Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah
Gambaran suram terhampar dari Jalur Gaza. Menejer Komunikasi Dana Anak-anak PBB (UNICEF) Tess Ingram memberikan kesaksian pedih yang menggambarkan Gaza City yang sebelumnya menjadi tempat perlindungan terakhir bagi warga di Gaza Utara yang berubah menjadi tempat mencekam. Ingram mengatakan bahwa Gaza City menjadi kota yang diliputi ketakutan, pengungsian, dan pemakaman. Selama sembilan hari berada di Gaza, Ingram melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keluarga melarikan diri dari mereka hanya dengan pakaian di badan (www.inilah.com).
Petinggi UNICEF Tess Ingram menyatakan Gaza bukan lagi kota melainkan pemakaman anak-anak. Penjajahan zionis sejak invasi Yahudi ke Palestina di tahun 1948. Sejatinya dunia tidak buta, dunia mengetahui bahwa zionis adalah pendatang di Palestina. Zionis merampas, membunuh, bahkan melakukan genosida terhadap warga Palestina untuk menguasai tanah Palestina.
Dunia sebenarnya mengetahui penjajahan zionis telah menyebabkan anak-anak kehilangan hak-hak mereka termasuk hak hidup. Dunia saat ini memilih untuk diam, seandainya berempati, hanya bualan kosong tanpa arti. Lembaga internasional termasuk UNICEF, keberadaan mereka tidak lain hanyalah penjaga atas penjajahan itu yang dilakukan hanya memberi kecamanan saja tidak ada tindakan lainnya.
Lembaga internasional hari ini perpanjangan tangan adidaya kapitalisme yaitu Amerika Serikat. Kejahatan dunia yang membiarkan penjajahan zionis yang membantai warga Palestina, membuat anak-anak meninggal kelaparan. Ditambah menyakitkan lagi, penguasa negeri-negeri Muslim tetap menutup rapat pintu perbatasan terutama pintu Rafah dan enggan mengerahkan bala tentaranya.
Sekalipun masa banyak yang beraksi, hingga di pintu perbatasan Rafah, penguasa negeri muslim tidak bergeming sedikitpun karena lebih takut kehilangan kekuasaan dibanding menyelamatkan anak-anak Gaza. Fakta ini menegaskan bahwa masalah Palestina bukan sekedar isu kemanusiaan. Tetapi persoalan politik yang membutuhkan solusi hakiki.
Islam memiliki solusi syar'i untuk merampas penjajahan, yakni dengan Jihad. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَقَا تِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَا تِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 190)
Penerapan syariat jihad fisabilillah akan mampu menjaga kehormatan dan keselamatan kaum muslimin termasuk anak-anak. Memang benar jihad telah dilakukan para mujahidin di Palestina. Namun, kekuatan mereka dengan militer zionis tidak sepadan. Zionis di-support oleh negara kapitalisme AS, dijaga oleh lembaga Internasional, dibiarkan oleh penguasa negeri Arab dan Muslim. Sementara tentara Mujahidin Palestina berjuang sendirian.
Negara yang mampu menyatukan kekuatan militer kaum muslim di seluruh dunia hanyalah Daulah Khilafah. Selama 1300 tahun Daulah Khilafah memimpin dunia, kaum muslimin memiliki perisai yang melindungi. Rasulullah saw. bersabda "Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang dibelakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya." (HR. Muslim)
Dengan syariat Islam, Muslim dapat mengenal sosok Shalahuddin Al Ayyubi pembebas Palestina dari tentara Salib. beliau tidak berkompromi apalagi membuat kesepakatan dengan tentara salib. Shalahuddin Al Ayyubi menghadapi tentara Salib diperang Hittin hingga Allah memenangkan Palestina. Ada lagi sosok Sultan Hamid II memberikan ultimatum untuk Theodor Herzl yang kala itu memberi sejengkal tanah Palestina. Kehadiran khalifah seperti ini menjaga Palestina dari musuh Allah SWT.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment