Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jihad dan Khilafah Akhiri Bencana Kelaparan Gaza

Saturday, August 16, 2025 | Saturday, August 16, 2025 WIB

Oleh: Umi Nur Fitriana, M.Pd. 

(Aktivis Muslimah)

‎Kekejaman entitas Yahudi terus berlangsung tanpa henti di Gaza. Mereka membantai warga Gaza. Mereka dengan pongah merusak dan membumihanguskan Gaza dengan bom dan kekuatan militer. Mereka juga menciptakan bencana kelaparan bagi warga Gaza. Mereka telah lama memblokade seluruh bantuan logistik berupa bahan makanan, obat-obatan dan kebutuhan hidup lainnya yang akan masuk wilayah Gaza. 

‎Akibat dari blokade bantuan logistik oleh zionis Yahudi menyebabkan kasus malnutrisi bahkan kematian yang dialami warga Gaza. Banyak beredar foto dan video di medsos yang memperlihatkan kondisi warga Gaza mulai dari anak-anak hingga dewasa mengalami malnutrisi dan kurus kering karena ketiadaan pasokan pangan. Lebih dari 40 persen ibu hamil dan menyusui mengalami malnutrisi berat. Angka Kematian akibat kelaparan juga menyebar luas. Ada lebih dari 144 warga Gaza yang meninggal dunia akibat kelaparan , sekitar 88 adalah anak-anak. Sungguh miris. 

‎Bencana kelaparan digunakan oleh zionis Yahudi untuk terus melakukan genosida terhadap penduduk Gaza, selain pengeboman dan penembakan. Pada laman situs Times of Israel di awal Juli lalu, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben Gvir mengatakan, "Kita tidak seharusnya bernegosiasi dengan mereka yang membunuh tentara kita. Mereka harus dihancurkan dan tidak diberikan bantuan kemanusiaan yang justru memberikan Mereke oksigen untuk bertahan hidup." 

‎Kesaksian dari banyak pihak, kelaparan parah benar-benar terjadi di Gaza. Badan Bantuan Pangan PBB (World Food Programme/WFP) menyebutkan bahwa Gaza sudah masuk fase catrastophic hunger atau bencana kelaparan. Ini diukur menurut Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu atau Integrated Food Security Phase Classification (IPC). Dari skala 1-5, Gaza sudah masuk fase tingkat 5, yaitu bencana kelaparan. 

‎Menurut laporan Badan Bantuan Pangan PBB hampir sepertiga warga Gaza 'tidak makan selama berhari-hari'. WFP menyampaikan bahwa kebutuhan pangan di Gaza telah mencapai level kritis dan mengkhawatirkan. Ada sekitar 90ribu wanita dan anak-anak membutuhkan bantuan akibat malnutrisi. 

‎Menurut data WFP hingga saat ini dari 5,5 juta populasi di seluruh wilayah Palestina, 100% rakyat Gaza menghadapi kerawanan pangan yang akut. Dan 70.000 anak-anak di Gaza membutuhkan perawatan mendesak karena kekurangan gizi akut. 

‎Zionis Yahudi bukan hanya memblokade bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Bahkan mereka juga menghancurkan bantuan-bantuan tersebut. Ribuan truk pengangkut bahan pangan dihancurkan. Kerumunan warga yang mengantri pembagian makanan juga dijadikan sasaran serangan militer Yahudi. Mereka tidak peduli baik korbannya orang dewasa, wanita, anak-anak, maupun lansia. Sejak bulan Mei 2025, ada lebih dari 1060 orang tewas dan 7200 orang terluka saat berusaha mengakses makanan. 

‎Tidak hanya menciptakan bencana kelaparan , warga Gaza juga diracuni narkoba yang dicampur dalam tepung oleh pemerintah Yahudi. Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF) yang mendistribusikan bantuan pangan mengandung narkoba tersebut. Lembaga ini merupakan pusat distribusi bantuan kemanusiaan bekingan Israel dan Amerika Selatan. Sungguh sangat keji serta di luar nalar kemanusiaan. 

‎Tidak kalah kejinya, para penguasa rezim Arab terutama rezim Mesir yang juga ikut terlibat membuat bencana kelaparan di Gaza. Sampai hari ini presiden Mesir tidak membuka gerbang perbatasan Rafah. Padahal gerbang Rafah adalah satu-satunya pintu yang memungkinkan agar bantuan kemanusiaan bisa masuk dan disalurkan ke Gaza. Itu disebabkan penyeberangan kerem shalom di perbatasan Mesir dalam kendali militer zionis. 


‎Rezim Mesir beralasan kalau membuka gerbang Rafah akan makin memperluas konflik, ketidakstabilan dan banjir pengungsi dari Gaza ke Mesir. Padahal di tahun 2023 rezim Mesir dan entitas Yahudi sepakat membuka perlintasan Rafah untuk memberikan peluang pada warga AS yang masih di Gaza bisa keluar dari wilayah konflik. Namun rezim Mesir tidak mengizinkan warga Gaza melewati perlintasan Rafah. Bantuan kemanusiaan untuk Gaza pun tidak diizinkan masuk melewati perlintasan ini. 


‎Bentuk lain pengkhianatan rezim Mesir adalah dengan menekan imam Al-Azhar, Ahmad Al-Tayeb, agar Sang Imam mencabut pernyataannya yang mengecam kekejaman zionis Yahudi. Karena pernyataan tersebut membuat entitas Yahudi marah. Karena itu Mesir sebagai sekutu zionis mengancam agar pernyataan tersebut dicabut. Hal ini agar tidak mengganggu hubungan baik antara Mesir dan Zionis, termasuk juga agar negosiasi antara dua negara tersebut aman. 


‎Sesungguhnya sikap para rezim Arab, terutama rezim Mesir, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka lebih memilih membela dan menyayangi kaum kafir pembunuh dan penjajah umat dibandingkan membela dan menyayangi sesama Muslim. 


‎Allah telah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."(QS. Ali Imran ayat 118)


‎Nabi Muhammad juga bersabda, " Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui" (HR. Abu Ya'la)


‎Larangan ini tidak hanya untuk menunjukkan rasa peduli dan empati terhadap sesama, tetapi juga merupakan konsekuensi iman seorang Mukmin. Hadits tersebut dengan tegas menyatakan bahwa orang yang membiarkan tetangganya kelaparan tidak beriman kepada Rasulullah. 


‎Nabi juga mengingatkan bahwa tidaklah seorang muslim membiarkan penganiayaan terhadap sesama muslim melainkan Allah akan membiarkan mereka terzalimi juga. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang membiarkan (tidak menolong) saudaranya sesama muslim dalam kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan harga dirinya direndahkan, kecuali Allah akan membiarkan (tidak menolong) dia saat dia ingin ditolong. Tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar, kecuali Allah akan menolong dia saat dia ingin ditolong.” (HR Ahmad)

‎Penderitaan yang dialami kaum muslim, khususnya di Palestina, haruslah menjadi bagian dari derita kita. Ingatlah bahwa kaum muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh, satu sama lain bisa merasakan derita bersama. Nabi Muhammad bersabda, “Kaum mukmin itu, dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan demam (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim)

‎Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang di hadapannya ada seorang mukmin yang dihinakan, tetapi dia tidak menolong muslim tersebut, padahal dia mampu menolongnya, maka Allah akan menghinakan dia di hadapan seluruh makhluk-Nya pada hari kiamat.” (HR Ahmad)

‎Allah telah memerintahkan umat muslim untuk selalu memberikan bantuan ketika saudaranya membutuhkan pertolongan. Allah berfirman, “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan.” (QS al-Anfal [8]: 72)

‎Menolong sesama muslim yang dianiaya adalah fardu kifayah. Haram berdiam diri ketika melihat saudara seiman terzalimi. Kewajiban ini baru tuntas saat mereka yang terzalimi mendapat perlindungan sempurna.

‎Genosida yang terus menerus terjadi di Gaza adalah bukti nyata bahwa dunia diam dan PBB tidak berguna. Negara-negara Barat seperti Uni-Eropa dan Amerika Serikat bahkan bersekongkol ikut mendukung genosida. Mirisnya lagi, para penguasa dunia Islam yang punya kekuatan untuk membebaskan Gaza justru bersekutu dengan para penjajah. 

‎Pada hari kiamat kelak, para penguasa Muslim tidak akan bisa berlepas diri di hadapan Allah atas pengkhianatan mereka terhadap warga Gaza yang kelaparan dan terzalimi. Mereka tidak akan punya hujjah di hadapan Allah atas enggannya mereka mengirimkan bantuan dan tentara untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman entitas Yahudi. Dan siksa Allah sungguh amat pedih


Derita kaum muslimin Gaza tidak akan terjadi ketika Khilafah Islam hadir sebagai perisai kuat yang menjaga dan membela kehormatan umat. Nabi telah mengingatkan kita betapa pentingnya keberadaan Imam sebagai perisai bagi umat. Rasulullah bersabda, “Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ahmad)

‎Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim berkomentar, “(Imam/Khalifah itu perisai), yakni seperti as-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslim, mencegah manusia satu sama lain saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, manusia berlindung di belakang dia dan tunduk di bawah kekuasaannya.” (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, 4/134, Maktabah Syamilah).

‎Sejarah mencatat seorang muslimah dibela kehormatannya terjadi pada bulan April tahun 833 M. Seorang gubernur Romawi di Kota Ammuriah (bagian dari wilayah Turki) pernah menodai kehormatan seorang muslimah.

‎Saat mendengar kejadian tersebut, Khalifah Mu’tashim Billah, yang saat itu berada di Baghdad, segera mengirimkan pasukan untuk memerangi Kota Ammuriah. Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus ditujukan oleh Khalifah untuk membebaskan Ammuriah dari jajahan Romawi. Seperti itulah dengan adanya Khilafah sebagai perisai, kehormatan kaum muslim selalu terjaga. 

‎Selain ketiadaan Khilafah Islam, saat ini kaum muslim juga terpisah oleh batas-batas teritori negara mereka masing-masing. Hati dan pikiran mereka juga terbelenggu oleh paham kebangsaan. Paham ini menjadikan umat dan para pemimpin mereka tidak punya kepedulian dan enggan untuk menolong saudara-saudara mereka yang tertindas. Mereka juga lebih takut dengan aturan internasional soal larangan intervensi terhadap negara lain. Padahal saudara mereka seiman terzalimi di sana. Contohnya rezim Mesir yang sampai kini enggan membuka gerbang perbatasan Rafah agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Gaza. 

‎Beda dengan negara-negara imperialis seperti AS, Inggris, atau Prancis. Mereka bisa dengan mudah mengintervensi bahkan melakukan invasi militer ke negeri-negeri kaum muslim seperti ke Irak, Afganistan, Suriah dan Palestina. 

‎PBB atau badan dunia mana pun tidak mampu mencegah mereka. Para penguasa Dunia Islam juga tak memprotes atau menahan mereka. Pasukan imperialis Barat leluasa menjarah, menangkapi, menyiksa bahkan melakukan pembantaian dan genosida terhadap penduduknya sesuka mereka.

‎Wahai kaum muslim, sadarlah! Tak ada yang bisa menolong saudara-saudara kita, khususnya kaum muslim Gaza, kecuali kita kembali ke pangkuan Islam, kembali melanjutkan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah. Bersama Khilafah Islam kita bisa membebaskan saudara seiman di mana pun di seluruh dunia yang sedang terzalimi. Inilah yang dulu pernah dilakukan oleh kaum muslim saat mereka berada di bawah naungan Khilafah. 

‎Wallahua'lam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update