Ruri R
Pegiat Dakwah
Fenomena fatherless yang saat ini sedang booming, banyak terjadi di negeri kita ini. Suatu keadaan atau kondisi dimana tidak adanya peran dan keterlibatan figur ayah secara signifikan dan hangat dalam kehidupan sehari-hari seorang anak dalam keluarga.
Fenomena tersebut memunculkan salah satu komunitas yang bertajuk "Satu Meja Makan" Sebagai wadah bagi para anggotanya yang mengalami fatherless. Mereka di sini dapat mengungkapkan keluh kesah mereka atas permasalahannya dan saling menguatkan. .
Komunitas ini dibentuk pada April 2025, yang dimotori oleh pengalaman personal dan profesional dua psikolog, yakni Irish Amalia dan Fadhilah Eryananda, yang selama ini banyak menangani kasus keluarga disfungsi.
Dalam acara wawancara dengan salah satu media, Fadhilah menyampaikan bahwa keluarga disfungsi adalah keluarga yang tak berfungsi sebagaimana layaknya keluarga. Keluarga tak hanya memenuhi kebutuhan fisik, sandang, pangan papan, juga memberikan rasa aman, kebutuhan emosional dan psikologis anak. Jadi, jika satu peran dari fungsi keluarga tidak terjadi, maka keluarga itu menjadi keluarga disfungsi, fatherless menjadi salah satunya.
Adapun inspirasi support group atau kelompok dukungan ini berasal dari luar negeri. Namanya "Calling Home", yang dibentuk Whitney Gotman, seorang terapis keluarga. Kelompok dukungan tersebut bermanfaat bagi orang yang berjuang sendiri dengan keluarga disfungsi.
Fadhilah menambahkan juga, bahwa nama Satu Meja Makan, dipilih karena aktivitas di meja makan lebih banyak terjadi pada keluarga yang fungsional. Segala macam pembicaraan sehari-hari bagaimana aktivitas sehari-hari, perasaan hari ini, dan lain-lain, dilakukan di meja makan.
Irish dan Dila berharap komunitas "Satu Meja Makan" ini menjadi wadah bagi masyarakat dari keluarga disfungsi untuk berani terbuka dan berbagi cerita tanpa ada perasaan tidak nyaman atau rasa malu. (Kompas.id, Jum'at 10/10/2025)
Problematika Kerap Muncul Akibat Kapitalis-Sekuler
Fenomena yang terjadi tersebut, bermula dari sebuah konten yang menyampaikan kegalauan seorang anak tentang hilangnya sosok seorang ayah dalam kehidupannya. Begitu banyak yang menanggapi dan mendukungnya hingga kontennya viral dan menjadi inspirasi bagi kalangan remaja yang lainnya.
Fatherless Ini muncul berupa kondisi kerusakan psikologis yang diderita anak-anak karena tidak mengenal ayahnya. Akibatnya, anak berpotensi berperilaku menyimpang. Kondisi ini tentu disebabkan kurangnya pemahaman para ayah tentang peran utamanya sebagai kepala keluarga.
Berdasarkan perannya, seorang suami atau ayah adalah pemimpin keluarga. Bertanggung jawab memberikan nafkah, pendidikan, menjaga dan mengurus keluarga, serta bertanggung jawab terhadap kondisi mental maupun fisik anak-anaknya. Meskipun ada sosok ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, namun seorang suami atau ayahlah penanggung jawab utama atas kehidupan istri dan anaknya.
Sayangnya, saat ini para ayah tidak menjalankan peran dan tugasnya, yang ada seorang ayah bersikap masa bodoh, keras, kaku, dan kasar terhadap keluarganya. Ia mengira dan merasa cukup dengan memberikan nafkah sudah menjalankan tanggungjawabnya.
Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan penerapan sistem saat ini. Pemisahan agama dari kehidupan bahkan menjauhkannya menimbulkan terjadinya banyak permasalahan.
Selain itu, tidak adanya peran dan dukungan negara terhadap permasalahan keluarga tersebut. Sehingga banyak kerusakan yang terjadi. Negara abai dalam pengurusan rakyatnya, yang mereka kedepankan urusan-urusannya dalam mencari keuntungan materi.
Islam Solusi Semua Permasalahan Umat
Berbeda dengan Islam, semua permasalahan dapat disolusikan dengan tuntas. Seorang pemimpin dalam Islam akan menerapkan aturan Sang Maha Pencipta secara menyeluruh. Pemimpin/penguasa akan bertanggung jawab secara penuh dalam meri'ayah dan memenuhi semua kebutuhan umatnya. Rasulullah saw. bersabda :
"Imam/khalifah adalah ra'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR al-Bukhari)
Dalam Islam, negara akan memberikan perhatian kepada ruang lingkup keluarga dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang mudah bagi seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga atau ayah.
Negara akan menerapkan sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam yang baik sehingga menciptakan umat yang berakhlak mulia. Kemudian mencipkan suasana yang kondusif penuh dengan rasa kasih sayang antar sesama sehingga akan terwujud hubungan yang baik dalam sebuah keluarga.
Adapun di ranah keluarga, ayah bersama ibu berperan penting dalam proses pendidikan anak sehingga terwujud generasi handal berkepribadian Islam. Generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah di atas segalanya dan menjadikan rida Allah sebagai tujuannya.
Selain itu, seorang ayah akan melakukan langkah-langkah dalam menjalankan perannya sebagai berikut; pertama, memahami bahwa anak adalah anugerah dan amanah dari Allah Taala, sehingga wajib menjaga tumbuh kembang anak dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Sejak anak dalam kandungan, orang tua wajib mempersiapkan diri menjaganya, mendidik, dan melindunginya.
Kedua, memenuhi hak anak. Sudah seharusnya seorang ayah paham bahwa ia adalah penanggung jawab keluarga. Ia wajib menafkahi istri dan anak-anaknya. Melindungi anak dengan akhlak mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Dalam menjalankan perannya, seorang ayah tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku, dan kasar terhadap anak-anak dan istrinya.
Ketiga, berkomunikasi intens dan berkegiatan bersama anak. Komunikasi yang baik dapat membangun hubungan yang baik, terlebih jika dilakukan secara langsung atau komunikasi verbal. Hal ini akan membuat hubungan ayah dan anak makin dekat dan baik karena didasari rasa saling percaya, jujur, dan terbuka.
Keempat, menjadi teladan bagi anak. Bagaimanapun anak-anak membutuhkan teladan (qudwah) yang baik, bahkan hingga ia dewasa. Oleh karenanya, ayah dan ibu harus selalu memberi contoh yang baik kepada anak. Dengan demikian, akan tertanam dalam jiwa mereka benih-benih kebaikan yang akan terhunjam dan terbawa dalam setiap sikap dan perilaku mereka bahwa syariat Islam harus diterapkan.
Kelima, mendoakan anak. Bahwa di antara doa yang mustajab adalah doa yang diucapkan oleh orang tua untuk anaknya, baik doa kebaikan maupun doa keburukan.
Demikianlah, betapa pentingnya posisi ayah bagi anak-anaknya sekalipun ada sosok ibu. Agar kelak lahir anak-anak saleh/salihah berkepribadian Islam yang handal.
Dengan diterapkannya Islam secara kaffah, dapat menuntaskan semua problematika kehidupan umat, dan mereka akan hidup bahagia di dunia maupun di akhirat, di bawah naungan daulah Islam. Wallahualam bissawab
No comments:
Post a Comment