Oleh : Ayu Rahmah Khoirunnisa (pegiat literasi)
Beberapa tahun terakhir, wajah jalanan dan dunia maya di Indonesia sering diwarnai oleh generasi baru yang penuh energi, Gen-Z. Dari demo menolak UU, protes soal isu lingkungan, sampai poster nyeleneh bergambar SpongeBob yang ramai dibicarakan, semuanya menunjukkan gaya khas mereka. Gen-Z tidak memilih jalur keras dengan membakar fasilitas, melainkan jalan kreatif yang penuh warna. Media sosial, meme, dan estetika visual jadi senjata. Itulah cara mereka bicara.
Psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo, menyebut cara ini sebagai mekanisme unik Gen-Z dalam merespons tekanan. Mereka berbeda dari generasi sebelumnya, lebih memilih ekspresi kreatif daripada destruktif. Namun di sisi lain, Prof. Rose Mini Agoes Salim dari Universitas Indonesia mengingatkan, banyak anak di bawah umur yang ikut aksi jalanan tanpa kontrol diri yang matang. Artinya, energi besar itu memang ada, tapi juga rawan salah arah.
Kalau dibaca lewat kacamata psikologi modern, Gen-Z seakan hanya “objek penelitian”: generasi yang dikotak-kotakkan karakternya agar mudah dikelola dalam sistem kapitalisme. Mereka diarahkan untuk sibuk dengan identitas personal, tapi dijauhkan dari kesadaran politik yang lebih mendalam. Padahal, sejak awal penciptaannya, manusia punya naluri untuk menolak kezaliman. Naluri ini dalam Islam disebut gharizatul baqa' dorongan mempertahankan diri dan melawan yang mengancam. Jadi energi Gen-Z bukan sekadar tren psikologis, melainkan bagian dari fitrah manusia.
Gen-Z dan Energi Besar yang Dimilikinya
Gen-Z lahir di era ketika internet sudah jadi bagian hidup. Mereka tidak bisa dilepaskan dari layar ponsel, notifikasi, dan dunia maya yang berjalan tanpa henti. Karena itu, energi mereka terasa berbeda dan lebih cepat, lebih berani, sekaligus lebih kreatif.
Pertama, kreativitas tanpa batas. Gen-Z bisa menyulap keresahan menjadi karya visual. Meme satir, poster penuh warna, video 30 detik yang viral, semua itu jadi cara mereka bersuara. Aksi mereka tidak selalu teriak di jalan, tapi bisa lewat konten yang mengetuk hati.
Kedua, kecepatan dalam bergerak. Satu unggahan bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan menit. Dari hashtag sederhana bisa lahir gelombang opini yang menguat. Jika dulu berita butuh waktu berhari-hari untuk sampai ke publik, kini cukup dengan sekali klik.
Ketiga, kepedulian sosial yang tinggi. Meski sering dicap sibuk dengan dunia sendiri, kenyataannya mereka peka. Mulai dari isu lingkungan, kesenjangan sosial, sampai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil. Mungkin analisis mereka belum dalam, tapi hati mereka masih peka terhadap ketidakadilan.
Keempat, solidaritas yang mudah terbangun. Dunia digital menghapus batas wilayah. Penderitaan rakyat Palestina, misalnya, bisa terasa dekat karena viral di media sosial. Dari situ lahir solidaritas seperti patungan donasi, kampanye online, hingga aksi nyata di jalanan.
Kelima, keberanian bersuara di usia muda. Walau sering dianggap belum matang, mereka berani. Mereka tidak menunggu tua, tidak menunggu kaya, tidak menunggu punya jabatan. Mereka sudah cukup lantang untuk menantang narasi penguasa, meski kadang bahasanya masih sederhana.
Ingat masa Rasulullah saw? Pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, hingga Usamah bin Zaid tampil di garda depan perjuangan. Berani dulu, meski risikonya besar.
Semua ini menunjukkan bahwa energi Gen-Z ibarat ombak. Jika diarahkan benar, bisa jadi gelombang perubahan besar. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar Ra'd : 11)
Ayat ini terasa begitu relevan. Gen-Z sedang diuji, apakah energi mereka hanya berhenti pada viral sesaat, atau benar-benar menjadi jalan perubahan?
Perspektif Islam: Arah Perubahan yang Hakiki
Islam tidak melihat manusia sekadar objek riset psikologi. Islam menempatkan manusia dengan fitrah dan tuntunan syariat. Dalam hal melawan ketidakadilan, Islam menawarkan mekanisme jelas: muhasabah lil hukkam atau mengoreksi penguasa. Rasulullah saw. bersabda:
“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan juga seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR. al-Hakim)
Sejarah Islam penuh dengan peran pemuda. Ali bin Abi Thalib masih remaja ketika masuk Islam. Mush’ab bin Umair meninggalkan kemewahan demi dakwah. Usamah bin Zaid dipercaya Rasulullah memimpin pasukan besar di usia yang sangat muda. Semua itu menunjukkan, energi pemuda yang dipandu iman bisa melahirkan perubahan hakiki.
Solusi Hakiki dalam Islam
Islam tidak hanya memotivasi pemuda untuk bergerak, tetapi juga memberi arah perjuangan yang jelas. Perubahan sejati bukan sekadar mengganti wajah pemimpin atau membuat gerakan sosial baru, melainkan mengubah sistem kehidupan yang menjadi akar ketidakadilan.
Islam memandang bahwa sumber kerusakan hari ini muncul karena sistem yang tidak berlandaskan wahyu. Kapitalisme telah menjauhkan manusia dari aturan Allah, sehingga kezaliman terus berulang dalam berbagai bentuk — korupsi, kemiskinan, kerusakan moral, dan ketimpangan sosial.
Solusi hakiki adalah menegakkan kembali sistem Islam secara menyeluruh, sebagaimana diterapkan Rasulullah saw. di Madinah. Dalam sistem itu, keadilan ditegakkan berdasarkan hukum Allah, penguasa diawasi oleh umat dan ulama, serta kesejahteraan dijamin bukan dengan pajak dan utang, tetapi dengan pengelolaan sumber daya sesuai syariat.
Inilah arah perjuangan yang seharusnya diambil oleh Gen-Z Muslim hari ini bukan hanya menolak kezaliman secara reaktif, tapi memperjuangkan perubahan sistemik yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Penutup: Dari Meme ke Kebangkitan
Generasi Z hari ini sedang mengukir bab baru. Mereka punya daya cipta, keberanian, dan solidaritas. Tapi semua itu hanya akan menjadi riuh sesaat kalau tidak diarahkan. Islam memberi jalan yang jelas: energi mereka bukan hanya untuk tren viral, tapi untuk kebangkitan umat.
Maka pertanyaannya, maukah Gen-Z mengarahkan energinya pada perubahan sejati? Dari meme ke aksi, dari aksi ke inspirasi, dan dari inspirasi menuju kebangkitan. Inilah saatnya, karena sejarah selalu berpihak pada generasi yang berani bicara, berani bergerak, dan berani membawa perubahan.
No comments:
Post a Comment