Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ayah, Dunia ini Bikin Kita Jauh ya ?

Thursday, November 13, 2025 | Thursday, November 13, 2025 WIB Last Updated 2025-11-13T06:40:28Z

Oleh : Putri Melati
(Aktivis Remaja Muslimah)


“Ayah sibuk ya, Mah?”
Pertanyaan sederhana itu sering keluar dari mulut anak-anak kecil di rumah-rumah,
Mereka belum paham bahwa ayahnya lagi berjuang di kantor, di jalan, di antara tekanan hidup dan tuntutan ekonomi. Tapi tanpa sadar, perjuangan itu justru menumbuhkan luka-luka pada diri seorang anak karena ketidakhadiran sosok ayah.

Fenomena ini dikenal dengan istilah _*“fatherless”*_ , yaitu kondisi ketika anak kehilangan figur ayah, bukan hanya karena sudah tiada, tapi karena perannya yang memudar.
Ada yang kehilangan karena perceraian, ada yang ayahnya terlalu sibuk kerja, ada yang ayahnya hadir secara fisik tapi sibuk dengan ponsel dan urusannya sendiri.
Lucunya, dunia modern menormalisasi semua itu. Selama kebutuhan materi terpenuhi, dianggap cukup. Padahal anak nggak cuma butuh biaya hidup, mereka juga butuh kehadiran, pelukan, dan bimbingan.

Menurut Kompas.id (17 Juni 2024) dalam artikel “Bagaimana Dampak Ketiadaan Sosok Ayah bagi Tumbuh Kembang Anak,” jutaan anak Indonesia kini tumbuh tanpa peran ayah. Mereka lebih mudah cemas, kesepian, bahkan kehilangan arah moral.
Tagar.co (8 Oktober 2025) menulis bahwa fenomena ini jadi alarm masa depan bangsa, bukan cuma karena ekonomi, tapi karena krisis figur ayah yang semakin parah.
Kita punya banyak ayah, tapi sedikit sekali yang benar-benar hadir.

Fatherless bukan hanya  sekadar masalah keluarga. Ia adalah cermin retaknya sistem sosial yang kita jalani hari ini, sistem apakah itu? “sistem kapitalistik-sekuler” yang memisahkan manusia dari fitrahnya.

Dalam sistem ini, *ayah kehilangan identitas sejatinya* .
Mereka dipaksa jadi “mesin nafkah” dan diukur dari seberapa besar gaji, banyak yang akhirnya menukar waktu bersama anak dengan target kerja, menukar pelukan dengan lembur, dan menukar makna keluarga dengan label “produktif”.
VOI.id (Mei 2024) menulis bahwa desakan ekonomi membuat jutaan anak Indonesia hidup tanpa peran ayah.
Tapi sebenarnya, akar masalahnya lebih dalam dari sekadar ekonomi.

Sistem kapitalisme juga menumbuhkan krisis maskulinitas.
Nilai qawwam, kepemimpinan yang bertanggung jawab dan penuh kasih, tergerus oleh budaya individualis.
Banyak laki-laki tumbuh tanpa contoh ayah yang benar-benar memimpin, lalu mengulangi siklus yang sama.
Ditambah lagi, perceraian yang tinggi, distraksi digital, dan negara yang abai terhadap kesejahteraan keluarga memperparah keadaan.
Keluarga kehilangan pondasinya, anak kehilangan teladan, dan masyarakat kehilangan generasi yang kuat.

Ironisnya, kapitalisme terus menjual ilusi bahwa “semua akan baik-baik saja selama uang cukup.”
Padahal, kalau anak tumbuh tanpa cinta ayah, sesukses apa pun karier orang tuanya, ada yang tetap kosong di hati mereka,

Inilah titik di mana kita mulai berpikir, mungkin selama ini ada yang salah dengan sistem kehidupan saat ini, 
Maka, dibutuhkan panduan hidup yang bukan lahir dari ambisi materi, tapi dari fitrah manusia itu sendiri.
Di sinilah Islam hadir, bukan sekadar agama, tapi sistem yang menjaga harmoni antara cinta, tanggung jawab, dan kehidupan.
Islam datang bukan cuma untuk mengatur ibadah, tapi juga untuk menjaga harmoni keluarga.
Dalam pandangan Islam, ayah adalah qawwam (pemimpin, pelindung, dan pendidik dalam rumah)

Allah berfirman:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita...”
(QS. An-Nisa: 34)

Dan lihatlah bagaimana Luqman mendidik anaknya dengan lembut tapi tegas:
“Wahai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah berbuat yang ma’ruf, dan cegahlah dari yang mungkar...”
(QS. Luqman: 17)

Sistem Islam akan mendukung peran itu secara nyata, dalam sistem islam negara wajib menyediakan lapangan kerja layak, menghapus riba yang menekan ekonomi keluarga, dan mengatur waktu kerja yang manusiawi agar ayah punya ruang membersamai anak.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) itu adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, kesejahteraan keluarga bukan tanggung jawab individu semata, tapi juga tanggung jawab kepemimpinan dan negara.
Islam membangun ekosistem yang menumbuhkan cinta dan tanggung jawab, bukan memeras waktu dan tenaga manusia demi keuntungan segelintir orang. 

_Ayah, dunia ini bikin kita jauh ya?_  (Mungkin begitulah isi hati yang dirasakan anak-anak hari ini, yang merindukan ayahnya sebagai sosok yang benar-benar hadir)
Mungkin bukan karena ayah nggak peduli, tapi karena dunia ini terlalu menuntut, membuat ayah harus terus berjuang demi keluarga, hingga lupa memberi ruang untuk bersama.
Dalam lelahnya mencari nafkah dan berjuang memenuhi harapan, tanpa sadar ada anak-anak yang sedang menunggu di rumah.
Menunggu ayah yang pulang bukan cuma bawa gaji, tapi juga bawa waktu, cerita, dan kasih.

Fatherless bukan cuma tragedi keluarga. Ia adalah tanda bahwa sistem ini gagal menumbuhkan manusia seutuhnya.
Dan hanya Islam yang bisa mengembalikan makna keluarga pada tempatnya.
Karena dalam Islam, sukses bukan diukur dari gaji, tapi dari keberkahan.
Maka, mungkin sekarang saatnya kita berhenti mengejar dunia yang membuat kita kehilangan rumah.

Mungkin dunia tak kekurangan ayah yang bekerja keras, tapi kekurangan ayah yang benar-benar hadir dengan sepenuh hati, hadir sebagai qawwam yang memimpin dengan kasih sayang dan iman.
Sebab, hadir bagi keluarga bukan hanya tentang pulang ke rumah, tapi juga menuntun mereka pulang ke surga-Nya. Wallahu 'allam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update