Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jual Beli Bayi Merebak, demi Meraih Materi

Tuesday, July 29, 2025 | Tuesday, July 29, 2025 WIB Last Updated 2025-07-28T23:19:40Z



Oleh Sujilah

Aktivis Muslimah


Kelahiran seharusnya menjadi awal kehidupan yang disambut dengan cinta dan harapan. Namun, di tengah dunia yang kian tunduk pada logika materi, tak sedikit bayi yang bahkan belum sempat menatap dunia sudah "dipajang" di etalase digital untuk dijual. Dari pelukan ibu, mereka berpindah ke tangan orang asing, bukan sebagai anak yang dicintai, tapi sebagai objek transaksi. 


Dilansir dari media Tribunjabar.id, pada Kamis 17 Juli 2025, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat berhasil mengungkap praktik perdagangan bayi lintas negara yang dijalankan oleh sindikat terorganisir. Sedikitnya 25 bayi dilaporkan telah dijual ke Singapura, sebagian besar berasal dari wilayah Bandung.


Kasus ini terbongkar setelah ada  orangtua yang  melapor kepada polisi dengan klaim penculikan anak. Namun, hasil penyelidikan justru mengungkap fakta mengejutkan, pelapor berniat menjual bayinya dengan imbalan Rp10 juta hingga Rp16 juta. Sayangnya, bayi tersebut hanya dihargai Rp600 ribu dan kemudian dibawa ke penampungan anak di Pontianak. Dari pengembangan penyidikan, polisi menetapkan 12 tersangka dengan peran beragam, mulai dari perekrut awal, perawat, penampung, pembuat dokumen palsu, hingga kurir pengantar bayi ke lokasi tujuan.


Kasus ini mendapat sorotan tajam dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Jawa Barat. Mereka menilai kasus ini sebagai bukti lemahnya sistem perlindungan anak dan keluarga, khususnya di kalangan masyarakat rentan secara ekonomi dan sosial.


Keprihatinan juga disampaikan oleh DPRD Kabupaten Bandung. Wakil Ketua DPRD, Akhiri Hailuki, menyebut perdagangan bayi ini merupakan dampak dari rapuhnya kondisi sosial ekonomi, maraknya pernikahan dini, dan pergaulan bebas di kalangan remaja. Ia mendorong penguatan program perlindungan anak, edukasi keluarga, serta pengawasan pernikahan dini di tingkat desa dan kecamatan.


Fitrah Ibu yang Mati dalam Pelukan Kapitalisme

Praktik Perdagangan  bayi ini menunjukkan betapa dalamnya krisis kemanusiaan yang sedang dihadapi. Ketika seorang ibu yang secara fitrah seharusnya menjadi pelindung dan penjaga kehidupan anaknya, justru menyerahkan buah hatinya demi sejumlah uang, maka yang mati bukan hanya empati, tetapi juga fitrah keibuan yang suci. Inilah potret buram zaman ketika kapitalisme telah merenggut rasa kemanusiaan dari akar terdalamnya.


Sistem kapitalisme hari ini telah melahirkan generasi yang memandang hidup semata dari aspek materi. Ketika kebutuhan dasar tak terpenuhi, ketika negara gagal hadir untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya, maka ruang keputusasaan terbuka lebar. 


Dalam kondisi itu, tak sedikit perempuan terutama yang berada dalam tekanan ekonomi dan relasi sosial yang rapuh mengambil keputusan di luar akal sehat dan batas kemanusiaan. Bayi-bayi itu bukan ditinggalkan karena tak diinginkan, tetapi karena sistem ini tidak menyediakan pilihan yang layak untuk tetap mempertahankan mereka dalam hidup yang bermartabat.



Perdagangan bayi bukan sekadar persoalan kemiskinan atau pernikahan dini seperti yang sering dijadikan kambing hitam. Ia adalah hasil dari sistem sosial dan ideologi sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Seks bebas, kehamilan di luar nikah, aborsi, pembuangan bayi, semua menjadi rantai persoalan yang saling terkait dalam lingkaran setan yang ditopang oleh nilai-nilai kebebasan tanpa tanggung jawab dan kerakusan materialisme. Ketika iman menjadi barang langka, dan agama hanya sekadar ritual individual, maka keputusan menjual bayi bisa terasa "masuk akal" bagi mereka yang disudutkan oleh keadaan.


Fitrah keibuan tidak akan mungkin bertahan dalam sistem yang mematikan nilai-nilai ruhiyah. Seorang ibu yang berjuang sendirian, tanpa dukungan keluarga, masyarakat, atau negara, akan mudah rapuh ketika beban hidup terlalu berat. Apalagi jika segala solusi yang tersedia hanyalah jalan pragmatis yang didorong oleh logika pasar. Dalam kapitalisme, anak bukan lagi amanah, tetapi bisa diperlakukan sebagai aset yang bisa dilepas jika tak menguntungkan.


Sudah saatnya kita tidak lagi melihat kasus semacam ini sebagai “urusan pribadi” atau “kesalahan individu.” Ini adalah kegagalan kolektif dari sebuah sistem yang menuhankan uang, membiarkan kebebasan tanpa batas, dan mencabut agama dari peran sosialnya.


Islam Memuliakan Ibu, Menjamin Anak, dan Menghapus Nestapa


Berbeda dengan Islam yang hadir sebagai sistem hidup yang menjunjung tinggi kemuliaan perempuan, menjamin hak anak, dan memikul tanggung jawab negara atas kesejahteraan seluruh rakyatnya. Dalam pandangan Islam, ibu adalah pusat peradaban. Ia bukan hanya sosok yang melahirkan, tetapi juga pendidik generasi dan penjaga rumah tangga. Islam tak membebani perempuan sebagai pencari nafkah utama, karena tanggung jawab itu ada di pundak suami dan negara.


Ketika seorang perempuan melahirkan, Islam menganggapnya sebagai jihad pengorbanan suci yang penuh kemuliaan. Anak yang lahir bukan beban, melainkan amanah yang dijaga dengan kasih sayang dan dijamin kehidupannya oleh negara. 


Negara dalam sistem Islam bukan sekadar pengatur, tapi pelayan dan pelindung sejati rakyatnya. Kebutuhan pokok makanan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan wajib dipenuhi. Negara menyediakan lapangan kerja yang layak bagi laki-laki agar mampu menafkahi keluarganya, serta mengelola kekayaan alam untuk kesejahteraan umat, bukan untuk segelintir elit.


Dengan penerapan sistem Islam secara Kaffah, tidak akan ada ibu yang menjual bayinya karena lapar. Tidak ada anak yang dibuang karena dianggap beban. Dan tidak ada rahim yang dikomersialkan karena putus asa. Islam menghapus nestapa bukan dengan solusi tambal sulam, tetapi dengan sistem yang utuh yang berasal dari wahyu Allah Swt., dan telah terbukti selama berabad-abad menyejahterakan manusia.


Sudah saatnya umat kembali pada aturan yang memuliakan manusia, bukan sistem yang memerasnya. Karena hanya dengan Islam, ibu dimuliakan, anak dijamin, dan nestapa dihapus dari muka bumi.


Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update