Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bendera Bajak Laut Berkibar Jelang HUT RI, Ada Apa?

Sunday, August 03, 2025 | Sunday, August 03, 2025 WIB Last Updated 2025-08-03T09:24:00Z
Bendera Bajak Laut Berkibar Jelang HUT RI, Ada Apa?
Oleh Nur Fitriyah Asri
Penulis Opini Ideologis


Menjelang bulan Agustus beredar video di media sosial yang menunjukkan adanya pengibaran bendera bajak laut. Berkibar di mobil-mobil, motor, di tepi jalan, bahkan di rumah-rumah warga. Tentu ini menyita perhatian warganet dan mejadi viral.


Awalnya, bernama bendera One Piece, yakni sebuah simbol yang digunakan sebagai identitas bajak laut fiksi yang dipimpin oleh tokoh utama One Piece. Bendera berwarna hitam dengan gambar tengkorak manusia di atas tulang yang bersilang. Selanjutnya para bajak laut menggunakan logo One Piece sebagai bendera kapal dan atribut. Karena itu, lebih dikenal dengan sebutan bendera bajak laut. Sebuah simbol yang melambangkan keberanian bentuk perlawanan terhadap  penindasan dan ketidakadilan.


Namun, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menganggap pemasangan bendera bajak laut itu sebagai upaya memecah belah bangsa. Kami lembaga-lembaga pengamanan mendeteksi ada upaya memecah belah persatuan dan kesatuan secara sistematis. (Kata Sufmi di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 31/7/2025).


Sementara itu, menurut Peneliti Kebijakan Publik, Riko Noviantoro pengibaran bendera One Piece (bajak laut) sebagai bentuk ekspresi masyarakat. Baik sebagai penggemar budaya pop atau bentuk kritik terhadap kondisi sosial dan pemerintahan. Namun, Rico mengingatkan masyarakat tetap memahami batasan hukum. Jika ditemukan pelanggaran seperti pelecehan pada bendera Merah Putih maka akan kena delik hukum. Sebagaimana UU No 24 Tahun 2009 yang mengatur teknis pengibaran bendera negara, bagaimana posisi dan perlakuan terhadap Merah Putih.


Apabila dikibarkan berdampingan dengan bendera lain, maka Merah Putih harus di posisi lebih tinggi dan berukuran lebih besar. Jika terjadi pelanggaran pelakunya dapat dijerat Pasal 66, dengan ancaman penjara hingga lima tahun atau denda Rp500 juta bagi yang menghina bendera negara. (Kompas..co, 31/7/2025)


Di balik Bendera Bajak Laut Ada Jeritan


Fenomena pengibaran logo bajak laut bukan sekadar aksi iseng. Melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Sebagaimana pernyataan Rian (32 tahun), warga Depok, Jawa Barat, mengaku akan mengibarkan bendera bajak laut karena merasa tidak ada kemerdekaan yang dirasakan masyarakat Indonesia. 


Ironis sekali, Indonesia pada 17 Agustus 2025 genap berusia 80 tahun merdeka, justru menampakkan kegagalannya di semua bidang hingga karut marut.


Hal tersebut dapat ditengarai dengan adanya APBN devisit. Utangnya menggunung, tapi rakyat yang disuruh membayar dengan dipalak lewat pajak.  Tingginya angka kemiskinan, pengangguran, dan PHK terus berlanjut. Selain itu kenakalan remaja di luar batas norma, tawuran, seks bebas, bullying (perundungan), miras, dll. Belum lagi sulitnya mengakses pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Ditambah politik makin memanas.

Sementara itu, SDA melimpah tetapi tidak bisa dinikmati rakyatnya karena dieksploitasi swasta, asing, dan aseng. Belum lagi korupsi trilliunan menguap. Sanksi hukum yang tidak adil. Anehnya, penguasa tidak berani menindak tegas, seperti yang pernah dijanjikan pada saat kampanye akan memberantas koruptor, nyatanya hanya omon-omon. 


Di sisi lain, DPR yang katanya wakil rakyat ternyata tidak becus bekerja, justru menjadi tempat sarangnya tikus berdasi dan mengkhianati rakyat. Bagaimana mungkin rakyat tidak marah? Jika permasalahannya sangat kompleks. Kebijakan yang dibuat selalu menyusahkan rakyat. Terbaru, malah memblokir rekening yang nganggur selama tiga bulan dan tanah terlantar selama dua tahun akan disita. Fatalnya, menyerahkan data pribadi WNI ke Amerika.


Seharusnya dengan adanya pengibaran bajak laut di momen HUT RI, negara muhasabah diri. Bahayanya jika negara terus abai dan lalai mengurus rakyatnya, bisa jadi banyak daerah semisal Irian dan Aceh juga akan mengibarkan benderanya sendiri, seperti Timor Leste lepas dari negara kesatuan Republik Indonesia.


Islam Menjamin Kemerdekaan Hakiki


Sebenarnya siapa yang sedang berlayar menjauh dari cita-cita kemerdekaan? Selama asas negara ini sekularisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan maka hakikat kemerdekaan itu tidak akan pernah ada. 


Sebab, kemerdekaan menurut Islam, adalah  menghilangkan penghalang penghambaan kepada selain Allah. Artinya hanya tunduk patuh sepenuhnya kepada Allah Swt.

Kemerdekaan seperti ini hanya bisa dicapai jika berlandasan akidah Islam yang sahih. Dengan melalui pemikiran yang mendalam, menyadari dirinya sebagai hamba Allah. Sehingga dapat memahami hakikat dan tujuan hidupnya. Juga menyadari di yaumil akhir akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban Allah. Karena itu,  perbuatannya akan senantiasa terikat dengan syariat-Nya, yakni menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya dengan penuh kesadaran.

Dengan demikian, hak-hak dan kewajiban individu, masyarakat, dan negara dapat terwujudkan.


Faktanya, di Indonesia juga di negara lainnya semua umat Islam belum merdeka. Karena tidak bisa menjalankan syariat Islam secara sempurna. Apa artinya peringatan kemerdekaan jika hanya seremonial yang menipu? Padahal berislam secara kafah (menyeluruh), adalah perintah Allah untuk seluruh umat Islam tak terkecuali negara. (QS. al-Baqarah [2]: 208). 


Saatnya kita kembali ke sistem Islam (Khilafah) yang meniscayakan  kemerdekaan hakiki. Sebagaimana negara pada umumnya, Khilafah juga memiliki bendera, yaitu ar-Rayah dan al-Liwa, warisan Rasulullah saw. 


Dalam hadis riwayat Imam at-Tirmidi, disebutkan ar- Rayah Rasulillah saw. berwarna hitam dan al-Liwa-nya putih, tertulis di dalamnya "Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah".


Para ulama dalam banyak kitabnya, di antaranya Imam Bukhari dan Ibnu Majah mengulas al-Liwa dan ar-Rayah tentang karaktetistik, kedudukan, dan fungsinya. Beliau para ulama menjelaskan bahwa kedua bendera tersebut menempati posisi yang agung sebagai simbol dalam kehidupan umat Islam sejak masa Rasulullah saw.


Setidaknya al-Liwa dan ar-Rayah sebagai simbol mempunyai empat makna, yaitu:

Pertama: Kalimat Laa Illaaha Illallah Muhammad Rasulullah, adalah inti ajaran Islam. Darinya terpancar keimanan pada perkara lain, yakni Iman kepada kenabian Muhammad, Al-Qur'an sebagai kalamullah, pada Malaikat, hari kiamat, dan qadha qadar.


Kedua, Sebagai pemersatu umat. Kalimat tauhid itulah yang mempersaudarakan sesama muslim seluruh dunia. Karena merasa akidahnya sama maka tidak memandang bangsa, suku, ras, dan bahasa. Allah "berfirman,  Sesungguhnya orang-orang muslim bersaudara." QS, al-Hujurat: 10)


Ketiga, Sebagai spirit dan arah perjuangan. Perjuangan, adalah dakwah Islam untuk menyeru umat manusia hingga mengimani Allah Swt. Lalu tunduk patuh pada syariat-Nya secara kafah. Artinya, membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata. Inilah kemerdekaan hakiki yang dimaksud dalam Islam.


Keempat: Sebagai identitas umat Islam. Semula ar-Rayah adalah panji-panji perang dan al-Liwa simbol kepemimpinan umum. Dalam perkembangannya, ar-Rayah dan al-Liwa menjadi simbol identitas dan pemersatu umat Islam seluruh dunia. Berbeda dengan bendera negara sekuler yang justru penyebab perpecahan. Karena sekupnya hanya nasional bahkan lokal sehingga malah menjadi belenggu dan menghalangi persaudaraan sesama muslim.


Alhasil, umat Islam wajib mengenal dan memahami substansi benderanya, yakni al-Liwa dan ar-Rayah bendera pemersatu warisan Rasulullah Saw. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa Khilafah dengan benderanya al-Liwa dan ar-Rayah berhasil mempersatukan dua pertiga wilayah dunia di bawah naungannya. Hanya Khilafah yang dapat  mewujudkan kemerdekan hakiki, karena aturannya bersumber pada Al-Qur'an dan As Sunnah.


Wallahualam bissawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update