Oleh Nani Sumarni
Aktivis Muslimah
Sebuah tragedi keluarga kembali terjadi di Indonesia. Seorang ibu di Banjaran, Bandung, memilih mengakhiri hidupnya bersama kedua buah hatinya. Kejadian ini meninggalkan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar bagi kita semua.
Sebagaimana dikutip dari metronews.com pada 9 September 2025, kasus tragis di Banjaran, Kabupaten Bandung, di mana seorang ibu berinisial EN (34) bunuh diri setelah diduga meracuni kedua anaknya. Mengungkap fenomena maternal filicide-suicide dimana ketika seorang ibu mengakhiri hidup anaknya, kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam surat wasiatnya, EN menuliskan keluh kesah terkait tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga.
Psikolog forensik Kasandra Putranto menegaskan, bahwa peristiwa semacam ini tidak bisa sekadar dilihat sebagai kejahatan, melainkan gejala multidimensional yang dipengaruhi faktor psikologis, sosial-ekonomi, serta lemahnya dukungan kesehatan mental. Ia menyebut pentingnya autopsi psikologis untuk memahami penyebab, sekaligus menekankan bahwa kasus ini adalah tanda gagalnya sistem dalam menangani isu mental.
Beberapa faktor utama pemicu antara lain:
1) Psikologis – depresi, stres, atau gangguan mental yang tidak terdiagnosis, sehingga memunculkan distorsi cara berpikir.
2) Sosial-ekonomi – utang, beban ekonomi, rasa malu, dan perasaan gagal sebagai istri maupun ibu. Menurut teori bunuh diri Joiner, kondisi ini membuat pelaku merasa menjadi beban dan terisolasi.
3) Minimnya layanan kesehatan mental – jumlah psikolog klinis sangat terbatas, sementara stigma masyarakat membuat banyak ibu enggan mencari pertolongan.
Fenomena ini menjadi alarm serius bagi negara dan masyarakat untuk memperluas layanan psikologi, memperkuat intervensi pencegahan, serta membangun dukungan sosial yang lebih kokoh bagi keluarga rentan.
Tragedi dari Sistem yang Gagal.
Berita ini bukan sekadar menambah daftar panjang kriminalitas di tanah air. Ia adalah tragedi yang mengguncang nurani. Sebab, bagaimana mungkin seorang ibu yang fitrahnya adalah pelindung dan penyayang, justru tega mengakhiri hidup anak-anaknya? Jawabannya tidak sederhana. Peristiwa ini adalah puncak dari akumulasi tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi yang saling berkelindan, ditambah lemahnya dukungan negara dan masyarakat.
Ini adalah cermin dari sistem kehidupan yang sakit. Selalu saja, ketika tragedi terjadi, negara hanya hadir sebatas aparat hukum dan pemberitaan media. Namun, akar persoalannya nyaris tak pernah disentuh. Inilah kegagalan sistem kapitalis-sekuler dalam mengatur kehidupan rakyatnya.
Terbukti dengan Sistem kapitalis melahirkan sistem ekonomi yang Menjerat. Utang, harga kebutuhan pokok yang melambung, hingga lapangan kerja yang tidak memadai adalah konsekuensi dari ekonomi kapitalis. Negara menyerahkan sumber daya alam pada korporasi, sementara rakyat dicekik pajak. Tak heran, banyak keluarga terjerumus dalam tekanan hidup yang tak tertanggungkan.
Belum lagi negara abai terhadap Kesehatan Mental. Data resmi menunjukkan hanya ada ±450 psikolog klinis untuk 270 juta penduduk. Itu bukan sekadar kekurangan teknis, melainkan bukti bahwa kesehatan mental tidak pernah jadi prioritas politik. Selama ini negara lebih sibuk menyehatkan anggaran oligarki, bukan menyehatkan rakyat.
Sekularisme yang mematikan kepedulian. Dengan sekularisme, agama dicabut dari kehidupan publik. Akibatnya, masyarakat menjadi individualis, apatis, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Budaya saling menolong pudar, hingga ibu-ibu yang depresi dibiarkan berjuang sendirian.
Ini bukti lemahnya peran negara sebagai pelindung. Dalam logika kapitalis, negara bukan pengurus rakyat, melainkan sekadar regulator bisnis. Rakyat dipandang beban APBN, bukan amanah yang harus dijaga. Maka, ketika tragedi terjadi, negara sekadar hadir lewat konferensi pers dan janji evaluasi.
Islam sebagai Solusi Nyata.
Berbeda dengan kapitalisme, Islam memandang keluarga sebagai fondasi peradaban. Negara, masyarakat, dan individu memiliki tanggung jawab kolektif untuk melindungi ibu dan anak.
Oleh karena itu, negara wajib menjamin Kebutuhan Pokok. Dalam Islam, kepemilikan umum seperti tambang, listrik, BBM, dan air harus dikelola negara untuk kepentingan rakyat. Dengan begitu, harga kebutuhan pokok stabil dan terjangkau. Rakyat tidak perlu terjerat utang hanya untuk bertahan hidup.
Negara dalam Islam sebagai Ra’in (Pengurus Rakyat) bukan sekadar pejabat. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Artinya, negara wajib menyediakan layanan kesehatan (termasuk mental) gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat.
Kemudian, Revitalisasi peran masyarakat. Dimana Islam menumbuhkan masyarakat yang peduli melalui amar ma’ruf nahi munkar. Tidak ada ruang bagi individualisme apatis, karena setiap muslim wajib saling menjaga, termasuk mencegah saudara dari keputusasaan.
Semua solusi ini hanya bisa berjalan, bila syariah Islam diterapkan secara menyeluruh melalui institusi politik yang sah yaitu khilafah. Inilah sistem yang pernah membuktikan diri selama berabad-abad mampu melahirkan masyarakat sejahtera, bebas dari depresi massal akibat tekanan hidup yang diciptakan kapitalisme.
Penutup.
Tragedi filisida maternal bukanlah sekadar kisah kelam seorang ibu yang putus asa, melainkan cermin dari bobroknya peradaban kapitalisme yang gagal menyejahterakan manusia. Sistem ini menjerat keluarga dengan utang, menekan perempuan dengan beban ekonomi, sekaligus menutup akses kesehatan mental yang layak.
Dalam Islam, ibu dan anak dipandang sebagai amanah yang mulia, dilindungi oleh syariat yang menjamin kesejahteraan keluarga dan menjauhkan umat dari kesempitan hidup. Islam menolak menjadikan rakyat sebagai korban eksploitasi utang dan pajak, sebaliknya menata politik dan ekonomi untuk memastikan kebutuhan dasar manusia terpenuhi.
Maka, tragedi ini harus menjadi peringatan keras bagi umat Islam. Selama kita bertahan dalam sistem sekuler yang hanya melahirkan penderitaan, kasus demi kasus akan terus berulang. Solusi sejati hanyalah kembali kepada politik Islam yang menegakkan syariah secara menyeluruh di bawah naungan khilafah. Hanya dengan itulah martabat ibu terjaga, anak terlindungi, dan kehidupan manusia terbebas dari dosa peradaban ini.
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment