Oleh Ai Ita Komunitas Ibu Peduli Generasi
Pencari nafkah utama dalam rumah tangga, adalah laki-laki. Istilah famele breadwinner, sebuah gambaran, yang sering digunakan zaman modern ini. Yaitu, adanya perubahan peran gender dalam masyarakat. Baik secara mandiri atau bersama pasangan.
Pandangan umum terhadap wanita pada hakikatnya, wanita dilahirkan untuk menjadi Ibu, atau seorang Istri. Tetapi sekarang, sudah berubah dan berganti. Yaitu, menghilangkan kodratnya sebagai ummu warabatul bait. Memilih bekerja, dengan alasan, kondisi keuangan yang memaksa mengharuskan seorang ibu, istri akhirnya menjadi tulang punggung.
Habis waktunya dalam mencari nafkah, mengurus anak, rumahnya, juga mengurus suaminya. Aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran. Maka tak heran, banyak diantara seorang Ibu, atau istri di zaman sekarang mereka lupa mencari ilmu. Karena waktunya, habis untuk mengais rezeki dengan bekerja.
Mengutip dari laman medsos bahwa, seorang wanita memilih bekerja setelah menikah, akan menjadi sosok teladan dan inspirasi bagi sesama wanita. Terutama anak-anaknya. Hal ini bisa mencerminkan bahwa bekerja setelah menikah membuat seorang wanita jadi terlihat lebih hebat, percaya diri, mandiri, dan kuat. Kontan.co.id (1/8/2024)
Dari berita tersebut, respon positifnya. Alangkah baiknya jika memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Jika kita memahami betapa berharganya peran seorang ibu rumah tangga, maka kita bisa menyadari bahwa keputusan untuk fokus pada keluarga dan rumah tangga adalah pilihan yang cerdas dan penuh makna.
Seorang istri atau ibu yang memilih untuk mengabdikan dirinya pada keluarga dan rumah tangga patut dihargai dan dimuliakan. Begitu pula dengan suami yang menghargai dan mendukung peran istrinya sebagai ibu rumah tangga, menunjukkan kesadaran akan pentingnya peran tersebut dalam menjaga keharmonisan keluarga.
Identitas sebagai ibu rumah tangga, harus dibanggakan oleh seorang wanita. Karena menjadi ibu bagi anak-anak adalah karir mulia seorang wanita. Kita jangan minder, dan bersosialisasilah dengan sesama. Walaupun, tidak memiliki titel, dan jabatan disuatu perusahaan. Profil ibu rumah tangga adalah status utama.
Menjadi penulis, pengajar, dokter, atau profesi lainnya adalah tambahan dari peran utama sebagai ibu rumah tangga. Peran ibu rumah tangga adalah fondasi yang kuat dalam membentuk keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berakhlak baik.
Hidup di sistem sekuler kapitalis, telah berhasil merubah semua itu. Betapa miris dan kejam, seharusnya seorang ibu atau seorang istri itu dimuliakan, dibahagiakan oleh seorang suami. Karena suami, bertanggung jawab sebagai penanggung nafkah dan sebagai seorang pencari rezeki.
Mungkin bukan salah suami, tapi karena sistem saat ini di mana lapangan kerja disusahkan untuk kaum pria banyak seorang ibu seorang istri yang bekerja di pabrik-pabrik banyak seorang perempuan menjadi seorang pedagang. Bahkan banyak pula seorang perempuan yang menjual harga dirinya untuk memenuhi kebutuhan. Hidupnya demi anak dan keluarganya
Banyak fakta lain di antara kita menjadi TKW atau TKI, menjadi seorang pembantu rumah tangga. Lantas sampai kapankah semua ini akan berlalu?
Namun, di era sekuler kapitalis saat ini, banyak wanita yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja keras di luar rumah, baik sebagai penjual, pebisnis, maupun buruh pabrik. Hal ini terjadi karena adanya tekanan ekonomi dan perubahan nilai-nilai sosial.
Di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kita melihat contoh istimewa dari Siti Khadijah, seorang pengusaha sukses yang kaya raya namun tetap menjalankan peranannya sebagai istri dan ibu dengan penuh dedikasi. Beliau adalah contoh nyata dari seorang wanita yang berjihad di jalan Allah dengan menjalankan bisnisnya dengan jujur dan adil.
Sebenarnya, wanita memiliki kebutuhan yang lebih dari sekadar nafkah materi, yaitu kebutuhan akan kasih sayang, perhatian, dan kebahagiaan dalam keluarga. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam yang menyeluruh, sehingga kita dapat menemukan keseimbangan antara mencari rezeki dan menjalankan peran keluarga dengan baik.
Solusinya adalah dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang Islam, serta berusaha untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih seimbang dan harmonis, di mana wanita dapat menjalankan perannya dengan baik dan bahagia.
Banyak tokoh besar dan ulama terkemuka yang lahir dari rahim ibu-ibu tangguh yang menjalankan peranannya sebagai ibu rumah tangga dengan penuh dedikasi. Ibu-ibu salehah ini telah memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak-anaknya, termasuk para imam mazhab seperti Imam Syafi'i, Imam Hambali, Imam Maliki, dan Imam Hanafi.
Perjuangan dan keteladanan mereka dalam mendidik anak-anaknya patut menjadi inspirasi bagi kita semua. Melalui kisah-kisah mereka yang tercatat dalam sejarah dan kitab-kitab klasik, kita dapat belajar tentang pentingnya peran ibu dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berilmu.
Indah dan damai rasanya rumah tangga seperti itu. Lantas, Ibu rumah tangga seperti apa yang bisa demikian? Yang pasti, bukan sembarangan ibu rumah tangga. Apa yang membersamainya, secara kontinyu terus belajar membakali diri dengan ilmu dan pengetahuan Islam. Tiada lain demi sang buah hati, agar terbentuk kepribadian yang berkulitas
baik dari sisi intelektual, attitude ataupun spiritualitasnya.
Agar menjadi lebih baik, khususnya bagi seorang wanita. Mari kita bersama-sama mengkaji Islam secara mendalam. InsyaAllah akan lebih terhormat dan mulia, dari wanita dalam famele breadwinner
Wallahu'alam bishawab
No comments:
Post a Comment