Guru Tahsin
Kisah pilu balita bernama Raya dari Kampung Pasir Ceuri, Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menggugah nurani banyak pihak. Gadis kecil berusia 4 tahun tersebut meninggal dunia setelah tubuhnya mengalami pembengkakan parah dan dari luka yang dideritanya ditemukan banyak cacing.
Kejadian ini bukan hanya sekadar tragedi medis, melainkan cermin rapuhnya jaring pengaman sosial dan kesehatan di negeri ini. Kasus Raya menjadi alarm keras , "Di manakah peran negara dalam memastikan kesejahteraan warganya, terutama bagi mereka yang paling rentan?"
*Fakta Raya, Balita yang Meninggal Akibat Tubuhnya Dipenuhi Cacing*
Raya adalah anak dari pasangan Asep Mulyana dan Ayu, yang tinggal di Kampung Pasir Ceuri, Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dari laman www.cnnindonesia.com, Gubernur Dedi Mulyadi mengungkapkan Raya sering dirawat neneknya karena ayahnya sakit TBC dan ibunya mengalami gangguan kejiwaan atau ODGJ.
"Keterangan dari dokter yang menanganinya bahwa Raya mengalami cacingan. Dia sering dirawat oleh neneknya ," kata Dedi dalam unggahan akun Instagram pribadinya, Rabu (20/8). Menurut Dedi, sejak kecil Raya terbiasa bermain di kolong rumah, yang dimungkinkan menjadi sumber infeksi cacing.
Kehidupannya juga dipenuhi kesulitan sejak awal. Menurut laporan, Raya lahir prematur dan memiliki riwayat berat badan lahir rendah, yakni hanya 1,8 kg. Kondisi ini membuat pertumbuhannya terhambat. Ia juga diketahui menderita gizi buruk dan kekurangan berat badan ekstrem. Kondisi ini diduga diperparah oleh sanitasi yang buruk di lingkungan tempat tinggalnya, yang konon tidak layak huni.
Kronologi tragis ini dimulai ketika Raya mengalami pembengkakan di bagian tubuhnya. Orang tuanya, yang hidup dalam kemiskinan, hanya bisa merawat seadanya di rumah. Raya seringkali menggaruk-garuk tubuhnya hingga menimbulkan luka. Luka-luka inilah yang kemudian menjadi sarang bagi cacing-cacing tersebut.
Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekarwangi. Namun, nyawanya tak tertolong. Ia meninggal setelah mendapatkan perawatan intensif, meninggalkan duka mendalam dan pertanyaan besar tentang bagaimana hal ini bisa terjadi di era modern saat ini.
*Fakta Riwayat Penanganan oleh Perangkat Desa Setempat*
Kasus Raya menunjukkan bahwa respon dari perangkat desa dan institusi terkait tampaknya tidak berjalan efektif. Menurut beberapa laporan, pihak desa sebenarnya telah mengetahui kondisi Raya dan keluarganya. Mereka juga telah beberapa kali memberikan bantuan berupa sembako. Namun, bantuan tersebut dinilai tidak cukup untuk mengatasi akar masalah, yaitu gizi buruk kronis dan kemiskinan struktural. Proses penanganan terkesan reaktif, bukan proaktif.
Bantuan medis baru diberikan secara serius ketika kondisi Raya sudah kritis. Itu pun dilakukan oleh tim relawan rumah teduh yang meng-cover semua biaya rumah sakit dikarenakan susahnya akses untuk mendapatkan jaminan kesehatan gratis untuk Raya. Seharusnya, dengan riwayat gizi buruk yang sudah diketahui, ada intervensi gizi dan pendampingan kesehatan yang rutin dan berkelanjutan.
Kurangnya pendampingan ini menunjukkan adanya lubang besar dalam sistem kesehatan dan sosial di tingkat akar rumput. Di sinilah letak kegagalan sistem, di mana koordinasi antara desa, puskesmas, dan dinas sosial tidak berjalan optimal.
*Kasus Raya, Peringatan Keras Akan Sistem Sosial dan Kesehatan yang Masih Timpang*
Tragedi yang menimpa Raya adalah tamparan keras bagi kita semua. Kasus ini bukanlah insiden tunggal, melainkan refleksi dari ketimpangan yang masih mengakar kuat di masyarakat. Terlepas dari berbagai program bantuan sosial dan jaminan kesehatan, masih ada jutaan orang yang luput dari perhatian. Sistem kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat, tampaknya hanya responsif terhadap penyakit, bukan preventif terhadap faktor-faktor risiko seperti kemiskinan dan gizi buruk.
Kasus Raya memperlihatkan kegagalan sistem Kapitalis-Sekuler hari ini dalam menjalankan fungsinya. Dalam sistem ini, tanggung jawab individu seringkali ditekankan, sementara tanggung jawab kolektif dan peran negara seringkali terlupakan atau dijalankan secara minimal. Bantuan yang diberikan hanya sebatas "belas kasihan" sesaat, bukan jaminan sosial yang menjadi hak setiap warga negara.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa jaring pengaman sosial kita masih rapuh. Perlu adanya perbaikan menyeluruh, mulai dari pendataan yang akurat, intervensi yang tepat sasaran, hingga koordinasi yang kuat antar lembaga. Kita tidak bisa lagi membiarkan ada satu pun anak yang terlupakan dan menjadi korban dari ketidakadilan sosial.
Kasus Raya adalah pengingat bahwa pekerjaan rumah kita sebagai bangsa masih sangat besar dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih menjadi cita-cita yang harus terus diperjuangkan.
*Khilafah: Jaring Pengaman Sosial dan Kesehatan terbaik*
Segala upaya yang bisa mewujudkan kondisi sehat yaitu sehat fisik, mental, dan kesehatan umum (lingkungan, tempat tinggal, sanitasi, dll.) telah diamanahkan oleh Islam kepada negara melalui kerja aparat dari level pusat (khalifah) hingga daerah (hakim dan wali) serta unit pelaksana teknis kesehatan di lapang.
Setiap aktivitas pelayanan kesehatan tidak dipandang sekadar untuk memenuhi kebutuhan, tetapi bernilai ibadah sehingga semua petugas bertindak amanah dan bertanggung jawab.
Khilafah menyediakan semua sarana untuk pengobatan dan rehabilitasi, serta mengeluarkan dana untuk mengurusi pasien dan kebutuhan masyarakat agar penyakit tidak menyebar. Semua pasien diperlakukan sama, baik kaya ataupun miskin, punya dokumen atau tidak. Mereka berhak langsung ditangani tanpa syarat administrasi.
Upaya preventif dan kuratif berjalan bersama, bukan hanya mengobati, tetapi juga menjaga agar rakyat tidak jatuh sakit akibat buruknya sanitasi, gizi, dan lingkungan. Struktur pelayanan pun terorganisir dari pusat hingga desa sehingga kasus yang terjadi tidak pernah luput dari pantauan.
Penanganan kasus semisal Raya dalam Khilafah, akan ada deteksi dini terhadap sanitasi rumah dan lingkungan. Jika ada keluarga tidak mampu, negara akan menyediakan rumah dengan sanitasi layak, air bersih, dan menghilangkan faktor penyebaran cacing, bakteri, virus, dll. Untuk penanganan penyakitnya akan diberikan obat rutin gratis dengan pengawasan langsung institusi kesehatan daerah dan berkelanjutan.
Semua layanan kesehatan pasien, akan ditanggung oleh kas negara (baitulmal). Tidak akan ditolak atau tertunda penanganannya hanya karena keluarga miskin. Begitu ada kasus luar biasa (cacing keluar dari tubuh), dokter segera melakukan investigasi epidemiologis, adakah kasus serupa di desa itu. Ahli kesehatan masyarakat akan dikirim untuk memeriksa lingkungan sekitar, seperti sekolah, rumah, dan tetangga agar wabah tidak meluas.
Begitu pula, karena orang tua Raya sakit, maka Khilafah akan menjamin nafkah,serta tempat dan pendidikan anak-anak lainnya. Selain itu, jika ada anak sampai meninggal karena kelalaian ri‘ayah (pengurusan), maka pejabat lokal (wali, amil kesehatan) akan dimintai pertanggungjawaban langsung oleh Khalifah. Dalam sejarah, Khalifah Umar bin Khaththab ra. bahkan menanggung langsung rakyat yang lapar. Jadi, kasus seperti Raya akan dianggap aib besar negara jika sampai terjadi.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment