Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menghidupkan Kembali Magrib Mengaji: Menjaga Warisan Islam di Tengah Zaman

Monday, July 07, 2025 | Monday, July 07, 2025 WIB Last Updated 2025-07-07T07:06:34Z
Menghidupkan Kembali Magrib Mengaji: Menjaga Warisan Islam di Tengah Zaman

Oleh : Khanza

 ( pelajar )



CIPARAY, Balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna akan mengeluarkan Instruksi Bupati terkait Program Magrib Mengaji bagi anak-anak. Instruksi ini menyusul dikeluarkannya Surat Edaran Bupati sebelumnya terkait Program Magrib Mengaji.


“Saya akan keluarkan Instruksi Bupati untuk menindaklanjut SE tentang himbauan diadakannya Program Magrib Mengaji,” kata Bupati Bandung saat menghadiri Haul Muassis Pondok Pesantren Al-Husaeni ke-4 di Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Selasa 17 Juni 2025.


Sebelumnya, saat pembukaan MTQH ke-39 tingkat Jawa Barat, di Dome Bale Rame Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (15/6/2025) malam, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengaku sudah menerbitkan Surat Edaran terkait program Magrib Mengaji di rumah atau madrasah masing-masing.


“Kalau Magrib Mengaji ini diterapkan di rumah atau madrasahnya masing-masing, insya Alah anak-anak Kabupaten Bandung tidak perlu dimasukan ke Barak Militer juga bakal nurut ke Pak Gubernur,” seloroh bupati Kang DS. Ia juga berharap agar Program Magrib Mengaji ini nantinya bisa diimplementasikan di seluruh Jawa Barat.


Menanggapi hal ini, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi sendiri mengaku dirinya pun menyayangkan hilangnya tradisi proses belajar membaca Al-Qur’an di masjid maupun surau.


Padahal dari proses mengaji di masjid itulah, kata gubernur, masuk perjalanan spiritualitas kedekatan guru ngaji melalui belajar mengajar Al- Qur’an, juga kedekatan dan kecintaan anak kepada masjid terjalin.


“Maka waktu magrib yang kurang lebih satu jam itu itu efektif untuk membangun tiga generasi yaitu generasi mengeja, narawas dan generasi quro . Sehingga anak-anak tidak lepas dari masjidnya,” ungkap Gubernur Jabar.


Gubernur menyayangkan tradisi mengaji di waktu magrib sampai isya saat ini sudah hilang. Begitu pula dengan tartil dalam mengaji. Tubuh berkembang TKA dan TPA dimana-mana turut menyebabkan sepinya masjid dari tradisi mengaji di magrib hari sehingga perasaan kedekatan dengan masjidnya pun makin memudar.


Sementara itu Ketua Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kabupaten Bandung KH Shohibul Ali Fadhil menyatakan DMI Kabupaten Bandung siap menggelar program Magrib Mengaji di Masjid, sesuai yang diharapkan Gubernur Jabar dan Bupati Bandung


“Dalam rangka memakmurkan masjid, maka tahun depan DMI Kabupaten Bandung akan menjadikan program mengaji di masjid, musholla, surau, tajuk langgar, menjadi program andalan atau program prioritas dari DMI,” kata Ali Fadhil.***


Kalau dilihat dari isi beritanya, sebenarnya ini langkah yang bagus dari pemerintah daerah. Tradisi Magrib Mengaji itu dulu kental banget, apalagi di kampung-kampung. Tapi sekarang makin lama makin hilang, anak-anak malah lebih sering nonton YouTube atau main game setelah magrib. Padahal waktu magrib itu waktu yang berkah, dan pas banget buat ngaji karena suasana hati biasanya lebih tenang.


Bupati dan Gubernur sama-sama menyadari kalau tradisi ini mulai pudar. Bahkan mereka juga kayaknya sadar bahwa TPA atau madrasah saja nggak cukup kalau di rumah atau masjidnya nggak ada kesinambungan. Nah, program ini sebenarnya bukan hal baru, tapi perlu ditekankan lagi supaya bisa jadi rutinitas dan budaya.


Yang menarik juga, Gubernur sempat nyinggung soal *"kedekatan anak dengan masjid"*. Ini penting, karena sekarang masjid udah kayak cuma tempat salat aja. Padahal dulu, masjid itu pusat ilmu dan akhlak juga. Anak-anak kalau akrab sama masjid, kemungkinan besar akhlaknya juga lebih terarah.


Dalam Islam, pendidikan agama sejak kecil adalah hal yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun...” (HR. Abu Dawud). Dari sini kita bisa lihat bahwa pendidikan agama itu bukan pilihan, tapi kebutuhan. Dan salah satu cara paling dasar adalah melalui mengaji—membaca, memahami, dan mencintai Al-Qur’an sejak dini. Magrib Mengaji adalah waktu yang pas untuk membiasakan hal itu. Di saat hari mulai tenang, setelah aktivitas selesai, justru saat itulah hati paling siap menerima ilmu.


Solusi pertama tentu adalah mengaktifkan kembali peran masjid sebagai pusat pendidikan, bukan hanya tempat shalat. Sejak zaman Rasulullah SAW, masjid digunakan sebagai tempat belajar, diskusi, bahkan strategi perang. Artinya, masjid harus jadi tempat yang hidup. Dewan Masjid dan masyarakat bisa bekerja sama mengatur program mengaji, dengan suasana yang ramah anak dan tidak kaku.


Solusi kedua adalah melibatkan orang tua dan lingkungan secara aktif. Anak-anak tidak akan datang ke masjid untuk mengaji kalau tidak ada dorongan dari rumah. Maka orang tua harus jadi contoh, paling tidak dengan mendampingi mereka, atau menyempatkan waktu melihat kegiatan mereka. Ini bukan hanya soal membaca Al-Qur’an, tapi juga soal menciptakan kebiasaan baik di rumah.


Ketiga, mengembangkan metode belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan zaman. Anak-anak sekarang hidup di era digital, jadi cara belajarnya juga harus kreatif. Misalnya dengan permainan edukatif, hafalan berhadiah, atau metode mengaji interaktif yang tidak membuat anak bosan. Selama tujuannya tetap membimbing mereka pada pemahaman Al-Qur’an, metode yang digunakan bisa fleksibel dan inovatif.


Yang terakhir, menguatkan nilai spiritual dan cinta kepada masjid. Tujuan utama dari Magrib Mengaji bukan cuma supaya anak-anak bisa baca Al-Qur’an, tapi juga agar mereka merasa nyaman dan dekat dengan masjid. Kalau sejak kecil mereka sudah akrab dengan masjid, besar kemungkinan mereka akan tumbuh jadi remaja dan dewasa yang tidak jauh dari nilai-nilai Islam.


Pada akhirnya, Magrib Mengaji bukan sekadar program, tapi upaya bersama untuk menjaga warisan keislaman dan membentuk generasi yang berakhlak Qur’ani. Dengan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, orang tua, dan masyarakat, insyaAllah tradisi ini bukan hanya bisa hidup kembali, tapi juga bertumbuh jadi kebiasaan baik yang mendatangkan keberkahan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update