Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Suara Gen-Z, Perlawanan terhadap Kezaliman

Wednesday, September 17, 2025 | Wednesday, September 17, 2025 WIB Last Updated 2025-09-17T12:19:24Z

Oleh. Afida Silmi Nahdliyah

Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan oleh aksi demonstrasi yang berlangsung di berbagai daerah. Aksi tersebut diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat umum serta tidak jarang banyak aktivis yang  menyuarakannya di sosial media. Peristiwa ini dipicu oleh sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat, sehingga memicu amarah dan kekecewaan yang akhirnya meluap. 

Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, menilai Gen Z tidak melakukan tindakan destruktif. Unjuk rasa dilakukan dengan cara khas mereka, yakni menggunakan media sosial, meme, poster kreatif, hingga estetika visual demi tersuarakannya aspirasi. Unjuk rasa hingga berbagai aspirasi yang ramai disuarakan masyarakat di media sosial belakangan ini mencerminkan cara generasi Z (Gen Z) dalam mengekspresikan diri dan merespons tekanan (kompas.com, 05/09/2025).

Namun, di sisi lain, Psikologi Universitas Indonesia Prof. Rose Mini Agoes Salim menyoroti fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang ikut serta dalam aksi demonstrasi. Menurutnya, meskipun demonstrasi dapat menjadi wadah pembelajaran bagi remaja untuk menyampaikan pendapat, namun keterlibatan mereka tidak lepas dari risiko. Hal ini karena remaja masih berada pada tahap perkembangan emosi, sehingga kontrol diri mereka belum matang dan mudah terprovokasi oleh situasi maupun ajakan pihak lain (inforemaja.id, 02/09/2025).

Jika ditelusuri lebih dalam, klasifikasi karakteristik Gen Z dalam psikologi sering diarahkan pada kerangka kapitalisme yang menekankan aspek personal, identitas, dan ekspresi kreatif, sehingga secara perlahan menjauhkan mereka dari kesadaran politik. Padahal, secara fitrah manusia memiliki naluri baqa, yaitu dorongan untuk bertahan hidup dan menolak kezaliman. Oleh karena itu, demonstrasi seharusnya tidak berhenti pada luapan emosi semata, tetapi diarahkan pada solusi hakiki yang benar-benar mampu menghilangkan kezaliman.

Dalam pandangan Islam, manusia diposisikan sebagai makhluk dengan khasiatul-insan (karakter khas manusia) yang fitrahnya harus terpenuhi melalui tuntunan syariat. Dengan demikian, pemenuhan naluri dan kebutuhan manusia tidak boleh semata-mata diatur oleh konsep psikologi modern, melainkan oleh aturan Islam yang membawa kebaikan dan keadilan. Islam juga memberikan mekanisme muhasabah lil hukkam, yaitu mengoreksi penguasa yang zalim dengan cara yang sesuai syariat. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt. pada QS. An-Nahl ayat 125 yang artinya “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk”.

Sejak masa Rasulullah saw., pemuda selalu memiliki peran vital sebagai garda terdepan dalam perjuangan dan perubahan hakiki (taghyir). Dengan semangat, keberanian, dan idealisme yang kuat, mereka menjadi modal utama dalam memperjuangkan kebenaran. Oleh karena itu, peran generasi muda tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi juga menggerakkan perubahan yang sesuai dengan tuntunan Islam.

Fenomena demonstrasi dan berbagai ekspresi yang ditunjukkan Gen Z hari ini mencerminkan kegelisahan terhadap kondisi bangsa. Psikologi modern memang dapat memberi analisis, tetapi Islam menghadirkan solusi yang lebih menyeluruh dan hakiki. Pemuda memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan estafet perjuangan, dengan menjadikan Islam sebagai pedoman utama dalam menolak kezaliman dan menegakkan keadilan.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update