Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Al Aqsa Terancam Runtuh, Umat Islam Harus Bersatu

Friday, November 07, 2025 | Friday, November 07, 2025 WIB Last Updated 2025-11-07T14:15:44Z
Chusnatul Jannah

Penulis: Chusnatul Jannah


Israel dilaporkan tengah melakukan penggalian bawah tanah di area sekitar Masjid Al-Aqsa, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi kerusakan atau runtuhnya sebagian bangunan masjid suci tersebut di Yerusalem. Pemerintah Yerusalem pun memperingatkan adanya ancaman serius akibat aktivitas penggalian yang dilakukan Israel.

Penasihat Gubernur Yerusalem, Marouf Al-Rifai, meminta Israel untuk menghentikan penggalian di sekitar Masjid Al-Aqsa, terutama proyek terowongan yang menghubungkan sejumlah situs bersejarah. Ia juga menyebut bahwa penggalian bawah tanah Masjid Al Aqsa merupakan proyek yang bertujuan untuk menegaskan "Yerusalem adalah kota Yahudi". Al-Rifai menilai bahwa proyek tersebut merupakan upaya politik yang terencana untuk menjadikan Kota Tua bercorak Yahudi serta mengubah identitas sejarah dan geografisnya.

Terowongan-terowongan tersebut disebut menghubungkan kawasan "Kota Daud" dan melewati jalur berbatu yang dahulu berfungsi sebagai saluran air. Kini, sebagian besar terowongan itu telah dikeringkan dan diubah menjadi museum serta sinagoge.

Mengutip laman Spiritofaqsa, penggalian yang dilakukan Israel di bawah Masjid Al-Aqsa telah berlangsung terus-menerus sejak tahun 1968. Salah satu peristiwa penting terkait hal ini terjadi pada tahun 1996, ketika dibukanya pintu keluar baru dari terowongan barat. Sebelum itu, pengunjung hanya dapat keluar dan masuk melalui satu pintu yang sama. Pembukaan pintu baru tersebut dimaksudkan untuk mempermudah arus pengunjung dan mengurangi kepadatan di dalam terowongan.

Profesor Studi Yerusalem dari Universitas Istanbul, Abdullah Ma’ruf, menjelaskan bahwa selama lebih dari lima dekade, Israel telah melakukan banyak penggalian dan pembuatan terowongan di bawah serta di sekitar Masjid Al-Aqsa hingga sulit untuk dihitung jumlahnya. Ia menuturkan bahwa jaringan terowongan itu membentang di bawah seluruh dinding masjid, dengan terowongan “Hasmonean” yang dibuka pada tahun 1996 menjadi yang paling panjang dan terkenal, sekaligus memicu gejolak besar pada saat itu.

Kedaulatan Masjid Suci Ketiga Umat Islam Terancam
Tidak cukup membuat penduduk pribumi Palestina terusir dari wilayahnya, Israel terus berambisi terhadap Masjid Al-Aqsa karena menganggapnya sebagai situs yang memilki nilai religius, historis, politis bagi bangsa Yahudi. Secara religius, zionis mengeklaim bahwa wilayah ini dipandang suci oleh umat Yahudi karena diyakini sebagai tempat berdirinya Kuil Sulaiman (Temple Mount), sedangkan bagi umat Islam, area tersebut merupakan salah satu tempat paling suci yang berkaitan dengan peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad ﷺ.

Secara historis, Israel memandang penguasaan situs Al-Aqsa sebagai pemulihan hubungan dengan sejarah mereka sebagai bangsa Yahudi. Adapun secara politis, sebagaimana ambisi mereka sejak dulu, Zionis memang berniat mendirikan negara Israel Raya yang membentang dari sungai Nil sampai Eufrat, sebagaimana mimpi pendirinya, Theodore Herzl.

Padahal, baik secara historis dan politis, Palestina, termasuk Al-Aqsa merupakan milik kaum muslim. Apabila kaum Yahudi mengklaim bahwa mereka adalah pewaris sah tanah Palestina berdasarkan garis keturunan, maka klaim tersebut sebenarnya sangat lemah dan mudah dipatahkan. Alasannya, nenek moyang bangsa Arab dari suku Kan’an telah menetap di wilayah itu sejak sekitar tahun 3000 SM (Khan, 1981: 26), bahkan ada yang menyebut sejak 4000 SM. Karena itulah wilayah tersebut dikenal dengan sebutan Tanah Kan’an. Seiring berjalannya waktu, penduduk di kawasan itu menggunakan tiga bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bahasa Arab, Aram (bahasa yang digunakan oleh Nabi Isa ‘alaihissalam), dan bahasa Kan’aniyah. 

Dari sudut pandang manapun, sulit untuk membenarkan bahwa kaum Yahudi memiliki hak atas tanah Palestina. Klaim tersebut muncul semata-mata karena pengaruh kuat lobi Yahudi di kancah internasional. Lobi internasional yang intens inilah yang membuat gerakan Zionis direstui negara Barat untuk mewujudkan cita-cita mereka membangun negara di atas tanah Palestina yang sudah menghuni sejak lama.
Gerakan Zionis yang bermimpi membangun negara Yahudi dengan klaim sejarah yang mereka yakini mulai terlihat pasca Perang Dunia I. Bermula dari Perjanjian Sykes-Picot, yaitu perjanjian rahasia tahun 1916 antara Inggris dan Prancis untuk membagi wilayah Kekhalifahan Turki Utsmani  hingga terbentuk negara-negara bangsa seperti Suriah, Lebanon, Yordania, dan Irak. Sejak saat itu, eksodus besar-besaran bangsa Yahudi ke Palestina mulai terjadi. Ditambah, Deklarasi Balfour pemerintah Inggris pada tahun 1917 yang mendukung pendirian "tanah air nasional bagi bangsa Yahudi" di Palestina. Deklarasi tersebut mendorong pembentukan negara Israel di Timur Tengah. Pada tahun 1947, atas restu Inggris dan Amerika, lahirlah negara Israel dari rahim PBB yang dinamai Resolusi 181 (II) yang membagi Palestina menjadi dua negara, Palestina dan Israel. Namun, kenyataannya, Israel melakukan penjajahan, pengusiran, dan genosida tanpa henti terhadap kaum muslim Palestina hingga hari ini.

Kini, kedaulatan Al-Aqsa terancanm akibat aktivitas penggalian terowongan bawah tanah yang dilakukan bangsa biadab tersebut. Israel berniat menghapus jejak sejarah panjang Islam tentang Al-Aqsa dan sekitarnya. Kekhawatiran kaum muslim sangat beralasan, karena runtuhnya bangunan masjid Al-Aqsaa akan memuluskan kendali sepenuhnya Israel terhadap Al-Aqsa dan Palestina. Ingat perkataan para ulama, "Jika Al-Aqsa terhina maka umat juga dalam keadaan terhina. Jika al-Aqsa mulia, maka umat juga dalam keadaan mulia."

Al-Aqsa adalah barometer sekaligus mercusuar bagi umat Islam. Masjid suci ketiga milik umat Islam yang wajib dijaga kehormatan dan peradaban yang terkandung di dalamnya. Kejahatan Zionis sudah tidak terbendung. Mereka telah mendeklarasikan perang terhadap Islam secara terang-terangan dengan dukungan AS. Maka tidak sepatutnya umat berharap solusi kepada AS dan sekutunya, juga jangan mengharapkan pertolongan PBB. Sebab, PBB pun hanya menjadi alat politik global bagi kepentingan Israel dan AS. Ingatlah bagaimana negara Zionis lahir, dari rahim siapa mereka dilahirkan, juga berasal dari mana ide solusi dua negara itu digaungkan? Jawabannya,  jelas dari penjajah zionis, AS, dan PBB selaku eksekutor yang menjalankan mandatnya. 

Kemuliaan Al-Aqsa
Saat ini Al-Aqsa telah dibelenggu oleh penjajah zionis. Pembelaan terhadap Palestina dan asjid Al-Aqsa harus terus disuarakan. Jika bukan kita sebagai umat islam, lalu siapa yang akan berdiri teguh membela kemuliaan masjid suci ketiga milik umat? Hal ini sangat beralasan karena nabi saw. Sendiri menyebut bahwa Al-Aqsa memiliki tempat istimewa dalam hati dan pikiran umat, di antaranya:

Pertama, kiblat pertama umat Islam. Rasulullah ﷺ melaksanakan salat dengan kiblat menghadap Masjid Al-Aqsa ketika masih berada di Makkah hingga setelah hijrah ke Madinah, selama kurang lebih 16 bulan. Setelah itu, atas perintah Allah, arah kiblat pun diubah menghadap Ka'bah (Masjid Al-Haram) di Makkah. Dari Al-Bara bin ‘Azib berkata, “Saya shalat bersama Nabi ﷺ menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan, sampai turun ayat di dalam Surah Al-Baqarah Wahaitsu ma kuntum fawallau wujuhakum syatroh…” (HR Bukhari). 

Yang dimaksud penggalan ayat tersebut ialah surat Al-Baqarah ayat 144 yang artinya,  “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS Al-Baqarah [2]: 144).
Kedua, masjid kedua yang ditempatkan Allah di muka bumi. Dalam satu riwayat dari Abu Dzar, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?” Beliau bersabda, “Al-Masjid Al-Haram”. Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Kemudian Masjid Al-Aqsha”. Berkata Abu Mu’awiyah “Yakni Baitul Maqdis” . Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama antara keduanya?”. Beliau menjawab, “Empat puluh tahun”. (HR Ahmad dari Abu Dzar).

Ketiga, pahala salat di Masjid Al-Aqsa ratusan kali lipat. Hal ini berdasarkan hadis Nabi  ﷺ dari riwayat Abu Darda, "Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Keempat, Masjid Al-Aqsa sebagai negeri para Nabi. Sebutan tersebut tersemat lantaran lokasi geografis Al-Aqsa ada di palestina. Kita semua tahu Palestina merupakan negeri yang diberkahi karena wilayah ini dulunya adalah bagian dari negeri Syam. Di tanah inilah para nabi tinggal, berdakwah, dan dimakamkannya banyak nabi, seperti Nabi Ibrahim, Yaqub, Daud, Sulaiman, Musa, dan Isa as. Al-Aqsa juga menjadi saksi perjalanan Isra' Mikraj Nabi saw. Allah Taala menegaskan, "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Al-Isrā' [17]:1)

Itulah di antara keutamaan Al-Aqsa yang menjadi alasan kuat mengapa Al-Aqsa sangat penting dan wajib kita jaga dari tangan keji zionis. 

Pada masa peradaban Islam, Al-Aqsa mendapat perhatian para khalifah. Ketika Khalifah Umar bin Khaththab ra. berhasil membebaskan Baitul Maqdis pada tahun 15 H (636 M), beliau datang dan memasuki kawasan Masjid Al-Aqsa yang saat itu dalam kondisi rusak serta dipenuhi kotoran. Umar kemudian membersihkannya sendiri dan membangun sebuah masjid sederhana dari batu dan kayu di lokasi yang kini dikenal sebagai Masjid Qibli (Kiblat). 

Beberapa dekade kemudian, Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah, memulai pembangunan kembali Masjid Al-Aqsa pada tahun 66 H (685 M) dan menyelesaikannya pada tahun 72 H. Pekerjaan tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Walid bin Abdul Malik, yang menyempurnakan bangunan-bangunan lainnya hingga tahun 86 H. Pembangunan yang dilakukan Abdul Malik mencakup penyempurnaan Masjid Qibli yang dibangun oleh Umar bin Khaththab serta pendirian Masjid Kubah Ash-Shakhrah. Bangunan yang berdiri hingga kini sebagian besar merupakan hasil pembangunan pada masa Khalifah Abdul Malik tersebut, meskipun telah mengalami renovasi oleh para khalifah Islam setelahnya. 

Para khalifah dari berbagai masa kekuasaaan Islam serta para penguasa Baitul Maqdis secara turun-temurun terus memperkuat dan memperindah bangunan Masjid Al-Aqsa. Pada masa pemerintahan Abbasiyah, Khalifah Al-Ma'mun melakukan renovasi besar pada tahun 217 H dan bahkan mencetak mata uang yang bertuliskan nama “Qudus.”  Demikianlah, para Khalifah secara bergantian dari masa ke masa memberikan perhatian mulai dari perawatan, renovasi, pemeliharaan, dan penjagaan Al-Aqsa sebagai tempat suci ketiga umat setelah Makkah dan Madinah. 
Namun, kini kemuliannya ternodai oleh bangsa laknat zionis. Kesuciaannya terkotori oleh tangan-tangan biadab penjajah. Oleh karena itu, umat harus menyatukan pemikiran dan perasaannya bahwa kita bukanlah umat yang tersekat oleh sekat imajiner bernama nation state. Kita adalah umat yang satu, akidah yang menyatu, syariat yang tertuju, dan kebangkitan Islam yang harus menjadi visi bersama menegakkan kembali peradaban Islam yang terkubur dan dikubur oleh ideologi kufur Barat. 

Pun solusi dua negara juga bukan jalan kebangkitan sesungguhnya. Umat harusnya memahami bahwa solusi dua negara adalah jebakan kapitalis Barat untuk mengerat Palestina hanya tinggal nama. Para musuh Islam berharap jika Palestina hancur dan terkubur,  tidak ada kebangkitan, tidak ada peradaban. Yang tersisa hanya cerita reruntuhan dan genosida menyakitkan. Palestina dan Al-Aqsa hanya bisa bebas tatkala umat bersatu dan menyatu di bawah panji dan kepemimpinan yang satu, yakni seruan jhad dan kebangkitan peradaban Islam yang dirindu. 

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. telah mengumpulkan (dan menyerahkan) bumi kepadaku, sehingga aku bisa menyaksikan timur dan baratnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah dikumpulkan dan diserahkan kepadaku darinya, dan aku dianugerahi dua perbendaharaan yakni merah (emas) dan putih (perak).” (HR Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Al-Tirmidzi).

Al-Hafidz al-Nawawi al-Syafi’i menjelaskan, di dalam hadis ini terdapat isyarat bahwa kekuasaan umat ini akan membentang (membesar) sebagian besarnya dari arah timur dan barat.Dalam hal ini, makna di balik kalimat “timur dan barat” adalah bahasa kiasan dari keseluruhan penjuru bumi mencakup timur, barat, utara, dan selatan. Jika bukan generasi kita dan anak-anak kita yang mewujudkannya, lalu siapa lagi. Jika bukan saat ini, lalu sampai kapan menyaksikan umat terpuruk dan terjajah? 

Setidaknya upaya mewujudkan peradaban Islam itu bisa dilakukan dengan cara:
Pertama, membangun kesadaran umat untuk berislam secara kafah dengan melakukan pembinaan dan memberikan pemahaman bahwa Islam adalah jalan hidup yang akan membawa kepada kemuliaan sehingga gelar sebagai umat terbaik akan kembali terwujud.

Kedua, berdakwah amar makruf nahi mungkar secara konsisten. Islam di akhir zaman telah terasing dari pemeluknya sendiri. Di sinilah peran penting para dai, juru dakwah, dan siapa saja yang memiliki kesadaran dan pemahaman Islam yang sahih untuk menyampaikan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, atau aturan prasmanan. Namun, Islam adalah sistem yang memiliki seperangkat aturan mulai dari bangun tidur hingga bangun negara,

Ketiga, terus menyerukan pentingnya persatuan dan urgensi ukhuwah Islamiah hakiki. Allah Taala berfirman, "Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (agama) Allâh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allâh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allâh mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allâh menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali ‘Imrân/3:103)

Nabi ﷺ juga mengingatkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh, "Perumpamaan kaum muslim dalam urusan kasih sayang dan tolong-menolong bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan (merasa) panas." (HR Bukhari-Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, "Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari-Muslim).

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update