Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lonely in The Crowd: Dampak Buruk Bermedia Sosial

Wednesday, October 01, 2025 | Wednesday, October 01, 2025 WIB

 


Oleh: Jauharotul Fuaadah

(Freelance Writer)

 

Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, tepatnya sepanjang tahun 2010-an, dunia telah menyaksikan kemajuan pesat dalam sistem telekomunikasi. Seiring berjalannya waktu, alat komunikasi yang kita gunakan semakin canggih. Sejalan dengan kemajuan tersebut, bermunculan aplikasi dan platform digital berbasis internet yang memungkinkan kita untuk terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia dalam hitungan detik. 


Aplikasi ini, yang kita kenal sebagai media sosial, tidak hanya memungkinkan kita untuk berkomunikasi, tetapi juga berinteraksi, membuat, dan berbagi konten dalam bentuk foto, video, teks, serta gagasan. Semua ini memberi dampak besar bagi kehidupan sosial kita, dengan memudahkan interaksi jarak jauh dan memperkaya cara kita berbagi informasi.

 

Namun, seperti dua sisi mata uang, penggunaan media sosial membawa dampak positif dan negatif. Tanpa adanya batasan yang hakiki, media sosial sering kali membuat penggunanya terjebak dalam dunia virtual yang jauh berbeda dari realitas kehidupan sehari-hari. Ironisnya, meskipun banyak orang merasa terhubung secara sosial di dunia maya, mereka justru sering kali merasa kesepian. Perasaan terhubung di media sosial tidak berarti menghilangkan sepi. Seseorang bisa sangat aktif di dunia maya, tetapi minim interaksi sosial. Seseorang juga bisa kesepian padahal yang ia akses adalah hal-hal yang menyenangkan, ramai, dan nampak sedang berkomunikasi dengan teman mayanya. 


Banyak kita jumpai seseorang yang berbeda karakternya saat di media sosial dengan kehidupan sehari-harinya, karena pada prinsipnya, seseorang akan ingin menunjukkan kebahagiaannya daripada kesedihannya di media sosial. Tak jarang, orang akan berlomba-lomba memposting capaian kebahagiaanya sehingga hal itu sering membuat orang lain yang melihatnya menjadi suatu perbandingan bahkan beban dalam hidupnya. Padahal belum tentu seseorang itu seperti apa yang ia tampilkan di media sosialnya. Itu hanya secuplik, bahkan nol koma sekian persen kehidupan nyatanya yang ia bagikan. 

 

Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. Mereka melakukan riset berjudul “Loneliness in The Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual.” Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori hiperrealitas, di mana representasi digital sering kali dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Emosi yang dibentuk oleh media sosial, seperti kebahagiaan atau kecemasan, dapat mempengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. Hal ini semakin memperburuk kesepian, terutama di kalangan Generasi Z yang kerap kali merasa terisolasi dan terjebak dalam perasaan tidak aman atau insecure, meskipun mereka aktif di dunia maya.

 

Lebih jauh lagi, masyarakat di era digital sering kali merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk bermedia sosial. Gen Z, adalah yang disebut-sebut generasi yang paling merasa kesepian, insecure, bahkan mengalami gangguan mental. Semua ini bukan karena kurangnya literasi digital bahkan manajemen penggunaan gawai. Tapi memang begitulah kapitalis membentuk dan membuat arus di media sosial yang mengakibatkan dampak yang buruk. Di antaranya sikap asosial. Masyarakat jadi susah bergaul dan bersikap di kehidupan nyata. Bahkan di tengah keluarganya sendiri pun mereka jadi canggung dan pola hubungan keluarga jadi terasa jauh.

 

Sikap asosial dan merasa kesepian akan berdampak buruk dan merugikan umat. Terlebih lagi, pengguna media sosial kebanyakan adalah generasi muda yang di mana mereka sebetulnya memiliki potensi yang besar untuk karya-karya yang produktif, tapi sayang dengan dampak buruk tersebut akan menjadikan generasi muda ini menjadi lemah tak berdaya. Kepedulian terhadap umat juga tidak akan mampu dipotret oleh masyarakat yang terjebak dalam kesepian dirinya. 

 

Masyarakat harus menyadari dan memahami bahwa pengaruh media sosial yang tidak dikelola dengan bijak akan menjadikan banyak orang menjadi asosial dan merasa kesepian di tengah keramaian. Hal ini membahayakan dan merugikan umat. Masyarakat juga harus memiliki batasan-batasan tertentu untuk bermedia sosial.

 

Dalam Islam, menggunakan media sosial itu diperbolehkan. Hukum awalnya adalah mubah. Tetapi apabila digunakan dengan tidak semestinya bisa berubah menjadi makruh hingga haram. Ada beberapa batasan-batasan untuk bermedia sosial. Seperti, tidak melontarkan kata-kata buruk dan tidak sopan saat berkomentar, tidak meng-upload hal-hal yang di luar ketentuan syarak, tidak melakukan gibah dan fitnah dalam merespon suatu berita, tidak memperlihatkan aurat, sampai di titik melarang berdua-duan di kolom chat sehingga dapat memicu hasrat tidak senonoh, juga harus dihindari.

 

Masyarakat juga seharusnya menjadikan Islam sebagai identitas utama, sehingga tidak terus menerus menjadi korban sistem sekular liberal. Dengan bingkai Islam, bermedia sosial akan membuat sesuatu menjadi lebih aktif, kreatif dan produktif. Di samping itu, media sosial seharusnya digunakan untuk kegiatan yang produktif, seperti berbagi ilmu, berdakwah, atau menciptakan karya yang bermanfaat.


Negara semestinya mengatur ketat sistem bermedia sosial ini. Mengapa? Karena sistem media sosial memungkinkan ikhtilath atau bercampurnya lelaki dan wanita di dalamnya. Hal ini bisa melanggar norma agama juga melanggar syariat Islam. Negara sebagai tameng dan pembatas apabila ada platform atau aplikasi yang melanggar syariat Islam. Peran negara sangat penting dalam mengendalikan pemanfaatan dunia digital dan mendorong masyarakat khususnya generasi muda agar tetap produktif dan berkontribusi dalam menyelesaikan problematika umat. 

 

Dengan demikian, bermedia sosial dalam bingkai Islam membuat sesuatu menjadi hal yang positif serta produktif. Ada yang menjaga juga ada manfaat yang diperolehnya. Bukankah kita semua merindukan penerapan aturan Sang Maha Baik yang dengannyalah akan membawa kehidupan ini menuju lebih baik. Wallahu a'lam.

2 comments:

  1. Keren tulisannya ,, semangat selalu

    ReplyDelete
  2. I like this writer

    ReplyDelete

×
Berita Terbaru Update