Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pesantren: Garda Akidah ditengah Arus Sekulerisasi

Monday, October 20, 2025 | Monday, October 20, 2025 WIB Last Updated 2025-10-19T22:23:13Z

 


Oleh: Kursiyah Azis (Penulis dan Aktivis Muslimah)



Dunia pernah menyaksikan masa di mana ilmu, keadilan, dan kesejahteraan berpadu dalam satu sistem yang melahirkan kejayaan tiada banding. Itu bukan kebetulan, melainkan buah dari diterapkannya sistem Islam secara kaffah, dimana sebuah sistem yang menata manusia, mengatur negara, dan membimbing peradaban. Dari Baghdad hingga Andalusia, dari Samarkand hingga Kairo, cahaya Islam menerangi dunia dengan ilmu dan adab. Kini, ketika dunia modern tenggelam dalam krisis moral dan ketimpangan sosial, seruan untuk kembali kepada sistem Islam menjadi semakin relevan. Hanya dengan sistem ini, golden age bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi janji masa depan.


Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh komponen pondok pesantren di Indonesia untuk menjadikan Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Nasional dan Internasional sebagai “anak tangga pertama” menuju kembali “The Golden Age of Islamic Civilization" (Zaman Keemasan Peradaban Islam). Menag menegaskan bahwa kebangkitan kembali peradaban emas ini harus dimulai dari lingkungan pesantren.


“Mari kita bangun kembali masa kejayaan keilmuan Islam, seperti pada masa Baitul Hikmah di Baghdad, kebangkitan ini haruslah dimulai dari lingkungan pesantren,” ajak Menag membuka acara MQK Internasional di Pesantren As'adiyah Wajo, Dikutip dari Menag.go.id, Kamis (02/10/25). 


Sebagaimana sudah diketahui bahwa sejak masa penjajahan, pesantren telah menjadi pusat perjuangan umat Islam. Dari pesantren lahir para ulama pejuang yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menyalakan api perlawanan terhadap penjajahan dan kezaliman. Mereka sadar bahwa penjajahan terbesar bukan hanya perampasan tanah, tetapi penjajahan pemikiran yang kerapkali berupaya menjauhkan umat dari hukum dan sistem hidup Islam.


Namun kini, banyak pesantren yang terjebak dalam arus modernisasi yang menyesatkan. Kurikulum pesantren perlahan diseragamkan dengan sistem sekuler. Santri diarahkan untuk sekadar menjadi tenaga kerja, bukan penggerak perubahan. Padahal, pesantren sejatinya adalah pusat pembentukan ideologi Islam, tempat lahirnya pemikir, mujahid, dan pemimpin yang memahami bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem kehidupan yang menyeluruh.


*Dari Pendidikan Menuju Perubahan Sistemik*


Kebangkitan Islam tidak mungkin lahir dari pendidikan yang netral ideologi. Pesantren harus berani kembali pada misinya aslinya. Yakni melahirkan generasi yang berpikir dan berjuang demi tegaknya syariat Islam secara kaffah. Santri harus dibentuk menjadi agen perubahan, bukan sekadar penghafal kitab, tetapi juga pengemban dakwah yang memahami realitas dunia dan solusi Islam atasnya.


Kebangkitan Islam bukan sekadar romantisme sejarah, tapi proyek besar yang menuntut kesadaran politik, ideologis, dan sosial. Maka, pesantren perlu menanamkan pemahaman bahwa solusi terhadap krisis umat yang terjadi saat ini seperti korupsi dan ketimpangan global hanya bisa terwujud melalui penerapan Islam sebagai sistem kehidupan. Sebab dari sinilah lahir generasi santri yang tak hanya berilmu, tapi juga militan dalam memperjuangkan tegaknya peradaban Islam.


*Pesantren dan Harapan Peradaban Baru*


Umat Islam hari ini membutuhkan pelopor untuk menyambut peradaban baru yang gemilang, dan pesantren memiliki semua modal untuk mencapai semua itu. Yakni ilmu, keikhlasan, dan jaringan sosial yang luas. Jika pesantren mampu kembali pada jati dirinya sebagai pusat dakwah dan perjuangan, ia akan menjadi katalis kebangkitan Islam global. Dari ruang-ruang pengajian yang sederhana, akan lahir ide-ide besar tentang keadilan, kedaulatan, dan kemanusiaan dalam bingkai syariat.


Kebangkitan Islam hakiki tidak akan datang dari gedung parlemen atau lembaga donor internasional, melainkan dari kesadaran yang tumbuh di hati para santri, dari jiwa mereka akan muncul kesadaran bahwa Islam adalah solusi total bagi kehidupan manusia. Maka dari itu keberadaan pesantren semestinya tidak hanya sekadar penjaga tradisi, tetapi pelopor peradaban baru yang berlandaskan wahyu dan berpijak pada kemuliaan akhlak.


Olehnya itu maka sudah saatnya pesantren keluar dari sekat pendidikan yang pasif. Ia harus kembali memimpin barisan perjuangan umat, membangkitkan kesadaran ideologis, dan menyiapkan generasi pembaharu. Sebab, sebagaimana dulu pesantren melahirkan para pejuang kemerdekaan, kini pesantren pula yang akan melahirkan pejuang kebangkitan Islam. Dunia telah membuktikan bahwa dari santri akan lahir ulama, dari ulama akan lahir pemimpin, dan dari pemimpin akan tegak kembali peradaban Islam yang hakiki.


*Sistem Islam Melahirkan Golden Age*


Sejarah membuktikan, masa keemasan Islam (Golden Age) lahir bukan dari kebetulan, tetapi dari diterapkannya sistem Islam secara kaffah dalam kehidupan. Ketika syariat menjadi dasar pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan sosial, dunia menyaksikan peradaban yang penuh cahaya.


Di bawah sistem Islam, ilmu berkembang pesat. Baghdad menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, Andalusia menjadi taman peradaban Eropa. Ulama dan ilmuwan seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi lahir dari masyarakat yang mencintai ilmu dan menghormati akhlak. Semua ini tak lepas dari peran negara Islam yang menjamin pendidikan, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan semangat dakwah serta jihad.


Namun, kejayaan itu memudar ketika umat meninggalkan sistem Islam. Ketika hukum Allah diganti dengan hukum manusia, peradaban mulai rapuh. Umat terpecah, kekuasaan melemah, dan penjajahan menjadi mudah dilakukan.


Kini dunia modern kembali berada di ambang krisis. Kapitalisme melahirkan kesenjangan, demokrasi kehilangan arah, dan sosialisme gagal menyejahterakan. Saatnya umat Islam kembali menyadari bahwa solusi sejati hanya ada pada sistem Islam, yakni sistem yang pernah melahirkan Golden Age dan akan kembali menegakkan peradaban yang adil, berilmu, dan bermartabat.


Generasi muda, para santri, dan pesantren harus menjadi garda terdepan dalam kebangkitan ini. Mereka adalah penerus ulama dan ilmuwan yang dulu memimpin dunia. Dengan ilmu, iman, dan perjuangan, Golden Age Islam bukan sekadar sejarah, tetapi janji masa depan yang bisa diwujudkan.


Dengan demikian, maka penerapan sistem Islam adalah satu-satunya solusi terbaik untuk mewujudkan kebangkitan Islam, salah satunya yaitu dimulai dari generasi didikan pesantren yang di topang dengan sistem pendidikan Islam itu sendiri. Wallahu alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update