perlindungan sama sekali.
Dalam hitungan menit kain lusuh yang menjadi satu-satunya tempat berlindung berubah menjadi genangan lumpur yang menahan langkah anak-anak dan membasahi kepala para ibu yang berusaha melindungi sisa barang-barang mereka.
Dan sebagian besar pengungsi masih bergantung pada tenda-tenda usang untuk bertahan hidup. Kantor media pemerintah Gaza memperkirakan sekitar 93 persen tenda pengungsi sudah tidak layak huni, yakni sekitar 125.000 dari total 135.000 tenda. Keluarga-keluarga pengungsi juga mengalami keterbatasan kebutuhan dasar, sulitnya memperoleh barang esensial, serta minimnya pelayanan penting akibat blokade Israel yang terus berlangsung. (Www.aa.com.tr,14/11/25)
Sungguh sangat menyayat hati. Sebuah pemandangan yang mencerminkan betapa dalamnya penderitaan yang dialami keluarga-keluarga di Gaza di awal musim dingin. Krisis yang terjadi di Gaza ini menunjukkan bahwa gencatan senjata tidak akan mengakhiri penderitaan Gaza, karena akar masalahnya adalah penjajahan. Sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025 lalu, Israel seperti biasa telah melanggarnya sebanyak 393 kali. Dimana pelanggaran itu meliputi tembakan langsung dan penembakan secara sengaja yang menargetkan warga sipil, rumah, tempat penampungan pengungsi, dan fasilitas lainnya.
Dominasi AS Membentuk Opini Publik
Dominasi Amerika Serikat pada negara-negara muslim seluruh dunia telah membentuk opini global yang membuat banyak pihak menganggap Gaza baik-baik saja. Padahal, warga Gaza secara khusus maupun Palestina pada umumnya di lapangan menghadapi kondisi yang sangat memprihatinkan bahkan situasinya makin memburuk.
Disisi lain dominasi AS dan sekutunya juga, telah membuat para pemimpin kaum muslim seluruh dunia mengambil sikap diam dan menutup mata terkait kondisi Gaza. Para pemimpin kaum muslim dan sebagian kaum muslim tidur dalam kehangatan sementara dua juta warga Gaza kini berada di tempat terbuka. Mereka menganggap seakan tidak terjadi apa-apa kepada saudara mereka yang ada di Gaza.
Ada apa dengan umat yang berjumlah satu milyar lebih? Ada apa dengan para penguasa muslim? Kok tak sanggup memberikan pembelaan terhadap saudaranya, melainkan hanya sekedar kecaman basa-basi tanpa aksi nyata.
Jika kita amati, tidak hadirnya para penguasa muslim saat ini pada isu kepalestinaan sebab mereka tidak memiliki kedaulatan penuh untuk menentukan kehidupan mereka. Intervensi pemimpin dari negara-negara adikuasa terutama Amerika Serikat sangat kental dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh para penguasa negeri-negeri tersebut. Disisi lain menunjukkan kelemahan yang telah menggerogoti para pemimpin muslimin akan ketidakberdayaan pada posisinya yang riskan. Sehingga wajar para pemimpin muslim hanya membebek pada kebijakan global AS dan tak melakukan apapun.
Gencatan Senjata Melanggengkan Penjajahan
Adanya gencatan senjata yang selalu dinarasikan bagi pihak-pihak penengah melihat ini sebagai bentuk perdamaian dan jalan keluar. Akan tetapi, kenyataannya tidak mengubah apa pun. Sebab masyarakat Gaza dan blokade masih tetap diberlakukan, bantuan dibatasi, mereka tetap diperlakukan tak ubahnya seperti binatang dan mereka tetap hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi.
Pun disisi lain jalur perundingan (gencatan senjata) tak pernah benar-benar menghentikan penjajahan itu berhenti. Berapa kali Israel itu berkhianat dan melanggarnya. Bahkan persoalannya tidak selesai. Tidak ada jaminan setelah terbentuknya kesepakatan damai, Israel tidak akan melakukan kekejian. Karena itu adanya gencatan senjata bukan solusi hakiki bahkan tidak menyentuh akar persoalan. Lebih dari itu justru ia makin mengokohkan penjajahan dan lagi-lagi dunia hanya bisa menyaksikan. Apalagi menggaungkan solusi dua negara. Memberlakukan solusi ini justru mensahkan perampasan makin kokoh atas nama perdamaian. Bahkan Ini makin menambah derita untuk Palestina.
Oleh karena itu, penderitaan Gaza tidak akan pernah usai selama dunia Islam terus bergantung pada solusi-solusi Barat yang cacat dan lemah. Sebab solusi yang mereka berikan memiliki tujuan terselubung yaitu melanggengkan penjajahan yang telah menjadi skenario Israel.
Karena itu tidak cukup hanya sekedar menaruh harapan melalui jalan perundingan, peringatan, atau gencatan senjata yang sifatnya sementara, atau bahkan berharap sama lembaga PBB yang tak punya taring untuk menghukum Israel yang telah nyata melakukan pelanggaran. Zionisme Yahudi hanya mengerti bahasa perang. Dengan cara itulah menghentikan genosida. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan dengan jelas bagaimana mengatasi orang-orang Yahudi yang berkhianat di Madinah dengan cara mengusir mereka dari Madinah.
Mestinya kaum muslimin harus mengambil contoh teladan dari nabi bagaimana cara menghadapi zionis Yahudi. Yakni dengan seruan militer sebagaimana nabi mengerahkan pasukan dan berjuang menghadapi mereka dengan kekuatan pasukan. Tanpa sentuhan jihad tersebut maka selamanya Gaza terus hidup dalam penderitaan yang tidak akan selesai.
Jihad dan Khilafah Mengakhiri Penjajahan
Oleh sebab itu, kaum muslim harus punya agenda tersendiri untuk menyelamatkan saudara-saudara mereka di Gaza. Dan tidak ada solusi tuntas untuk menyelesaikan masalah Palestina kecuali kembali kepada solusi yang ditawarkan oleh Islam yakni Khilafah dan Jihad.
Sebab hanya dengan Jihad dan Khilafah satu-satunya metode untuk mengusir bahkan menghapus segala bentuk penjajahan di negara-negara muslim terkhusus di bumi yang diberkati itu. Namun perlu dipahami oleh seluruh kaum muslim bahwa Jihad dan Khilafah tidak akan bisa hadir begitu saja, ia harus diperjuangkan dan terus disuarakan dengan lantang kepada dunia tanpa lelah melalui dakwah Islam Ideologis.
Ini bermakna kaum muslimin mesti memiliki kesadaran dan melakukan langkah-langkah strategis menyadarkan umat. Bahwa persatuan kaum muslim di seluruh dunia merupakan perkara krusial yang amat dibutuhkan. Sebab kelemahan kaum muslim mereka tercerai berai dan hidup terkotak-kotak dengan asas nasionalisme. Racun inilah yang membuat para pemimpin muslim dan masyarakat Islam menjadi tak berdaya sebab disibukan dengan masalah dalam negeri dan kepentingan negeri masing-masing.
Barat menyadari ini dan terus berusaha menyuntikan ide ini agar terus diemban. Karena itu kaum muslimin harus melepaskan ide ini dan kembali menyadari perannya sebagai DNA pembebas. Mesti diingat kaum muslimin memimpin dunia tatkala mereka memiliki kepemimpinan, yakni seorang Khalifah. Khalifah yang di pundaknya perisai itu ditegakkan. Sekaligus menjadi tameng melindungi kaum yang tertindas. Dengan kumandang jihad digalakkan membebaskan bumi yang tertindas.
Tanpa jihad, tanpa militer, dan tanpa mengerahkan pasukan maka Palestina tak akan pernah bisa dibebaskan. Sebagaimana Umar Ra dan Shalahuddin Al-ayyubi mereka membebaskan Palestina ketika mereka memiliki kepemimpinan, barulah jihad dapat dikerakkan. Karena itu umat perlu persatuan dan menguatkan barisan, memantapkan diri bahwa mereka akan kuat ketika memiliki sistem kepemimpinan. Sistem kepemimpinan itu terbentuk ketika syariat Islam Kaffah diterapkan. Wallahualam.

No comments:
Post a Comment