Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Kehidupan Islam, Cegah Filisida Maternal

Sunday, September 28, 2025 | Sunday, September 28, 2025 WIB Last Updated 2025-09-28T16:08:24Z

  


Oleh. Ummi Nissa

(Pegiat Literasi)


Tragedi demi tragedi kembali mengoyak hati nurani kita. Belum lama ini, publik diguncang oleh dua peristiwa memilukan yang melibatkan ibu sebagai pelaku pembunuhan terhadap anak kandungnya sendiri, tindakan tersebut dikenal sebagai filisida maternal.


Peristiwa tragis ini terjadi di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dikutip dari antarannews (8-9-2025), seorang ibu diduga meracuni dua anaknya, dan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri. Kejadian serupa  sebelumnya juga terjadi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada Agustus 2025, dua anak perempuan kakak beradik (masing-masing berusia 6 dan 3 tahun) ditemukan tewas di Pantai Sigandu. Sang ibu, VM (31), ditemukan bersembunyi di toilet portabel di sekitar lokasi kejadian. Ia diduga kuat menjadi pelaku pembunuhan tersebut.


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) secara resmi mengategorikan kasus-kasus ini sebagai filisida maternal, yang berarti pembunuhan anak oleh ibu kandungnya secara sadar. Kasus ini bukan sekadar kriminalitas biasa, tetapi ia adalah cermin  dari gagalnya sistem kehidupan saat ini.


Dalam psikologi forensik, filisida maternal terbagi dalam beberapa kategori di antaranya filisida karena psikotik, filisida karena kelelahan atau putus asa, filisida karena kemarahan terhadap pasangan, hingga filisida yang disertai upaya bunuh diri. Kasus yang terjadi di Bandung dan Batang tampaknya memiliki kesamaan motif: keputusasaan mendalam yang mendorong seorang ibu tidak hanya mengakhiri hidup anak-anaknya, tapi juga dirinya sendiri.


Ada hal yang perlu diketahui, bahwa seorang ibu yang membunuh anaknya bukan berarti tidak menyayangi mereka. Justru dalam banyak kasus, sang ibu percaya bahwa “membawa mati” anak-anaknya adalah satu-satunya cara untuk membebaskan mereka dari penderitaan hidup yang lebih besar. Ini adalah bentuk logika terbalik yang kerap muncul dalam kondisi depresi berat, psikosis, atau trauma mendalam.


Seorang ibu semestinya merupakan orang yang paling besar kasih sayangnya pada anak. Kalau ibu membunuh anak, pasti ada yang menyebabkan kejiwaannya terganggu. Bisa berupa beban berat akibat persoalan ekonomi keluarga, persoalan rumah tangga, dan sebagainya. 


Kasus filisida maternal, tidak bisa dilihat hanya dari aspek individu ibu yang dianggap hilang naluri keibuannya. Bukan pula hanya persoalan keluarga, ada banyak faktor kompleks yang melatarbelakangi peristiwa ini terjadi. Di antaranya 


1. Kemiskinan Struktural dan Beban ganda

Faktor ekonomi berperan besar dalam menjaga kewarasan orang tua, khususnya ibu. Banyak ibu di Indonesia, terutama kelas menengah ke bawah, hidup dalam tekanan ekonomi yang kronis. Biaya hidup yang tinggi, beban pengasuhan yang semuanya ditanggung sendiri, dan tidak adanya jaring pengaman sosial membuat mereka berada dalam situasi tanpa jalan keluar.


Lebih dari itu, masyarakat kita masih mengandalkan ibu sebagai pusat pengasuhan, tanpa menyiapkan dukungan struktural. Ayah seringkali absen secara emosional maupun praktis, negara juga tidak hadir secara nyata dalam mendampingi ibu dalam fase-fase kritis pengasuhan.


2. Masalah Kesehatan Mental Ibu

Tidak dimungkiri akibat dari beban himpitan ekonomi yang berat dapat berimplikasi pada terganggunya kesehatan mental seseorang tak terkecuali ibu. Untuk menjalankan tugas dan kewajiban seorang ibu yang tidak mudah dalam membesarkan dan mendidik anak-anak, tentu membutuhkan pada kesehatan fisik dan psikis. 

Oleh karena itu, gangguan seperti depresi berat karena tekanan hidup, sangat mungkin terjadi. kondisi ini salah satunya akibat lemahnya tingkat spiritual atau keimanan seseorang.


3. Ketidakpekaan Lingkungan

Kita sering bertanya, “Mengapa ibu itu bisa tega?” Tapi pertanyaan yang lebih jujur mungkin adalah: “Ke mana kita semua saat ia berjuang sendirian?” Banyak ibu muda atau ibu tinggal hidup dalam kesepian yang mendalam. Tak ada ruang aman untuk bercerita. Namun, ketika mencoba membuka diri, mereka justru dihakimi. Mereka takut dianggap gila, tidak layak jadi ibu, atau bahkan kehilangan hak asuh atas anak-anak mereka.


Semua faktor tersebut bermuara pada akar masalah yang satu yaitu akibat diterapkan sistem kehidupan kapitalis sekuler. Sistem hidup yang didasari oleh pemahaman yang memisahkan nilai nilai agama dari kehidupan telah mengikis kekuatan spiritual pada individu yang beriman. 


Selain itu sistem ini pun telah melahirkan sistem ekonomi kapitalis liberal yang membebaskan penguasaan pengelolaan kekayaan dan kepemilikan pada segelintir orang yang memiliki kekuatan materi. Adanya pengelolaan kekayaan yang tidak adil menjadikan masyarakat kebanyakan kesulitan untuk hanya bisa bertahan hidup. Kondisi ini memaksa banyak ibu yang akhirnya ikut bekerja mencari nafkah karena lapangan pekerjaan bagi para ayah juga semakin sulit. Sementara beban pajak yang menjadi sumber satu-satunya pendapatan negara, dibebankan pada semua rakyat, sehingga menambah berat beban hidup masyarakat.


Sistem kapitalis sekuler juga melahirkan sikap individualisme. Maka wajar jika dalam kehidupan bermasyarakat saat ini muncul ketidakpekaan terhadap persoalan yang ada di sekelilingnya. Masyarakat sibuk masing masing dalam mengurus urusannya. Karena negara menyerahkan semua pemenuhan kebutuhan pokok dipenuhi oleh masing masing masyarakat. Negara belum sepenuhnya hadir dalam memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok. Sehingga kasus kasus kriminal seperti filisida maternal menjadi hal yang mungkin banyak terjadi.


Kalau kapitalis banyak menimbulkan permasalahan khususnya untuk seorang ibu, Islam justru sebaliknya.

Islam menjamin seorang ibu bahagia menjalankan fungsi keibuannya. Ia tidak dituntut mencari nafkah, bahkan dijamin nafkahnya melalui jalur suami dan para wali. Selama hamil dan menyusui juga boleh tidak berpuasa sebagai perlindungan atas kesehatannya dan bayinya. Perempuan juga dimuliakan dalam kapasitasnya sebagai seorang ibu. 


Untuk mewujudkan hal tersebut, maka penguasa wajib  memastikan para ayah dan suami bisa bekerja mencari nafkah. Pendidikan dan kesehatan gratis, sehingga beban kehidupan ibu akan menjadi ringan. Naluri keibuannya bisa berkembang sempurna dan ia menjalankan fungsinya juga secara sempurna. 


Dalam kehidupan bermasyarakat, sistem Islam dapat membentuk masyarakat yang peka satu sama lain. Budaya tolong menolong dalam kebaikan sangatlah dianjurkan. Seseorang tidak akan merasa tenang tidurnya dikala ada tetangganya yang masih kelaparan. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran menjadi ciri yang khas dalam kehidupan masyarakat.


Semua hal tersebut dapat terwujud dengan adanya landasan keimanan dalam individu dan masyarakat, serta diterapkan aturan Islam oleh negara dalam seluruh aspek kehidupan, baik sistem ekonomi, pendidikan, sosial, sampai sistem politik. Dengan demikian, seorang ibu akan menjadi ibu yang sempurna,  dengan adanya sistem kehidupan yang mendukungnya. Dengan aturan Islam kasus filisida Maternal akan mungkin untuk dicegah.


Wallahu a'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update