Oleh. Dyah Pitaloka, S. Hum.
Fenomena job hugging belakangan ini ramai diperbincangkan dan menjadi sorotan berbagai media nasional maupun internasional. Istilah ini merujuk pada kecenderungan pekerja, terutama kaum muda, untuk tetap bertahan di pekerjaan yang dijalani meski sudah tidak nyaman, tidak sesuai minat, bahkan tidak lagi memotivasi. Mereka tetap bertahan bukan karena cinta pada pekerjaannya, tetapi karena kondisi pasar kerja yang penuh ketidakpastian.
Tren ini semakin meluas di tengah kondisi ekonomi global yang lesu. Di Indonesia, fenomena ini semakin terasa ketika banyak perusahaan melakukan efisiensi, bahkan melakukan PHK massal. Pasar kerja melemah, sementara kinerja perusahaan tidak optimal. (finance.detik.com, 20-09-2025)
Guru Besar Universitas Gadjah Mada menilai, ketidakpastian pasar kerja adalah faktor utama mengapa lulusan perguruan tinggi terjebak dalam job hugging. Mereka tidak ingin kehilangan stabilitas finansial, sehingga memilih bertahan meski harus bekerja dengan hati merana. Dalam pandangan banyak anak muda, lebih baik “asal kerja” daripada menjadi pengangguran intelektual.
Akar Masalah: Kapitalisme Global yang Gagal
Fenomena job hugging tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi global berbasis kapitalisme. Sistem ini telah menciptakan struktur pasar kerja yang rapuh, kompetitif, dan penuh ketidakpastian. Ada beberapa akar masalah yang bisa diidentifikasi:
Kapitalisme gagal menjamin pekerjaan. Dalam sistem kapitalisme, negara melepaskan tanggung jawab langsung terhadap rakyat. Penyediaan lapangan kerja sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Jika pasar lesu, maka rakyat yang menanggung akibatnya.
Swasta mengambil alih peran negara. Perusahaan swasta menjadi motor utama penciptaan lapangan kerja, tetapi orientasinya adalah profit. Saat keuntungan menurun, PHK massal jadi solusi cepat.
Sumber daya alam dikuasai kapitalis. Negara memberi karpet merah kepada segelintir korporasi besar untuk menguasai sumber daya alam. Alih-alih membuka lapangan kerja luas, keuntungan justru terpusat pada pemilik modal.
Ekonomi non-riil dan ribawi. Kapitalisme lebih mendorong sektor keuangan berbasis bunga, spekulasi, dan investasi abstrak. Sektor riil yang seharusnya menyerap tenaga kerja banyak justru terpinggirkan.
Liberalisasi pendidikan dan perdagangan. Kurikulum pendidikan tinggi diarahkan agar “adaptif dengan dunia kerja,” padahal dunia kerja sendiri tidak mampu menyerap semua lulusan. Negara lepas tangan, membiarkan rakyat bersaing keras tanpa jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar.
Tidak mengherankan jika anak muda kehilangan keberanian untuk keluar dari zona nyaman pekerjaan lama. Mereka takut menganggur, takut tidak mampu menanggung biaya hidup, apalagi dengan harga kebutuhan pokok yang terus naik.
Islam: Negara Penanggung Jawab Utama
Berbeda dengan kapitalisme, Islam memandang negara sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas urusan rakyat. Dalam muqaddimah dustur pasal 153 ditegaskan, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok setiap individu rakyat, baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, maupun keamanan.
Dalam kerangka Islam, negara menjalankan sejumlah kebijakan strategis untuk menjamin rakyatnya dapat bekerja dan hidup layak, di antaranya:
Pengelolaan sumber daya alam. SDA adalah milik umum. Negara mengelolanya untuk kepentingan rakyat, bukan swasta, sehingga membuka lapangan kerja luas.
Industrialisasi dan ihyaul mawat. Negara membangun industri, menghidupkan tanah mati, dan memberikannya kepada rakyat yang mampu mengelola.
Fasilitasi modal dan keterampilan. Negara membantu rakyat yang lemah dengan modal, sarana, dan pelatihan agar mereka mampu mandiri.
Orientasi ibadah. Dalam Islam, pendidikan dan pekerjaan dibingkai dengan ruh keimanan. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi bagian dari ibadah yang terikat dengan halal dan haram.
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).
Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik daripada hasil dari kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari).
Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa bekerja adalah ibadah, namun tetap harus sesuai aturan Allah, bebas dari praktik zalim dan riba.
Jalan Keluar: Sistem Ekonomi Islam
Fenomena job hugging hanyalah satu dari sekian banyak dampak rapuhnya sistem kapitalisme. Jika akar masalah tidak disentuh, maka generasi muda akan terus terjebak dalam pekerjaan yang tidak membuat mereka berkembang.
Islam menawarkan solusi yang hakiki: sistem ekonomi yang adil, negara yang benar-benar melayani rakyat, dan orientasi hidup yang mengaitkan dunia dengan akhirat. Dalam sistem Islam, rakyat tidak dipaksa bertahan pada pekerjaan yang menyiksa batin, karena negara hadir sebagai penjamin, bukan sekadar regulator.
Dengan demikian, masa depan pemuda tidak lagi dipenuhi ketakutan kehilangan pekerjaan, melainkan diwarnai optimisme untuk bekerja, berkarya, dan beribadah dengan penuh makna. Wallahu ‘alam bissawab. [DK]
No comments:
Post a Comment