Pendidikan merupakan hak setiap orang menuntut ilmu hakikatnya mencerdaskan akal, membentuk jiwa, dan melahirkan ide- ide yang sehat, baik. Akan tetapi, lain halnya dengan yang terjadi saat ini .Kasus siswa merokok di sekolah menunjukan bahwa guru menghadapi dilema antara kedisiplinan atau pembiyaran , juga resiko berhadapan dengan hukum .Kasus ini membuktikan bahwa sistem pendidikan sekulerisme saat ini memberikan ruang kebebasan tanpa batas yang telah terbukti gagal mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia .
Banyak tragedi serta kejadian miris Dunia pendidikan yang sampai viral di media sosial .seperti polemik baru- baru ini , kepala sekolah SMA 1 Cimarga , Kabupaten Lebak , Banten , ibu Dini Fitri , yang diduga menampar siswa yang merokok di lingkungan sekolah .Masalah ini sempat dibawa ke jalur hukum meski akhir nya diselesaikan dengan jalan damai.Peristiwa ini bermula dari seorang siswa yang ketahuan merokok di sekolah . Ibu Dini menegur , tetapi siswa tersebut berbohong , mengaku tidak melakukan merokok .Dan ini memicu ibu Dini emosi dan secara spontan menampar siswa tersebut .
Selain itu, viral ada foto seorang siswa SMA di Makasar berinisial As yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya , Ambo viral cepat di jagat Maya .Menurut Ambo dalam klarifikasinya kepada Dinas pendidikan Makasar , betapa rumitnya posisi pendidik saat ini .Guru apabila keras sedikit bisa dibilang melanggar HAM ( suara 18/10/25 ).
Menurut penelitian Organisasi Kesehatan Duni (WHO), sekitar 15 juta remaja usia 13-15 tahun di seluruh dunia menggunakan rokok elektronik /Vape .Dalam laporan terbarunya , WHO menyebut remaja memiliki kemungkinan 9 kali lebih besar untuk menggunakan Vape dibandingkan orang dewasa.sungguh sangat disayangkan. Dua peristiwa tersebut menunjukan adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa yang menyebabkan wibawa guru kian tergerus .Fenomena ini adalah bukti bagaimana siswa merasa punya kebebasan untuk bertindak di luar batas etika , sementara guru tidak berdaya menegur .Ketika guru hendak menegakkan kedisiplinan , seringkali ia mendapat ancaman pelanggaran HAM .Hal ini merupakan dilema pendidik .
Generasi saat ini mengalami krisis adab dan moral. Berbagai masalah terjadi berulang kali , Seolah menjadi sinyal banyak nya PR di Dunia pendidikan. Setiap pergantian kurikulum tidak luput dari kajian pembentukan karakter siswa , Dan keluhan para pendidik dlm hal ini tidak pernah usai .
Saat ini di lapangan , banyak anak muda yang mengalami kemerosotan akhlak , mental yang mudah emosi, dan krisis kepercayaan diri.Selain itu, visi pendidikan saat ini laksana kehilangan arah tujuan, khusus nya pendidikan moral .Misalnya saja kebijakan perlindungan anak yang berhubungan dengan HAM, bersebrangan dengan spirit pendidikan dan upaya pembentukan karakter siswa .
Semua ini disebabkan oleh sistem yang dianut saat ini, Saat ini , sistem pendidikan berasaskan paham kebebasan (Liberalisme) , salah satunya kebebasan dalam berekspresi atau bertingkah laku .Dalam hal ini negara juga abai dalam melahirkan generasi yang taat aturan , terutama dalam hal krisis moral dan mental .seperti tindakan merokok seorang siswa dianggap alasan ungkapan kedewasaan , membangun jati diri , dan kebanggaan agar terlihat keren .Sungguh sangat miris , disisi lain rokok mudah di dapatkan oleh anak dan remaja .Ini bukti lemahnya kontrol negara dalam mengurusi dan memberikan pengawasan terhadap Dunia pendidikan .
Di sisi lain , tindakan seorang pendidik dalam merespon sesuatu , seharusnya lebih dikontrol , tidak bisa melampiaskan emosi , karena segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan .
Dari sinilah kita butuh pendidikan yang menjadikan remaja dan anak didik paham siapa dirinya dan arah hidup ny .Karena sejatinya , tujuan dari kurikulum pendidikan adalah membekali akal dengan pengetahuan dan pemikiran yang menghasilkan ide-ide yang sehat, baik .Dengan pengetahuan tersebut , anak didik dapat menentukan suatu tindakan tertentu. Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan dunia saat ini memberikan ruang kebebasan yang terbukti telah gagal dalam mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia .Sangat penting menanamkan kembali nilai- nilai fundamental sopan santun dan rasa hormat kepada para guru pendidik.
Dalam Islam, guru adalah pilar peradaban .Posisinya di hormati dan di muliakan , karena tugasnya membentuk kepribadian anak didiknya .Guru bukan hanya gudang ilmu , namun pendidik yang memberikan suri tauladan bagi siswa didiknya .Seorang guru harus mencontoh apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW .
Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 21 yang artinya : Sungguh , telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap (Rahmat ) Allah dan (Kedatangan ) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah .Merokok dalam dalam Islam hukumnya memang mubah , tetapi disisi lain , tidak boleh sampai membahayakan diri sendiri dan orang lain karena merokok bisa membahayakan kesehatan .Selain itu juga hidup menjadi boros.Maka sebaiknya dihindari sebisa mungkin .
Sistem pendidikan Islam membentuk pola pikir dan pola sikap Islam , menanamkan Aqidah yang melahirkan generasi yang mempunyai kesadaran akan adanya hubungan manusia dengan Sang Pencipta , yang merupakan kontrol terbaik atas semua perbuatan manusia .Kesadaran itu akan mendorong rasa takut , merasa diawasi Allah SWT , Sehingga muncul ketakwaan individu,masyarakat dan negara , keimanan yang kuat menjadi landasan dalam menuntut ilmu .Serta harus mempunyai kesadaran bahwa tujuan manusia di ciptakan oleh Allah , adalah untuk beribadah kepada Allah dan semua perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban di Akherat nanti. Wallahu Alam Bisshowab
Remaja muslim , harus bangkit dan berprinsip menjadi generasi yang beriman dan bertakwa , menerapkan Islam secara kafah . Semoga sistem Islam segera tegak kembali dan syariat Islam di terapkan di muka bumi ini .Dan melahirkan generasi generasi tangguh , beradab , berakhlak mulia.
Walahu 'alam bisshawab .

No comments:
Post a Comment