Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dekadensi Moral Makin Drastis, Butuh Islam Sebagai Problem Solving

Saturday, July 26, 2025 | Saturday, July 26, 2025 WIB Last Updated 2025-07-26T01:21:30Z


Oleh: Sarinah


 Media sosial tengah diramaikan oleh kemunculan tren 'S Line' yang menarik perhatian warganet. Banyak pengguna membagikan foto dengan garis merah di atas kepala.


 Tren ini berawal dari tayangan drama Korea (DRAKOR) terbaru yang berjudul

'"S Line" dimana salah satu karakter dapat melihat garis-garis merah di atas kepala orang-orang di sekitarnya.


Meski terlihat simpel, simbol garis merah itu ternyata menyimpan makna yang sensitif. Sayangnya tren ini ramai diikuti warganet tanpa mengetahui latar belakang dan makna sebenarnya dari garis merah tersebut (detiksulsel 20 Juni 2025).


Dalam drama S Line, garis merah di atas kepala ini disebut sebagai "S Line atau sex Line". Garis ini bukan sekedar elemen visual melainkan simbol tak kasat mata yang menghubungkan seseorang dengan pasangan seksualnya. Jika seseorang memiliki satu atau lebih garis merah di atas kepalanya hal itu merepresentasikan jumlah individu yang pernah terlibat hubungan intim dengannya.


Jika diperhatikan lebih detail hal ini menunjukkan adanya dekadensi moral dalam gaya hidup sekuler dan liberal.


Fenomena ini sesungguhnya adalah potret jelas kehidupan sekuler hari ini, dimana nilai-nilai agama dikesampingkan digantikan oleh viral atau tidaknya sebuah konten.


Banyak kalangan yang justru mengikuti tren tersebut bahkan hal tersebut dijadikan bahan candaan bahkan komentar yang mengarah pada pengakuan terbuka atas sesuatu yang sejatinya itu adalah sebuah aib.


Dalam pandangan Islam aib adalah sesuatu yang harusnya ditutupi bukan dibuka atu dijadikan bahan lelucon.

Rasulullah saw bersabda " setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang secara terang-terangan melakukan dosa" (HR Al-Bukhari).


Dalam kehidupan saat ini, manusia merasa bebas mengekspresikan segala perbuatannya. Viralnya di media sosial akan menjadikan mereka merasa bangga, meskipun dalam konten yang rusak. Inilah wajah asli liberalisme yakni mengedepankan nilai kebebasan, tak peduli apakah itu melanggar norma agama maupun norma hukum. Liberalisme adalah hasil dari Kapitalis sekularisme yang senantiasa berbuat atas dasar manfaat. Selama ada manfaat dan dapat meraih materi, maka viral dalam hal apapun adalah sesuatu yang harus dikejar. 


Tak hanya itu, adanya normalisasi terhadap konten-konten negatif inilah yang turut andil membuat media sosial saat ini tak terkontrol. Hal ini terlihat jelas dalam banyaknya konten berisi pengakuan pernahnya berzina, jones soal seks bebas, bahkan kebanggaan karena tidak lagi perawan atau perjaka. Di sisi lain  jumlah pengidap penyakit HIV meningkat.


Sungguh ini adalah suatu hal yang miris, yang seharusnya tidak terjadi di negari yang mayoritas penduduknya adalah muslim.


Rasa malu mulai terkikis dalam setiap individu masyarakat, normalisasi atas perbuatan kemaksiatan, dan tidak dipakainya hukum Allah dalam kehidupan adalah faktor utama yang menyebabkan kerusakan itu terjadi. 


Padahal zina adalah jelas tindakan yang dilarang oleh Allah. Allah berfirman dalam surah Al isra' ayat 32 yang artinya " Dan janganlah kamu mendekati zina, (sungguh) zina adalah suatu perbuatan keji dan (suatu) jalan yang buruk".


 Allah telah melarang manusia dari perbuatan zina, oleh karena sebagai seorang muslim yang bertakwa sudah seharusnya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan kembali kepada hukum yang telah Allah tetapkan.

Allah berfirman dalam Al-Maidah ayat 50 yang artinya, " Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?

(Hukum) siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya). Sudah seharusnya hukum yang diterapkan adalah hukum Allah, satu-satunya hukum yang benar bagi manusia dan seluruh alam semesta.

Allahu a'lam bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update