Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Labirin di Bawah Kiblat Pertama: Ketika Sejarah Digali Untuk Mengubur Masa Depan

Friday, November 14, 2025 | Friday, November 14, 2025 WIB Last Updated 2025-11-14T01:55:53Z

 


Oleh : Rahmadhani 


Sebuah bangunan berusia lebih dari 1.400 tahun, yang dindingnya menyimpan doa jutaan manusia, yang tanahnya pernah diinjak oleh para nabi, kini berdiri di atas fondasi yang perlahan-lahan dikoyak dari bawah. Bukan oleh gempa bumi, bukan oleh erosi alami, tetapi oleh tangan manusia yang menggali terowongan demi terowongan di kegelapan bawah tanah. Ini bukan plot film thriller Hollywood. Ini adalah realitas yang sedang dihadapi Masjid Al-Aqsa, salah satu tempat paling suci dalam Islam, hari ini.


Sebuah peringatan keras bergema dari Yerusalem. Bukan peringatan dari langit, tetapi dari mulut seorang pejabat yang menyaksikan langsung apa yang terjadi di bawah kaki umat Islam yang sedang bersujud di atas. Marouf Al-Rifai, Penasihat Kegubernuran Yerusalem, menyampaikan sesuatu yang membuat hati setiap Muslim berguncang: fondasi Masjid Al-Aqsa terancam runtuh. Penyebabnya? Penggalian bawah tanah yang dilakukan tanpa henti, tanpa metodologi ilmiah yang memadai, dan menurut pengamatannya, tanpa niat lain selain motif politik. Pertanyaannya kemudian menggantung di udara: Apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana? Mengapa penggalian ini dilakukan? Apa dampaknya bagi Masjid Al-Aqsa yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad? Dan yang paling penting, apa yang bisa dan harus dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia yang merasakan Al-Aqsa bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai bagian dari identitas spiritual mereka?


Masjid Al-Aqsa, salah satu tempat suci terpenting dalam Islam, kini menghadapi ancaman serius akibat aktivitas penggalian bawah tanah yang dilakukan Israel di sekitar kompleks masjid tersebut. Ancaman ini bukan sekadar isu spekulatif, melainkan peringatan nyata yang disampaikan oleh pihak berwenang setempat yang memahami kondisi lapangan secara langsung.


Penasihat Kegubernuran Yerusalem, Marouf Al-Rifai, menyampaikan peringatan keras kepada Israel agar menghentikan penggalian di sekitar Masjid Al-Aqsa. Peringatan ini didasarkan pada pengamatan terhadap aktivitas penggalian terowongan yang menghubungkan berbagai situs bersejarah di kawasan Yerusalem. Al-Rifai dengan tegas menyatakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari rencana sistematis untuk merusak landmark bersejarah Islam dan merupakan pelanggaran terhadap hukum Islam (CNN Indonesia, 25 Oktober 2025).


Situasi yang terjadi di sekitar Masjid Al-Aqsa ini mencerminkan kompleksitas konflik yang telah berlangsung puluhan tahun di wilayah Palestina. Permasalahan ini tidak dapat dipandang dari satu sudut pandang saja, melainkan memerlukan pemahaman komprehensif dari berbagai dimensi yang saling berkaitan. Analisis mendalam terhadap situasi ini mengungkapkan beberapa aspek krusial yang perlu dipahami oleh umat Islam dan masyarakat internasional.


Dari aspek historis dan religius, Masjid Al-Aqsa menempati posisi yang sangat istimewa dalam Islam. Masjid ini bukan sekadar bangunan arsitektur bersejarah, tetapi merupakan simbol spiritual yang sangat dalam bagi umat Islam di seluruh dunia. Al-Aqsa disebutkan dalam Al-Quran sebagai Masjidil Haram kedua yang diberkati Allah SWT. Masjid ini menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum dipindah ke Masjidil Haram di Makkah, sebuah fakta yang menunjukkan kedudukan mulianya dalam sejarah Islam. Lebih dari itu, Al-Aqsa adalah lokasi peristiwa Isra Mi'raj, perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang luar biasa, di mana beliau diangkat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian ke Sidratul Muntaha. Sejarah panjang ini menjadikan setiap ancaman terhadap keberadaan fisik masjid ini bukan hanya masalah arsitektur atau politik semata, tetapi menyentuh keimanan dan perasaan lebih dari 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia. Kerusakan atau kehilangan Al-Aqsa akan meninggalkan luka yang sangat dalam dalam kesadaran kolektif umat Islam.


Dari aspek arkeologis, kawasan Yerusalem Timur merupakan salah satu lokasi arkeologi paling penting dan kompleks di dunia. Area ini memiliki lapisan sejarah yang mencakup ribuan tahun peradaban, dari zaman kuno hingga era modern. Setiap lapisan tanah menyimpan artefak, struktur, dan informasi historis yang sangat berharga bagi pemahaman kita tentang sejarah kemanusiaan. Penggalian yang dilakukan tanpa mengikuti metodologi ilmiah yang ketat dan tanpa pengawasan ahli arkeologi internasional yang independen berpotensi merusak secara permanen bukti-bukti sejarah yang tak ternilai ini. Dalam arkeologi profesional, terdapat protokol ketat yang harus diikuti: dokumentasi fotografis dan video yang detail, pembuatan peta stratigrafi, pelabelan dan preservasi artefak, serta analisis multi-disiplin. Ketiadaan standar ini dalam penggalian di sekitar Al-Aqsa sangat mengkhawatirkan karena kerusakan yang terjadi pada situs arkeologi bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan. Selain itu, penggalian sepihak tanpa melibatkan komunitas arkeologi internasional membuka peluang terjadinya interpretasi subjektif terhadap temuan, yang kemudian dapat digunakan untuk mendukung narasi politik tertentu, bukan pemahaman sejarah yang objektif.


Islam sebagai agama yang sempurna (kaffah) mengajarkan pendekatan yang komprehensif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai permasalahan, termasuk situasi yang menimpa Masjid Al-Aqsa. Ajaran Islam tidak hanya menekankan dimensi spiritual semata, tetapi juga memberikan panduan praktis yang dapat diimplementasikan dalam konteks kehidupan nyata. Berikut adalah solusi-solusi yang dapat diambil oleh umat Islam berdasarkan nilai-nilai dan ajaran Islam yang autentik. Pertama, solidaritas umat atau ukhuwah Islamiyah harus menjadi fondasi respons umat Islam terhadap ancaman ini. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menggambarkan persatuan umat dengan analogi yang sangat indah: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, saling mengasihi dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota badan yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur." Hadits ini mengajarkan bahwa rasa sakit yang dialami oleh saudara Muslim di Palestina seharusnya dirasakan oleh seluruh umat Islam di belahan dunia manapun. 


Solidaritas ini bukan sekadar simpati verbal atau emosional semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Umat Islam di seluruh dunia perlu menunjukkan kepedulian konkret melalui berbagai cara: solidaritas moral dengan menyuarakan keprihatinan melalui media dan forum-forum publik dan konsisten untuk saudara-saudara di Palestina, serta dukungan diplomatik dengan mendorong pemerintah masing-masing untuk mengambil sikap tegas dalam forum internasional. Hal ini bisa dilakukan dengan baik dalam naungan Daulah Islam yaitu salah satu solusi yang sangat dibutuhkan di era saat ini dalam menyatukan kekuatan umat Islam dalam menghadapi berbagai kedzoliman yang tiada akhirnya terus menyakiti dan memberikan siksaan terhadap kaum muslim maupun manusia diluar sana yang mengalami berbagai penindasan yang hingga kini belum mampu teratasi dengan baik. Masjid Al-Aqsa adalah amanah besar bagi umat Islam yang harus dijaga dengan segenap kemampuan. Bangunan suci ini bukan hanya milik generasi sekarang, tetapi juga generasi-generasi mendatang yang berhak untuk merasakan kemuliaan dan keberkahannya.

Wallahu a’lam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update