Di Kota Padang yang katanya madani, rupanya menjadi warga miskin masih belum otomatis bikin kita dianggap layak untuk diselamatkan. Karena di RSUD Rasidin, tampaknya ada sistem seleksi yang ketat: kalau kamu rakyat kecil, bawa KIS, datang dini hari naik ojek online, dan masih berani sakit... ya siap-siap saja ditolak secara halus. Atau, kalau sedang apes, secara halus tapi mematikan.
Kisah almarhumah Desi Erianti seharusnya bikin kita semua malu—tapi sayangnya yang malu cuma netizen dan keluarganya. Yang lain? Masih sibuk menyusun alasan administratif. "KIS-nya tidak bisa diproses," katanya. "Obatnya tidak ditanggung," katanya lagi. Ya ampun, Desi cuma sakit, bukan mau kredit !.
Desi datang tengah malam. Bukannya dikasih perawatan, dia malah disarankan pulang. Tanpa obat. Tanpa harapan. Kalau begini caranya, nanti kita rakyat kecil mending bikin janji langsung sama malaikat Izrail, karena setidaknya dia tak pernah menolak siapa pun. Gratis pula.
DPRD pun marah. Hebat! Tapi... marahnya di ruang rapat, bukan di ruang tindakan. Mereka bilang sistem harus dievaluasi. Tapi kami, rakyat miskin, sudah terlalu sering jadi bahan percobaan dari sistem yang "sedang dievaluasi". Hasilnya? Ya seperti Desi—jadi korban, bukan pasien.
Seorang anggota dewan sampai harus menjelaskan logika paling dasar: “Kalau orang datang ke rumah sakit jam 1 pagi naik ojek, masa iya cuma mau jalan-jalan?” Nah itu dia! Kami datang bukan untuk wisata medis, Pak. Kami datang karena sakit. Karena butuh. Tapi tampaknya sekarang, kalau mau dirawat di rumah sakit, bukan cuma harus sakit, tapi juga harus kaya, lengkap berkas, dan lulus ujian administratif.
BPJS ikut bicara: “Semua warga Padang dijamin.” Tapi entah kenapa, jaminan itu rasanya kayak sinyal Wi-Fi di kampung: katanya ada, tapi pas dicari hilang terus.
Lucunya, setelah semua kejadian ini, RSUD menyampaikan belasungkawa. Terima kasih, tentu. Tapi sayang, yang Desi butuhkan bukan belasungkawa—dia cuma butuh disuntik, bukan disuntik mati.
Jadi begini, wahai para pejabat dan petugas kesehatan:
Kalau belum bisa menolong, minimal jangan menolak. Kalau belum bisa menyelamatkan, minimal jangan menyuruh pulang.
Dan kalau sistem kalian masih hobi bikin orang mati, mungkin sudah saatnya sistem itu ikut dikubur.
Catatan Akhir:
Di negara ini, menjadi miskin adalah risiko hidup. Tapi sekarang, rupanya...
Menjadi sakit saat miskin adalah risiko mati.

No comments:
Post a Comment