Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Filisida Maternal, Ironi Ibu Dalam Sistem Gagal

Wednesday, October 08, 2025 | Wednesday, October 08, 2025 WIB

 


Oleh: Ronita Pabeta, S. Pd (Pegiat literasi)


Terulang kembali kisah pilu seorang ibu yang menghabisi anaknya. Seorang ibu berinisial EN (34) di Bandung Jawa Barat tega meracuni buah hatinya yang masing-masing berumur 9 tahun dan 11 bulan, yang akhirnya si ibu ditemukan tewas juga usai melakukan aksinya. (detiknews, Senin 08/09/2025) 

Begitu pula kasus yang sama terjadi di kabupaten Batang Jawa Tengah sebulan sebelumnya yaitu bulan Agustus dimana kakak beradik usia 6 tahun dan 3 tahun ditemukan tewas di pantai Sigandu. Sementara ibunya VM (31) ditemukan bersembunyi di dalam toilet portabel di sekitar lokasi kejadian dan ditemukan dalam kondisi linglung. 

Dilansir dari Metro news.com pada 9 September 2025 di Jakarta, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) menuturkan kasus filisida maternal yaitu pembunuhan seorang ibu terhadap anaknya yang terjadi di beberapa daerah akhir-akhir ini dipicu oleh berbagai masalah yang kompleks dalam masyarakat tersebut.

Menurut Pribudiarta Nur Sitepu, Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak di kementerian PPPA bahwa masalah filisida itu banyak dipicu oleh kesehatan mental sang ibu, masalah ketahanan keluarga yang lemah, masalah ekonomi, tidak adanya support sistem dari lingkungan keluarga dan masyarakat, dan lain-lain. 


Jika kita melihat kasus filisida maternal ini setidaknya dapat dilihat motif yang selalu diungkap dari setiap peristiwa filisida ini, diantaranya: ada motif altruistik yaitu bahwa si ibu percaya bahwa dengan kematian anak-anak bisa selamat dari dunia yang kejam atau nasib yang lebih buruk, motif psikotik akut yaitu si ibu mengalami gangguan psikotik, yang terakhir adalah motif balas dendam yaitu bahwa si ibu ingin membalas sakit hatinya kepada pasangannya secara tidak langsung. 

Motif- motif yang mendorong ibu melakukan filisida ini tak dapat dipungkiri kenyataannya. Namun semua motif tersebut sesungguhnya tidak terlepas dari sistem yang berlaku hari ini. 

Sistem sekularisme yang begitu kuat mengakar menjadikan seseorang jauh dari agamanya. Kalaupun dekat hanya dalam masalah ibadah ritual saja, tak lebih dari itu. Sekulerisme membuat peran seorang ibu menjadi ambigu. Di satu sisi seorang ibu dituntut menjadi seseorang yang siap memenuhi kasih sayang dan melayani keluarga baik suami maupun anak-anaknya, namun di sisi lain kehidupan yang menuntut pemenuhan kebahagiaan materi menjadikan si ibu berubah dari tulang rusuk menjadi tulang punggung. Betapa lelahnya menjadi seorang ibu di sistem ini!

Tuntutan ini seolah menjadi diskriminasi kehidupan wanita dengan pria. Yang akhirnya seorang ibu bertransformasi menjadi makhluk mengerikan yang siap menyakiti bahkan membunuh anak-anaknya. Sistem inilah yang membuat kasus filisida maternal ini terus terjadi. Jikalau ada upaya yang dilakukan pun sifatnya hanya temporal saja. Tidak sampai menyelesaikan sampai tuntas. 


Menko PMK, Pratikno mengatakan bahwa kehilangan seorang ibu dan anak-anaknya bukan hanya luka bagi keluarga, tetapi juga luka bagi Indonesia. Benar, ini adalah luka bagi seluruh manusia. Karena kedudukan seorang ibu itu sangat mulia. Dalam Islam, kedudukan seorang ibu disebutkan oleh Rasulullah SAW menempati tiga tingkat dari seorang ayah. Dan ibu adalah orang yang melahirkan generasi. Dari rahimnya lahir keturunan manusia, maka secara fitrah seorang ibu hatinya dipenuhi oleh kasih sayang yang dalam terhadap anak-anaknya. Namun faktanya filisida mengoyak tirai kasih sayang itu. Ibu yang sejatinya rela mempertaruhkan nyawanya agar anaknya bisa lahir ke dunia namun begitu mudahnya merenggut nyawa anaknya sendiri. Jelas hal ini tak sesuai fitrah. 

Islam adalah agama yang sesuai fitrah manusia. Islam tak hanya mengatur masalah ibadah ritual semata namun juga permasalahan kehidupan. Islam memiliki seperangkat aturan yang komprehensif untuk menyelesaikan setiap masalah. Kasus filisida ini hanyalah satu persoalan hidup dari berbagai persoalan hidup manusia. Maka kasus ini haruslah dilihat akar masalahnya. Dari motif yang memicu kasus ini nampak jelas bahwa semua bermuara pada tidak adanya support sistem baik dari keluarga, masyarakat apalagi negara. Adanya motif munculnya ketakutan seorang ibu membayangkan masa depan anak-anaknya akhirnya menjadikan si ibu fobia terhadap hidup, sehingga menganggap bahwa mati adalah solusi tentu adalah hal yang tak logis. Tentu hal ini tak bisa diselesaikan jika hanya berharap pada sistem saat ini. Bagaimana Islam dengan aturan yang datang dari Allah SWT mampu menyelesaikan masalah ini? Tentunya Islam memiliki solusinya yaitu mencegah terjadinya filisida maternal ini yaitu dengan mengembalikan posisi seorang ibu pada tempatnya yaitu sebagai ibu yang mengatur rumah tangga tanpa harus dilelahkan dengan aktifitas mencari nafkah dan mengembalikan pula posisi seorang ayah sebagai pemimpin rumah tangga yang bukan hanya sekedar menafkahi tetapi siap untuk melindungi dan mendidik istri serta anak-anaknya. Dalam Islam negara memiliki peran untuk memberikan peluang besar kerja bagi para pria. Lalu bagaimana jika kasus filisida ini terjadi maka dipastikan pelakunya akan disanksi sesuai syari'at yaitu qishas. 

Dalam Islam sangat tegas melarang seseorang membunuh anaknya karena takut miskin atau tak mampu memenuhi kebutuhannya, dalam Al Qur'an surat Al Israa ayat 31, Allah tegas melarang orangtua membunuh anak-anaknya karena takut miskin, karena pada hakikatnya yang memberi rejeki itu adalah Allah SWT.

Oleh karena itu tak cukup hanya menyelesaikan kasus filisida maternal ini hanya pada permukaan saja tetapi harus sampai tuntas. Maka dibutuhkan sebuah aturan/sistem yang sumbernya berasal dari Allah SWT yaitu syari'at Islam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update