Oleh: Fenliyati
(Pegiat Dakwah)
Bukti betapa lemahnya Umat Islam saat ini salah satunya ialah dengan masih berlangsungnya genosida di Gaza. Ini sungguh tragedi yang sangat memilukan sepanjang abad ini. Padahal jumlah umat muslim di seluruh dunia diperkirakan sekitar 25% dari total populasi dunia. Sebuah angka yang luar biasa besar, tetapi sayang, di salah satu wilayah umatnya dizalimi sedemikian kejinya tanpa ada pembelaan hakiki dari sesama umat muslim di dunia.
Umat Islam menyaksikan secara langsung, setiap hari dari beberapa tahun terakhir Gaza terus dibombardir tiada henti. Bahkan, setiap menit nyawa manusia melayang. Anak-anak tak berdosa menjadi korban, banyak ibu kehilangan anaknya, rumah hancur, masjid-masjid luluh lantah rata dengan tanah. Bahkan rumah sakit yang menjadi tujuan akhir mereka di Gaza tidak luput dari serangan bom dari berbagai arah.
Apakah Umat Islam tidak tersentuh hatinya dengan melihat setiap hari angka korban tewas di Gaza bahkan terus bertambah. (CNBCIndonesia, 29 ).
Sangat disayangkan tidak satu pun negara muslim di sekitar Palestina mau menolong secara tuntas dan ikhlas atau sekadar memberi kemudahan akses bantuan logistik makanan atau obat-obatan. Semua pintu menuju Gaza diblokade total. Tidak ada yang bisa menghentikan kejahatan yang terus berlangsung atau sanksi tegas terhadap genosida ini. Lebih miris lagi, ketika negara-negara Islam di sekitar Gaza hanya menyaksikan kekejian ini.
Perpecahan umat Islam sesungguhnya, mulai terjadi saat ada perjanjian Sykes-Picot dilatarbelakangi oleh Perang Dunia l. Perjanjian Sykes-Picot yang dibuat pada tahun 1916 oleh Inggris dan Perancis Yaitu berupa fakta rahasia yang bertujuan untuk membagi wilayah Timur Tengah pasca Ottoman menjadi wilayah di bawah pengaruh Inggris dan Perancis.
Hal di atas mengakibatkan negara-negara di Timur Tengah terpecah dan wilayahnya dibagi menjadi negara-negara kecil di bawah kekuasaan Inggris dan Perancis. Karena Eropa memandang bahwa ketika kesatuan umat Islam dipimpin oleh Khilafah telah mampu menguasai 2/3 wilayah di dunia. Di mana tentu ini menjadi ancaman untuk keberlangsungan dominasi bangsa Eropa di dunia. Maka setelah runtuhnya kekuasaan Utsmaniyah pada tahun 1924, tentu sejak saat itu umat Islam menjadi terpecah belah. Setelah wilayah muslim terbagi-bagi menjadi negara-negara kecil, umat Islam hingga kini tidak bisa lagi bersatu. Arab sibuk dengan kepentingannya memperkuat perdagangan setelah menemukan cadangan minyak. Begitu juga negara-negara di sekelilingnya, mereka semua hanya mengutamakan untuk negaranya saja, Solidaritas umat Islam pun mulai hilang perlahan.
Inilah yang membuat umat Islam sekarang kehilangan sosok yang bisa menyatukan umat kembali. Sehingga, Gaza seolah hanya berjuang sendiri. Sementara negara-negara muslim di sekitar Palestina bungkam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Yordania hanya bisa menggelar demo saja, Mesir justru memblokade akses ke Rafah.
Perjanjian Sykes-Picot merupakan puncak yang menimbulkan kemunduran umat Islam.
Presiden Turki Erdogan seolah merasa takut muncul perintah baru dalam perjanjian Sykes-Picot dalam perang Iran-Israel (sindonews, 22 Juni 2025). Beliau meminta negara-negara muslim untuk meningkatkan upaya mereka dalam memberlakukan tindakan hukum kepada Israel berdasarkan hukum internasional dan resolusi perserikatan bangsa-bangsa.
Bisa dilihat dari sini, itulah mengapa umat Islam harus bersatu dan membutuhkan seorang pemimpin. Hal ini agar bisa menyatukan kembali umat Islam di seluruh dunia.
Umat Islam itu bersaudara seperti halnya tubuh. Jika ada salah satu tubuh yang sakit, maka yang lain akan merasakan juga. Demikian sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Hujurat [49] ayat 10, "Sungguh kaum mukmin itu bersaudara. Karena itu, perbaikilah hubungan diantara kedua saudara kalian itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat."
Allah Swt juga telah memerintahkan kaum muslim untuk bersatu, tidak terpecah belah. Demikianlah sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surah Ali Imran [3]:103, "Berpegangteguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan terpecah belah."
Ini menunjukkan bahwa adalah sebuah kewajiban umat Islam untuk menerapkan hukum Allah di seluruh aspek kehidupan secara menyeluruh, tanpa dipilih-pilih tentunya melalui negara yang berdasarkan syariat Islam. Hal ini sudah dicontohkan ketika nabi wafat. Setelah nabi wafat para sahabat berkumpul untuk mendiskusikan agar segera mengisi kekosongan pemimpin setelah ditinggalkan nabi saw, maka pada saat itu Abu Bakar Ash-Shiddiq ditunjuk sebagai pemimpin umat muslim saat itu setelah wafatnya nabi saw. Para sahabat belum menguburkan jenazah beliau sebelum membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mengingat ini masalah yang genting dan harus diselesaikan sehingga pengurusan jenazah Nabi saw. sampai ditunda.
Rasulullah saw juga banyak menekankan persaudaraan umat Islam di dalam as-sunnah. Beliau bersabda, "Orang mukmin dengan mukmin lain bagaikan bangunan. Masing-masing menguatkan satu sama lain." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Selanjutnya bahwa kepimpinan Islam wajib berada di bawah seorang pemimpin yaitu khalifah. Beliau bersabda, "Jika dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah yang terakhir di antara keduanya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Hadis di atas memperjelas bahwa hanya diperbolehkan ada satu khalifah, tidak boleh ada dua pemimpin di negara Islam.
Selanjutnya betapa pemimpin di negara Islam akan mampu menggerakkan persatuan umat Islam di dunia dengan kekuatan militer gabungan seluruh dunia. Ditambah dengan upaya jihad dalam membela umat muslim yaitu khususnya yang ada di Palestina.
Islam juga akan mampu membawa dunia dari ketergantungan badan-badan yang dibuat oleh pihak asing seperti PBB. Seperti diketahui sebelumnya, PBB tidak mampu menghentikan genosida di Palestina. Hanya Islam yang perkasa membebaskan Palestina dari kejahatan Israel.
Dengan izin Allah Swt, umat Islam harus yakin betapa perjuangan dan kesungguhan dakwah khilafah, akan menjadikan Islam kembali tegak. Di samping itu, Islam mampu membawa perdamaian, kemuliaan yang hakiki, kesejahteraan, dan seterusnya. Umat Islam pun akan bersatu dalam seluruh aspek kehidupan yang lain. Ini merupakan sistem pemerintahan yang dicontohkan nabi. Dari bentangan massa sudah membuktikan betapa umat dapat bersatu hanya di bawah naungan sistem Khilafah. Semoga umat Islam di seluruh dunia akan mengembalikan solidaritas umat Islam yang telah lama hilang.
Wallahu alam.
No comments:
Post a Comment