Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z Wajib Menolak "Two State Solution"

Friday, October 17, 2025 | Friday, October 17, 2025 WIB Last Updated 2025-10-17T11:47:01Z

 


Oleh : Nia Umma Zhafran (Aktivis Muslimah)


Gelombang dukungan terhadap Palestina terus menguat. Dari Asia hingga Afrika, aksi solidaritas tak pernah berhenti. Hal yang sama dilakukan oleh Global Sumud Flotilla, armada kemanusiaan yang membawa makanan, obat, dan harapan bagi penduduk Gaza, justru menjadi sasaran kezaliman. 


Berbagai unjuk rasa global untuk memprotes pencegatan rombongan kapal Global Sumud Flotilla oleh Israel kembali menggugah kesadaran dunia, seperti aksi protes Gen Z di Maroko yang turun ke jalan mengecam penculikan kapal misi kemanusiaan. Unjuk rasa juga terjadi di Eropa untuk memprotes pencegatan rombongan kapal Global Sumud Flotilla oleh Israel.


Tak hanya di dunia Muslim, dunia pun bereaksi cepat. Di London, Paris, Roma, dan Brussel, puluhan ribu orang turun ke jalan membawa bendera Palestina dan poster bertuliskan “Stop Genocide in Gaza.” Mereka juga menuntut agar pemerintah menghentikan dukungan kepada Israel dan memboikot produk yang terlibat dalam penjajahan.


Global Sumud Flotilla tak sekedar membawa bantuan logistik. Mereka pun membawa harapan dan nilai kemanusiaan, namun dunia justru membiarkan kemanusiaan diblokade. Ketika bantuan pun diserang, jelas bahwa yang dilawan bukan hanya rakyat Palestina, tetapi seluruh nilai kemanusiaan itu sendiri.


Kesadaran politik para Gen Z patut kita apresiasi atas kepeduliaan mereka terhadap penderitaan di Gaza, Palestina. Bagi Gen Z yang melek informasi dan berpikir kritis, kompromi dengan penjajah bukanlah jalan damai, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan aqidah. Dimana mereka tahu hidup di tengah derasnya informasi, mana yang manipulatif, mana yang otentik. Maka, jangan biarkan narasi “Two State Solution” membius hati dan menipu logika.


Islam tidak pernah mengajarkan kompromi terhadap penjajahan, sehingga haram menerima konsep dua negara sebagai solusi. Solusi dua negara justru memberi “jalan” bagi entitas penjajah untuk terus eksis di bumi para nabi. Sejarah mencatat, dari perjanjian Oslo (1993) sampai inisiatif solusi dua negara, semua hanyalah ilusi politik yang memberi napas bagi penjajahan. Puluhan tahun, wilayah Palestina makin menyempit, permukiman ilegal makin luas, dan darah warga sipil terus tumpah. Inilah bukti bahwa Zionis hanya paham bahasa perang, bukan perdamaian.


Realitanya, Palestina tidak akan merdeka lewat meja diplomasi, tapi lewat kekuatan umat yang bersatu, yakni jihad dan Khilafah. Jihad bukan sekadar perang fisik, tapi kesungguhan total menegakkan perlawanan dan menegakkan syariat Allah di muka bumi. Dan jihad yang terorganisir hanya mungkin berjalan di bawah naungan Khilafah Islam, sistem yang mempersatukan kekuatan umat tanpa sekat nasionalisme sempit.


Maka, inilah arah perjuangan sejati yang perlu disadari oleh generasi muda Muslim. Gen Z wajib menolak solusi dua negara karena ia bukan solusi, melainkan jerat politik yang menipu. Generasi muda bukan hanya peneriak slogan, tapi penentu arah peradaban. Hanya dengan kembali menerapkan Islam secara totalitas (kaffah), dunia akan menyaksikan lahirnya peradaban yang menegakkan keadilan hakiki dan memuliakan seluruh manusia. Karena Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.


WalLaahu a'lam bishowwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update