Oleh Novie M.
Belakangan ini, kita kembali dikejutkan dengan sejumlah peristiwa yang mencerminkan kondisi mental masyarakat yang mengkhawatirkan. Seorang karyawan nekat membunuh bosnya lalu menggasak uang korban. Seorang wanita diteror mantan kekasihnya dengan ancaman mutilasi hanya karena hubungan diputus. Seorang pemotor membanting sopir truk hingga tulang punggung korban retak, hanya karena tersenggol.
Kekerasan demi kekerasan terjadi dengan pemicu yang sepele namun berdampak fatal. Ini bukan hanya soal kriminalitas, tapi juga potret kegagalan sistem dalam membina manusia yang tangguh secara mental dan spiritual.
Sistem kehidupan saat ini, yang dibangun di atas asas sekularisme dan kapitalisme, cenderung menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama. Ketika standar hidup hanya bertumpu pada materi, maka ketika kesenangan dunia tidak tercapai, sebagian orang memilih jalan pintas, bahkan yang ekstrem, seperti kejahatan dan kekerasan.
Kita butuh sistem kehidupan yang tidak hanya menyejahterakan secara ekonomi, tapi juga membina kepribadian. Dalam Islam, pendidikan berbasis akidah menjadi fondasi utama. Sejak dini, anak-anak diajarkan mengenal tujuan hidup, memahami bahwa ujian adalah bentuk cinta Allah, serta belajar bersabar dan menyikapi musibah dengan cara yang benar. Pola pikir dan pola sikap pun akan terbentuk secara islami.
Negara juga berperan penting. Tidak cukup hanya mengandalkan pembinaan individu, tapi perlu sistem yang kokoh untuk menjaga masyarakat agar tidak hanyut dalam arus liberalisme dan hedonisme. Oleh karena itu, membangun kembali sistem hidup berdasarkan syariat Islam adalah solusi jangka panjang yang layak diperjuangkan. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dan berkontribusi dalam perubahan ke arah yang lebih baik.

No comments:
Post a Comment