Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan di Indonesia, Apa yang Salah?

Tuesday, October 28, 2025 | Tuesday, October 28, 2025 WIB Last Updated 2025-10-27T23:19:21Z

 


Oleh: Ucy ( Mahasiswi UMB)


Dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh sebuah berita. Kasus murid yang merokok di SMAN 1 Cimarga, Banten dan mendapat tamparan dari kepala sekolahnya tengah menjadi sorotan. Sebab, orang tua murid justru melaporkan kepala sekolah ke polisi, yang berujung penonaktifan sementara. Detikedu ( 22/10/2025)


 Awalnya mulanya, sang siswa kedapatan merokok di lingkungan sekolah, lalu pihak sekolah melakukan tindakan pendisiplinan. Tak disangka, tindakan tersebut, justru berujung pada laporan hukum. Orang tua mengklaim ada tindakan kekerasan yang diterima anaknya pahadal setiap sekolah itu memiliki yang namaya aturan.


Kasus ini bukan yang pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, kita sering mendengar kisah serupa, guru menegur siswa, siswa tidak terima, orang tua melapor. Guru sering intimidasi dan bahkan kepala sekolah dipanggil polisi, dan akhirnya masyarakat bertanya-tanya.


Sekularisasi Pendidikan dan Krisis Nilai


Dulu, guru dipandang sebagai sosok yang “digugu dan ditiru”. Dipercaya ucapan dan diteladani perbuatannya. Hari ini, makna tersebut seolah tinggal kenangan. Di zaman sekarang, banyak guru kini serba salah terlalu lembut, murid semakin tak terkendali. terlalu tegas, malah diadukan ke pihak berwenang. 


Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ia tumbuh dari perubahan cara sudut pandang masyarakat terhadap pendidikan itu sendiri. Banyak orang tua menilai sekolah hanya tempat anak mengejar nilai akademik, bukan tempat pembentukan karakter. Ketika guru menegur perilaku buruk, dianggap melampaui batas. Padahal, sejatinya, pendidikan bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi soal pembentukan manusia. 


Akibatnya, anak-anak belajar bahwa benar dan salah diukur dari aturan sekolah, bukan dari ajaran agama. Maka ketika ketahuan merokok, ia merasa sekadar melanggar tata tertib, bukan berbuat dosa. Orang tua pun berpikir serupa: bukan merasa malu karena anaknya berbuat salah, tetapi tersinggung karena merasa harga diri keluarga dilecehkan. Merasa hukuman fisik pada anaknya kelewat batas.


Padahal, dalam Islam, pendidikan adalah tazkiyatun nafs (upaya menyucikan jiwa). Tujuan utamanya bukan sekadar mencetak siswa berilmu, tetapi manusia bertakwa. Allah Swt. berfirman, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (TQS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Tanpa nilai ketuhanan, pendidikan menjadi kering dan mekanistik. Anak bisa pintar, tetapi tidak beradab; cerdas, tetapi tanpa arah.


Faktor lain yang tak kalah penting adalah peran keluarga. Islam menempatkan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Fenomena ini mencerminkan putusnya sinergi antara rumah dan sekolah. Keduanya tidak lagi berbicara dalam bahasa nilai yang sama. Sekolah bicara tentang disiplin, sementara orang tua sibuk dengan ego dan gengsi. Akibatnya, anak tumbuh bingung siapa sebenarnya yang harus ia taati?


Masalah makin kompleks ketika sistem hukum nasional lebih menekankan hak individu ketimbang kewajiban moral. Dalam kerangka hukum modern yang lahir dari paradigma sekuler, anak dianggap subjek yang “harus dilindungi” bahkan dari pendisiplinan. Guru harus berhati-hati menegur, karena bisa dituduh melakukan kekerasan psikologis. 


Padahal, dalam konteks pendidikan Islam, teguran adalah bentuk kasih sayang. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Perintahkan anak-anakmu untuk salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan mendidik) ketika berusia sepuluh tahun jika mereka meninggalkannya.” (HR. Abu Dawud)


Hadis ini tidak melegalkan kekerasan, tetapi menegaskan pentingnya ketegasan dalam pendidikan moral. Islam menempatkan pendisiplinan sebagai bagian dari kasih sayang yang bertujuan memperbaiki, bukan menyakiti. 


Pendidikan yang Menyatu dengan Akidah


Lagi dan lagi islam menawarkan solusi menyeluruh terhadap krisis ini. Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak bisa dipisahkan dari akidah. Ada tiga pilar utama yang menopang sistem pendidikan Islam. Pertama akidah sebagai dasar ilmu. Semua pelajaran, mulai dari Matematika hingga Biologi, diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran akan kebesaran Allah Swt. Anak diajak berpikir ilmiah sekaligus spiritual. Nilai moral tidak diajarkan terpisah, tetapi terintegrasi dalam setiap ilmu.


Kedua, guru sebagai pembina jiwa, bukan sekadar pengajar. Guru diberi otoritas moral untuk membentuk karakter siswa. Negara wajib melindungi kehormatan guru dan mendukung peran pendisiplinan selama sesuai nilai Islam. Ketiga bersosial, dalam sistem sosial Islam, lingkungan sekitar ikut berperan dalam membentuk karakter anak. Amar makruf nahi mungkar menjadi budaya bersama. 


Selama pendidikan masih berdiri di atas fondasi sekuler, guru akan terus kehilangan wibawanya, dan generasi muda akan tumbuh tanpa arah moral. Maka, solusi yang terbaik bukan sekadar revisi kurikulum atau penambahan jam pelajaran agama, tetapi bagimana perubahan total terhadap, pendidikan dari sekuler menuju berbasis akidah Islam.


Oleh karena itu, pendidikan didalam Islam bukan hanya sekedar mencari pekerjaan, tetapi untuk membangun peradaban yang gemilang . Guru juga bukan buruh administratif para penguasa , tetapi penjaga jiwa anak muridnya. Pun, murid bukan sekadar peserta ujian, tetapi calon pemimpin umat dan peradaban. Wallahualam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update