Oleh : Siti Rukayah, S.P
Diskusi dalam rangka menegaskan Komitmen Kota Bontang memperkuat perlindungan perempuan dan anak telah terselenggarakan di Kantor Gubernur Kalimantan Timur. Dalam diskusi tersebut dihadiri oleh Neni Moerniaeni selaku Wali Kota Bontang bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi. (Sabtu, 10/5/2025)
Neni Moerniaeni menjelaskan seputar rencana jangka panjang yang dipertimbangkan dapat memperkuat sistem perlindungan sosial di daerah, dalam penyampaian tersebut diikuti juga oleh Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud dan perwakilan pemerintah kabupaten/kota se-Kaltim.
"Ada tiga strategi utama yang kami usulkan untuk penguatan perlindungan anak dan perempuan di Bontang dan Kaltim," kata Wali Kota Neni.
Pertama, kurikulum pendidikan usia dini berupa integrasi pendidikan keluarga dan pengasuhan. Kedua, perlunya mencegah perilaku berisiko sejak dini dengan pelaksanaan kelas manajemen emosi untuk anak dan remaja. Ketiga, perlu adanya penguatan dan pengembangan layanan daycare (lembaga pengasuhan anak) yang ramah anak dan keluarga.
Tidak hanya terdapat tataran konsep, Wali Kota perempuan pertama di Bontang itu juga menyampaikan program unggul andalan daerah tersebut, yakni "Tengok Tetangga".
Program tersebut dijalankan oleh Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PPATBM). Dengan melalui gotong royong dan komunitas sebagai cara pendekatan, program tersebut terbukti dapat mengurangi angka kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan narkoba dapat dicegah, serta mampu menekan prevalensi stunting.
"Program ini lahir dari kearifan lokal. Dengan saling menjaga lingkungan sekitar, masyarakat secara aktif menjadi garda terdepan perlindungan anak dan perempuan," ujar Wali Kota Bontang.
Wali Kita Bontang turut menyampaikan harapan di akhir paparannya agar pemerintah pusat dapat menambah alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Dengan adanya tambahan dana tersebut menurutnya sangatlah penting agar dapat memperluas jangkauan program pendampingan dan advokasi korban kekerasan.
"Jika DAK dinaikkan, pemerintah daerah bisa bekerja lebih optimal dalam menciptakan sistem perlindungan yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Neni (Minggu, 11/5/2025)
Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Bontang hadir didampingi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Lukman, selain itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Bontang, Eddy Forestwanto turut hadir beserta jajarannya.
Strategi yang dijabarkan di atas sebenarnya patut diapresiasi, namun jika tanpa berbasis agama/akidah apakah akan dapat berjalan? Strategi tersebut bagus namun landasan yang digunakan masih menganut sistem kapitalis-sekuler (berasaskan manfaat dan dipisahkan dari nilai agama) maka hal tersebut tidak akan mampu melindungi perempuan dan anak dikarenakan akar permaslahan adalah sistem itu sendiri.
Strategi serta program tersebut butuh untuk direalisasikan di lapangan, namun jika bergantung pada dana tanpa adanya kesadaran maka didapati tidak akan mampu bertahan lama. Sehingga perlu keberadaan dari dukungan individu, keluarga masyarakat, begitu juga negara.
Akan berbeda kondisinya jika sebuah negara dilandaskan dengan Islam dalam sistem penerapannya. Islam akan melindungi perempuan dan anak tentunya dengan support sistem yang mendukung. Dengan cara perempuan dan anak dipenuhi segala kebutuhannya yakni berupa perlindungan, tentunya tidak hanya perlindungan secara fisik, berikut juga akal dan akidahnya.
Tiga pilar di dalam Islam (iman, Islam, Ihsan) yakni dengan pendidikan aspek akidah, akhlak, syariat, dan ibadah maka dengan itulah mampu menjaga perempuan dan anak jauh dari adanya kekerasan.
Islam memiliki mekanisme bagaimana melakukan perlindungan terhadap perempuan yang tentu sifatnya menyeluruh. Pertama, pembentukan individu yang beriman dan bertakwa, sehingga manusia akan memiliki rasa takut kepada Allah SWT, yakni rasa takut akan dosa sebagai kontrol untuk mencegah seseorang melakukan pelanggaran.
Kedua, adanya peran negara mencegah media yang mengandung pornografi. Dan ketiga, perlu adanya sistem pendidikan Islam yang berasaskan akidah, tidak hanya mencerdaskan tetapi juga menumbuhkan keimanan dan ketakwaan.
Selain itu Islam juga membuktikan dalam sejarahnya bagaimana melindungi martabat seorang perempuan. Salah satu contohnya adalah kisah Khalifah Mu'tashim Billah yang mengerahkan pasukan untuk mengepung kota Amuriah untuk melindungi seorang muslimah yang telah dilecehkan oleh orang Yahudi.
Dan tentunya kita hanya dapat kondisi yang aman bagi perempuan dan anak, hanya dapat terealisasikan jika kita kembali kepada Islam sebagai pengatur kehidupan secara menyeluruh (Kaffah).
[Wallahu a'lam bisshowab]
.jpg)
No comments:
Post a Comment